Rabu, 29 Maret 2017

'PRIBUMI' ISTILAH PENJAJAH

Tidak banyak yang tahu istilah "Pribumi" dicetuskan pertama kali oleh pemerintah Belanda dalam Undang-Undang Kolonial Hindia Belanda (Indonesia) tahun 1854

Kata 'Pribumi' berasal dari bahasa Belanda 'INLANDER' yang memiliki makna menghina semacam RAS RENDAH yang kastanya dibawah Ras Kulit Putih Eropa (Bule)

istilah "Pribumi" diciptakan Belanda dengan tujuan DISKRIMINASI SOSIAL dan Devide et Impera, politik memecah-belah bangsa menjadi kelompok2 yang saling memusuhi

Undang-Undang tahun 1854 yang memuat istilah "Pribumi" ini dikuatkan lagi oleh pemerintah kolonial Belanda dalam Pasal 163 Indische Staatsregeling tahun 1926

SUMPAH PEMUDA UNTUK LAWAN INI

Setelah istilah "Pribumi" disahkan Pasal 163 Indische Staatsregeling tahun 1926, lalu dua tahun kemudian lahir Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928

"Kami Putra Putri Indonesia mengaku,
Tumpah darah, tanah air Indonesia
Berbangsa satu, bangsa Indonesia
Berbahasa satu, bahasa Indonesia"

Sumpah Pemuda lahir untuk MELAWAN politik Devide et Impera Belanda, untuk MELAWAN upaya pemecah-belahan bangsa melalui istilah "Pribumi" - "Non Pribumi"

Sumpah Pemuda adalah IJTIHAD perjuangan para pendiri bangsa bersama para Ulama pahlawan nasional yang memicu lahirnya proklamasi 17 Agustus 1945

MENGKHIANATI PARA PAHLAWAN

90 tahun kemudian sekelompok orang Indonesia demi kepentingan politik dengan DUNGUNYA memakai istilah "Pribumi" kolonial Belanda yang DILAWAN mati-matian oleh para Pahlawan

Sekelompok orang yang menghirup kemerdekaan berkat jasa para pahlawan, malah gunakan politik Devide et Impera ciptaan Belanda yang DIPERANGI gigih oleh para pahlawan

seperti kata Albert Einstein..
Karena Cerdas ada batasnya,
tapi Dungu tak kenal batas.
Saking tolol lebih tepatnya.

Permadi Arya
( Pegiat Bhinneka )

SUMBER:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara
https://id.wikipedia.org/wiki/Pasal_163_Indische_Staatsregeling

#IndonesiaBersatuTolakDiadu

Usia Alam Semesta Menurut Hindu.

Dalam kitab-kitab suci Hindu disebutkan bahwa alam semesta diciptakan, dimusnahkan, dan dibuat ulang menurut suatu siklus yang berputar abadi. Siklus tersebut disebut Kalpa atau masa seribu Yuga. Satu Kalpa sama dengan 4.320.000.000 tahun bagi manusia sedangkan bagi Brahma satu Kalpa sama dengan satu hari. Dalam kosmologi Hindu, alam semesta berlangsung selama satu Kalpa dan setelah itu dihancurkan oleh unsur api atau air. Pada saat itu, Brahma istirahat selama satu malam, yang lamanya sepanjang satu hari baginya. Proses itu disebut Pralaya (Katalismik) dan berulang-ulang selama seratus tahun bagi Brahma (311 Triliun tahun bagi manusia) yang merupakan umur Brahma.

Menurut pandangan umat Hindu, alam semesta sedang berada pada tahun ke-51 bagi Brahma atau 155 Triliun tahun telah berlangsung semenjak Brahma lahir. Setelah Brahma melewati usianya yang ke-100, siklus yang baru dimulai lagi dan segala ciptaan yang sudah dimusnahkan diciptakan kembali. Proses ini merupakan siklus abadi yang terus berulang-ulang dan tak akan pernah berhenti.

Masa hidup Brahma dibagi setiap satu siklus Mahayuga. Yuga terdiri dari empat bagian, yang mana dalam setiap bagian merupakan zaman yang memiliki karakter berbeda-beda. Mahayuga memiliki 71 Divisi, dan setiap divisi merupakan 14 Manvantara (1000) tahun. Setiap Mahayuga berlangsung 4.320.000 tahun. Manwantara adalah siklus Manu, leluhur manusia menurut kepercayaan Hindu.

STOP ANTAR BARANG ANAK KE SEKOLAH

Sebuah sekolah dasar di Singapura melarang orangtua mengantarkan barang anak yang ketinggalan, ini dilakukan untuk mengajari anak bertanggung jawab sejak dini.

Setiap orangtua pasti akan memastikan anaknya melewati hari yang baik di sekolah, sehingga bila ada barang yang tertinggal pasti akan diantarkan ke sekolah. Tapi di sekolah Kuo Chuan Presbyterian Primary School (KCPPS), mereka melarang orangtua mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan di mobil atau di rumah.

Seperti diberitakan oleh TNP, KCPPS bahkan menaruh tanda larangan di depan pintu masuk sekolah sebagai peringatan bagi orangtua.

KCPPS percaya bahwa orangtua harus membiarkan anaknya belajar mandiri, dan bertanggungjawab pada semua tindakannya, termasuk melupakan barang yang diperlukan untuk ke sekolah.

Tanda larangan tersebut berbunyi:

    Bila Anda mengantarkan kotak makan yang tertinggal, buku, PR, sepatu, alat, dll. TOLONG BERBALIK DAN PERGILAH. Biarkan anak Anda tumbuh dewasa. Anakmu akan belajar untuk menyelesaikan masalah dan menerima tanggung jawab dari konsekuensi ketidakhadiran Anda. Terimakasih.

Setiap harinya, dari jam 8 hingga jam 9 pagi, akan ada setidaknya 3-4 orangtua atau asisten rumah tangga yang mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan. Seperti botol minum, buku catatan, dan uang saku ke sekolah.

Mereka semua diarahkan ke kantor guru, dimana mereka akan disuruh pulang ke rumah. Demikian keterangan dari penjaga sekolah yang berlokasi di Bishan Street 13 Singapura ini.

Kepala Sekolah KCPPS Teo Ching Ling mengatakan, “Belajar sendiri untuk bertanggung jawab pada barang milik mereka adalah kemampuan yang penting dalam hidup. Kami membutuhkan para siswa kami mempelajarinya sebagai bagian dari nilai pendidikan dan sejajar dengan salah satu nilai dari sekolah kami, kedisiplinan diri.”

“Keterlibatan orangtua sangatlah kritis dalam usaha keras kami ini, pihak sekolah telah mencari kerjasama dari para orangtua untuk menahan diri agar tidak mengantarkan PR atau barang lain milik anak yang ketinggalan. Hal ini dilakukan pada anak mereka sebagai proses dari pembelajaran.” Kepala Sekolah Ching Ling menjelaskan.

“Tanda larangan ditaruh di sana sebagai pengingat visual bagi para orangtua untuk menjadi rekan sekolah dalam usaha ini,” tambahnya.

Para orangtua murid di KCPPS memberitahu TNP bahwa pihak sekolah selalu menekankan hal ini dalam pertemuan orangtua murid dan guru. Serta pada surel yang dikirim ke mereka, agar anak-anak dibiarkan mengambil tanggung jawab atas kesalahan mereka dan belajar menjadi orang yang bertanggung jawab.

Tapi kelihatannya pesan itu tidak sampai ke beberapa orangtua, sehingga pihak sekolah masih harus memasang tanda larangan di depan pintu masuk. Puluhan orangtua menyatakan bahwa mereka mendukung aksi sekolah untuk mengajari anak menjadi mandiri.
Kata psikolog tentang aturan ini

Seorang ahli psikologi klinis Carol Balhetchet mengatakan, “Sekolah dasar adalah langkah pertama anak memasuki lingkungan pendidikan, dan naluri orangtua secara alami ingin melindungi. Setelah setahun pertama, orangtua tidak perlu terlalu waspada karena anak perlu melindungi dirinya sendiri. Untuk bertanggung jawab dan mengandalkan dirinya sendiri.”

Seorang psikolog lain bernama Daniel juga juga mengamini. Ia mengatakan, apabila orangtua secara terus menerus menyelesaikan masalah yang dialami anak mereka, maka hal tersebut akan memengaruhi kemampuan anak untuk menjadi waspada agar tak menimbulkan masalah.

“Kemungkinannya, anak tidak akan memiliki kesadaran untuk memecahkan masalahnya sendiri, membuat rencana atau menyiapkan diri. Kurangnya kebebasan dan kemampuan yang dibutuhkan bisa menyebabkan keragu-raguan saat anak harus berurusan dengan masalahnya sendiri. Dan dia tidak bisa menumbuhkan cara berpikir dewasa.” Daniel Koh menambahkan.

Carol Balhetchet memberikan 5 tips untuk membuat anak menjadi pribadi yang independen.

Cinta yang tegas. Menjadi orangtua yang baik, mengerti kebutuhan anak, dan memastikan bahwa dia merasa aman dan nyaman di lingkungan sosialnya. Tapi tetap menegaskan bahwa anak butuh kebebasan untuk menjadi independen. Contohnya, biarkan ia membawa tasnya sendiri, dan menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri.
   
Selalu ada untuk anak Anda. Orangtua tidak perlu hadir setiap saat di sisi anak, tapi pastikan bahwa Anda memberikan dukungan moril dan emosional yang dibutuhkan anak. Jika dia merasa tidak aman, diskusikan masalah tersebut untuk menemukan solusinya.
   
Beri anak Anda perhatian penuh. Contohnya, luangkan waktu untuk mendengarkan cerita kesehariannya di sekolah setelah makan malam.
   
Bantu anak menjadi lebih independen. Karena suatu hari, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya sendiri. Jadi berikan bantuan tersebut selagi Anda masih ada di sisinya.

Mungkin di Indonesia belum ada sekolah yang menerapkan kebijakan seperti KCPPS, namun tidak ada salahnya Anda mencontoh metode yang diterapkan sekolah tersebut.

Mulai sekarang, jangan lagi mengantarkan buku PR atau kotak makan anak yang ketinggalan saat ia pergi sekolah. Tak mengapa bila anak marah-marah, dengan begitu dia tidak akan lagi melupakan hal penting yang harus ia bawa ke sekolah.

Sumber: https://id.theasianparent.com/stop-mengantarkan-barang-anak-yang-ketinggalan/

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208838166497832&id=1424034458

Kamis, 16 Maret 2017

Kematian SOEKARNO


Tak Seindah Jasanya Memerdekakan Negeri Ini....

Tak lama setelah misi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".

Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,

lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.

Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".

Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.

Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.

Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.

"Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.

Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.

Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno.

Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.

Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar Mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.

"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.

Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Selamat Jalan Bapak.......

https://m.facebook.com/groups/1610216669215200?view=permalink&id=1942961192607411

Rabu, 15 Maret 2017

SURIAH KECIL ITU BERNAMA INDONESIA

Perhatikan..

"Akan datang suatu masa yang menimpa manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an kecuali tinggal tulisannya saja. Masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk, serta ulama-ulamanya adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit …” (HR. Al Baihaqi)

Melihat Indonesia sekarang, saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi pada Suriah ketika awal-awal perang.

Suriah - negeri plural tempat tinggal berbagai macam agama dan kepercayaan hidup berdampingan dengan damai - akhirnya runtuh karena masyarakatnya terpengaruh isu sektarian.

Suriah yang persenjataan dan keamanannya begitu kuat - karena itu warga Palestina sering minta perlindungan kepada mereka - dihancurkan dari dalam. Warga Suriah ternyata rentan dengan isu provokasi yang mengangkat agama sebagai senjata penghancur massal.

Situasi awal hancurnya Suriah, persis seperti yang digambarkan hadis akhir zaman diatas. Masjid-masjid di Suriah tumbuh dengan pesat. Provokasi melalui masjid, menjadikan masjid bukan lagi menjadi tempat yang meneduhkan, melainkan sumber angkara murka.

Islam yang pada awalnya diturunkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam, dibelokkan menjadi agama yang menakutkan. Itulah yang dimaksudkan "Islam hanya tinggal namanya saja".

Teriakan Allah Maha Besar dimana-mana, tetapi bukan dalam rangka takjub akan kebesaran Tuhan. Nama Tuhan menjadi identik dengan bahasa perang. Yang terjadi akhirnya pelecehan terhadap kata "AllahuAkbar" menjadi Ahmad Albar dan segala macam. Islam tinggal nama, tetapi kosong dengan keilmuan.

Para pembaca Alquran banyak. Mereka dilahirkan dan dididik sebagai penghafal. Bacaan mereka bagus dengan suara merdu mendayu.Tapi sedikitpun mereka tidak paham makna dan tujuan dari ayat-ayatnya. Akhirnya tafsir kalimat dalam Alquran dipelintir habis demi kepentingan satu golongan. Dibelokkan sesuai keinginan pemesan.

Itulah yang dimaksud "Alquran tinggal tulisannya saja". Kering akan pesan yang bermanfaat.

Masjid kosong akan petunjuk, karena di dalamnya sudah sulit menemukan penunjuk arah yang benar. Masjid-masjid dipenuhi nafsu yang jauh dari petunjuk Alquran, malah berfungsi sebagai basecamp perang yang hanya melindungi golongan mereka saja.

Dan dari "Islam yang tinggal namanya saja", juga "Alquran yang tinggal tulisannya saja", lalu "Masjid yang kosong dari petunjuk", maka lahirlah "ulama-ulama jahat" bahkan paling jahat di kaki langit.

Kenapa disebut paling jahat ? Karena dari merekalah lahir pemikiran-pemikiran radikal yang diamini oleh banyak pengikutnya.

Ulama-ulama yang berpihak pada penguasa. Yang dimaksud penguasa disini bukan hanya pemerintahan, karena pada masa Islam ada pemerintahan yang benar. Tetapi penguasa yang punya tujuan sangat jahat, untuk memporak-porandakan satu wilayah demi nafsu berkuasanya.

Dan seharusnya mata kita terbuka akibat dari kejadian itu semua melalui contoh di Suriah. Tuhan masih sayang pada negeri kita, karena peristiwa Suriah-lah yang menjadi guru kita, bukan kita yang menjadi contoh dari banyak negara.

Saya selalu memohon perlindungan kepada Tuhan supaya Indonesia dijauhkan dari semua hal tentang kekejian yang terjadi di Suriah.

Tapi yang saya takutkan, demi bisa memisahkan mana benar dan mana salah, Tuhan bisa saja memberi kita pelajaran dalam bentuk kejadian yang sama supaya kita paham. Hanya supaya kita paham saja..

Setiap kali ditanya, "apa ada kemungkinan kita bentrok fisik seperti apa yang terjadi di Suriah..", selalu kopi saya mendadak begitu pahit untuk di seruput.

Kemungkinan itu ada... dan sangat besar.

www.dennysiregar.com

KENAPA RINDU REZIM OTORITER ?

* saya ingin mengulas secara obyektif apa kira2 penyebab ada yg sampai rindu pada masa rezim otoriter ORBA

Generasi Reformasi adalah angkatan 90an yang ikut atau paling tidak jadi saksi sejarah gerakan mahasiswa melengserkan diktator Soeharto & rezim otoriter ORBA

Sayangnya keindahan era Reformasi tak berlangsung lama.. Bulan madu telah usai.. karena Reformasi telah berubah wajah menjadi mimpi buruk "Demokrasi Kebablasan" - pinjam istilah pakde Jokowi

Banyak dari generasi Reformasi yang ikut melengserkan Soeharto akhirnya tak kuasa mengucap, "kalo jaman pak Harto, sudah diciduk itu yg hina2 presiden!"

Saking kesalnya melihat orang skrg seenaknya maki hina Presiden, olok olok Pancasila sampai tak sadar merindukan masa rezim OTORITER yg dilengserkannya

Tragis bukan? 😁

Ini karena Pemerintah sekarang seperti terlalu lemah seolah tak berdaya menghadapi orang yang seenak-enaknya mencaci Presiden, menghina Pancasila, tebar hoax fitnah pemerintah

Coba jaman pak Harto.. orang model Habib Rizieq caci maki Presiden hina Pancasila pasti udah diciduk dikirim ke p.Buru atau jadi campuran semen pondasi jembatan

Coba jaman pak Harto.. ormas islam koar koar KOPAR KAPIR di Pilkada demi menangkan salah satu Paslon pasti lgsg diberangus, dibekukan izin, bila perlu petingginya dibui semua

Hari ini hampir 20 tahun sejak Soeharto dilengserkan, ada wacana santer "KEBANGKITAN ORBA"

Bau propaganda ORBA seperti "awas Komunis", "waspada PKI" sudah menyengat busuk sejak Pilpres lalu, makin kesini makin percaya diri sampai Pangeran Cendana siap maju di Pilpres berikut nanti

Kenapa wacana ABSURD seperti ini bisa mengalir bebas? ..mungkin krn sebagian generasi Reformasi diam2 merindukan 'indahnya' hidup dlm kekangan rantai besi rezim otoriter

Semata mata karena ENEG pengen muntah melihat situasi sekarang yang mana ormas makin seenak enaknya, pemuka agama bisa hina presiden & Pancasila

Demokrasi kebablasan saat ini sedang ditunggangi Setan ORBA dgn tujuan membuai Rakyat akan ilusi nikmatnya hidup kembali dibawah rezim otoriter

SOLUSINYA?

Solusinya adalah: sudah saatnya aparat hukum rezim pakde Jokowi lebih TEGAS terhadap anasir-anasir anti Pancasila penghasut makar & permusuhan SARA

Agar sebagian rakyat tidak menjadi rindu 'indahnya' masa-masa dibawah rezim otoriter ORBA

Permadi Arya
( Generasi Reformasi )

#PenakJamankuToh

Minggu, 05 Maret 2017

PAHIT & MANIS KEHIDUPAN (Tausiyah Sore)


*Petuah Sinto Gendeng kepada Wiro sableng*

Suatu sore hujan turun di padepokan sinto gendeng. Sang Guru meminta si Murid, Wiro sableng untuk membuat minuman kopi.

*Guru :* Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

*Murid :* Ya Guru.

Tidak berapa lama, si murid sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya  beserta sendok kecil.

*Guru :* Cobalah kamu rasakan kopimu , bagaimana rasa kopimu?

*Murid :* Guru, rasanya sangat pahit sekali.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahitnya sudah mulai berkurang guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahitnya sudah berkurang banyak guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* sangat manis sekali guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Terlalu manis, malah tidak enak guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Aduh guru, rasa wedang kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa guru.

*Guru :* Ketahuilah muridku, jika rasa pahit kopi ibarat kefakiran hidup kita dan rasa manis gula ibarat harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa muridku.

Sejenak sang murid termenung, lalu menjawab.

*Murid :* Ya Guru, sekarang saya tahu, kenikmatan hidup dapat aku rasakan jika aku dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terimakasih  atas pelajaran ini guru.

*Guru :* Ayo muridku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Si murid lalu mengerjakan perintah gurunya.

*Guru :* Bagaimana rasanya muridku?

*Murid :* rasanya nikmat guru...

*Guru :* Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya denga yang fakir.

*Murid :* Terima kasih atas petuah guru.

*Selamat menikmati indahnya hari ini,....*