Jumat, 23 Desember 2016

Mengapa Agus Kerap "Merajai" Berbagai Survei?

[​IMG]

Sejauh ini, sudah ada 6 lembaga yang telah mengeluarkan hasil survei terhadap elektabilitas para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang bersaing dalam PilkadaDKI 2017. Keenam lembaga itu adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA), Lembaga Survei Indonesia, Charta Politika, Poltracking, Indikator, dan Litbang Kompas.


Hampir semua survei menempatkan pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni di urutan pertama. Elektabilitas mereka disebut lebih tinggi daripada pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Mengapa Agus?

Pengamat politik Yunarto Widjaja mengatakan, memang ada tren kenaikan elektabilitas yang dialami pasangan Agus dan Sylviana.

"Kalau Agus trennya naik itu iya, ada tren penurunan Ahok itu juga iya. Anies cenderung stagnan. Kenapa itu terjadi?" kata Yunarto kepada Kompas.com, Rabu (21/12/2016).

Yunarto mengatakan alasan pertama adalah Agus memiliki kesempatan lebih besar untuk menaikan elektabilitas dengan cara pengenalan. Dibandingkan dengan Ahok dan Anies, Agus merupakan calon yang sebelumnya paling tidak dikenal sebelum pendaftaran Pilkada.

Hal itu justru bagus bagi Agus karena memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal oleh warga.

"Ini tidak dimiliki Ahok dan Anies karena tingkat pengenalan mereka sudah mentok. Sementara Agus masih memiliki peluang. Logikanya ketika peluang pengenalan naik, maka elektabilitas juga naik," kata Yunarto.

Isu penodaan agama

Suka atau tidak, kata Yunarto, kasus dugaan penodaan agama yang menimpa salah satu cagub, yaitu Ahok, berdampak terhadap elektabilitas pasangan lain. Dalam hal ini, Yunarto berpendapat, pasangan Agus-Sylviana yang lebih mendapatkan keuntungan.

Yunarto mengatakan, tanpa bermaksud menuduh, nama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merupakan ayah Agus, kerap dikaitkan dengan aksi unjuk rasa bertema isu penodaan agama itu. SBY juga sempat mengeluarkan pernyataan yang arahnya mendukung aksi tersebut.

Menurut Yunarto, dugaan-dugaan tersebut menimbulkan persepsi bahwa SBY berada di posisi yang bersebrangan dengan Ahok.

"Persepsi ini suka atau tidak menguntungkan Agus untuk mendapatkan limpahan suara dari basis pemilih yang dalam tanda kutip, asal bukan Ahok," kata Yunarto.

Pasangan Anies dan Sandiaga kurang "kecipratan" keuntungan dari isu itu. Sebab, pasangan itu cenderung memilih netral terkait kasus penodaan agama.

"Prabowo bahkan seakan-akan satu kubu dengan Jokowi dalam isu ini," kata Yunarto.

Pemilih primordial

Alasan lainnya, pasangan Agus dan Sylvi dinilai memilili pasar pendukung yang kuat secara primordial. Contohnya misalnya, Sylviana sangat mungkin menggaet suara warga Betawi karena dia adalah warga Betawi. Kemudian, latar belakang militer yang dimiliki Agus juga memberi keuntungan untuk mendulang suara.

"Kemudian bukan tidak mungkin basis masa Foke (Fauzi Bowo) di tahun 2012 cenderung merapatkan diri ke Agus dan Sylvi karena Foke dulu di Partai Demokrat," kata Yunarto.

"Itu yang menurut saya menyebabkan Agus berhasil mengambil momentum," tambah dia.

Meski berada di urutan pertama, Yunarto mengatakan Agus belum bisa disebut unggul. Sebab tingkat elektabilitasnya masih beririsan dengan Ahok. Selisih margin of error tiap lembaga survei juga perlu diperhatikan.

"Jadi belum bisa disimpulkan secara statistik apakah Agus sudah unggul," kata Yunarto.

Hasil survei

LSI Denny JA mengeluarkan survei terbaru Desember 2016 ini. Hasilnya, sebanyak 33,6 persen responden survei LSI Denny JA memilih pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (Agus-Sylvi) jika Pilkada DKI Jakarat dilakukan saat ini.

Berada di urutan kedua, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dengan dukungan 27,1 persen, dan ketiga pasangan Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno (Anies-Sandi) memperoleh dukungan 23,6 persen. Pemilih yang belum memutuskan (undecided voters) sebesar 15,70 persen.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) juga melakukan survei Pilkada DKI 2017 pada Desember 2016. Hasilnya, sebanyak 31,8 responden LSI memilih Ahok-Djarot jika Pilkada DKI Jakarta dilakukan saat ini.

Agus-Sylviana didukung oleh 26,5 persen responden, sementara Anies-Sandiaga berada di urutan ketiga dengan dukungan 23,9 persen. Adapun responden yang belum memutuskan sebesar 17,8 persen.

Kemudian, pada November 2016, ada survei Indikator yang menyebut elektabilitas Agus-Sylvi sudah berada di angka 30,4 persen saat ini. Pasangan Ahok-Djarot berada di urutan kedua dengan eletabilitas 26,2 persen. Pasangan nomor tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, disebut berada pada urutan ketiga dengan elektabilitas 24,5 persen.

Masih pada bulan November 2016, lembaga survei Poltracking Indonesia merilis elektabilitas Agus-Sylvi sebesar 27,29 persen, elektabilitas pasangan Ahok-Djarot sebesar 22 persen. Adapun pasangan Anies-Sandi memiliki elektabilitas mencapai 20,42 persen. Sebanyak 29.66 persen pemilih masih belum memilih.

Lalu, ada survei Charta Politika di bulan November yang menyebut Agus-Sylvi memperoleh 29,5 persen jika Pilkada digelar hari ini. Disusul Ahok-Djarot yang memperoleh 28,9 persen dan Anies-Sandiaga yanh memperoleh 26,7 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan atau swing voters sebanyak 14,9 persen.

Paling akhir ada survei Litbang Kompas yang hasilnya menunjukkan elektabilitas Agus-Sylvi paling tinggi, yakni 37,1 persen. Posisi itu dibayangi ketat oleh pasangan Ahok-Djarot yang mendapat 33 persen responden.

Di posisi ketiga pasangan Anies-Sandiaga dengan potensi keterpilihan 19,5 persen. Responden yang belum menentukan pilihan tercatat sebesar 10,4 persen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar