Senin, 20 Februari 2017

Ada teman bertanya, "kok lu suka banget sama Ahok?"

Males kasih penjelasan, saya cuma jawab sekilas.. "iya, ngefans"

Masih penasaran, temen saya nanya lagi, kali ini dengan lebih penuh penekanan "kenapa emangnya???"

Makin keki, temen saya nanya lagi, kan Ahok reseh tuh, dimana-mana heboh marah-marah, boro-boro bikin adem, malah menista agama"

Ups, Nah, kalau udah begitu ni "bocah" kudu ditatar, hehe..

"Sini duduk sayang, cantik"

Islam melarang pelacuran, hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Tapi Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan pentingnya pendidikan. Ketika Ahok kondisiten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan kesejahteraan. Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu) adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang beremain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RTPA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongannya menyindir orang2 yang sering menjual ayat2 suci untuk mendulang suara dan korupsi, dan ahok sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya.

Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembela agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok dipenjara.

Dan tujuannya mereka cuman satu agar Ahok tidak jadi gubernur lagi, dan dengan begitu bisa korupsi berjamaah lagi.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1429614620414359&id=100000975057482

FREEPORT VS PEMERINTAH INDONESIA

- Denny Siregar -

Menyaksikan pertarungan PT Freeport melawan pemerintah Indonesia ini memang mengasyikkan..

Freeport sejak tahun 1967, menikmati betul fasilitas yang diberikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dalam bentuk Kontrak Karya. Kontrak Karya ini memungkinkan PT Freeport Indonesia untuk mengatur segala macam operasional mereka termasuk keuangan dan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam pelaksanaannya.

Dalam artian sederhana, "Hei pemerintah, lu diem aja entar gua bagi deh keuntungannya. Kalo ada untung lho ya.." Bertahun2 seperti itu dan kita tidak punya kontrol terhadap sumber daya alam kita.

Kemudian datanglah Jokowi..

Dengan Jonan Menteri ESDM sebagai panglima perangnya, maka permainanpun berubah. Jonan memaksa PT Freeport untuk mengubah perjanjian Kontrak Karya yang selama ini dinikmati Freeport menjadi ijin pertambangan biasa, sama seperti ijin pertambangan perusahaan lainnya.

Dengan ijin pertambangan biasa itu, maka ada kemungkinan pemerintah Indonesia bisa menguasai ( divestasi ) saham Freeport sampai 51 persen. Dalam artian, Freeport satu saat akan menjadi milik kita.

Freeport ternyata tidak menyerah. Mereka memakai jurus lama - yang dulu selalu berhasil mereka lakukan - yaitu jika pemerintah Indonesia macam2, maka mereka akan memecati pegawai2nya.

Kenapa dulu pemerintah takut ? Yah, selain "selalu ada uang dibalik batu", juga yang ditakutkan adalah multiplier effect atau dampak sistemiknya.

Ratusan ribu pegawai yang selama ini mencari makan di PT Freeport akan dipecat dan itu menciptakan banyak pengangguran. Ketika banyak yang ngaggur, maka akan berdampak pada ekonomi di Papua. Ketika ekonomi lemah, maka akan diciptakan kerusuhan2 kecil yang akan diperbesar di sana. Ini memang akal licik yang selalu dipakai mereka..

Saat ini ada lebih dari 23 ribu karyawan dan privatisasinya yang bergantung pada Freeport. Dan ketika mereka dipecat - dengan alasan penghematan karena Freeport sudah tidak boleh lagi ekspor konsentrat - maka para karyawan itu akan digiring untuk protes ke pemerintah.

Dan ini sudah terjadi. 300 karyawan dikabarkan sudah dipecat Freeport. Dan mereka akhirnya berdemo di kantor bupati dan DPRD Mimika, meminta pemerintah untuk membuka kembali ijin ekspor konsentrat Freeport supaya bisa kembali bekerja. Licik, bukan ?

Mimika sekarang bergolak. Ribuan personel aparat sudah diturunkan kesana untuk menjaga wilayah. Ada kemungkinan demo2 akan terus dilanjutkan, untuk memaksa pemerintah membuka kembali keran ekspor konsentrat yang selama ini menjadi sumber makan PT Freeport Indonesia.

Apakah Menteri Jonan akan mundur dan kembali membiarkan PT Freeport seperti biasanya ? Ataukah ia melawan dengan menghadapi potensi resiko besar yang akan menggoyangkan keamanan ?

Sementara itu kabar terbaru, Ketum PBNU KH Said Agil Siradj sudah mengatakan siap berdiri di belakang pemerintah Indonesia dalam menghadapi Freeport.

Episode Freeport ini semakin menarik. Kita lihat episode berikutnya sambil seruput secangkir kopi..

www.dennysiregar.com

SENTIMEN AGAMA BANGKRUT DI PILKADA JAKARTA

Warga Jakarta sekali lagi menunjukkan konsistensi  dalam memilih. Rasional  dan tidak pernah goyah oleh isu-isu agama. Malahan ada kecenderungan mereka alergi dengan isu-isu primordial seperti ini, termasuk soal etnis. 

Buktinya, sejak pemilihan Gubernur tahun 2007, isu agama selalu menjadi pemicu kekalahan calon yang menggunakanya. Calon PKS Adang Dorojatun terhempas ketika melawan Fauzi Bowo ditahun 2007. Padahal ketika itu PKS menduduki banyak kursi di DPRD DKI.

Isu agama juga justru menjadi kunci kemenangan Joko Widodo dan Ahok dalam pemilihan gubernur berikutnya.  Komentar RH Oma Irama yang dituduh berkampanye di meskid serta celetukan rasis Nachrowi Ramli dipandang menjadi pemicu kekalahan telak Foke atas Jokowi.

Gagalnya memainkan isu agama juga terjadi di Pilkada kemarin. Goyangan aneka aksi Bela Islam  memang membuat Ahok tersangkut masalah hukum. Namun  derasnya  kampanye larangan Muslim memilih pemimpin Non Muslim dengan meyitir Al Maidah 51 ternyata tidak laku sama sekali.  Ahok menang mengesankan di kisaran 43 persen mengalahkan  Anis dan Agus. 

Dengan kata lain, rangkaian aksi 411, 212, 112, Sholat Subuh berjemaah  dan Baiat  Istiqlal, tidak mampu menggoyahkan pendirian orang Jakarta. Bahkan adalah pukulan telak bagi mereka  mengusung isu agama ketika mendapati  Ahok justru mendapat suara terbanyak di markas FPI.

Akan halnya perolehan suara Anis, mesin partai telah digerakkan dengan catatan militansi yang mengesankan dari PKS memastikan setiap anggotanya memilih nomor tiga.   Usaha keras itu berbuah manis karena mendapat durian runtuh disaat-saat terakhir. Anis mendapat limpahan suara dari pendukung Agus yang balik badan setelah pernyataan Antasari Azhar. Pak SBY melakukan blunder disaat-saat terakhir  hingga popularitas Agus langsung anjlok.  Pak SBY mungkin lupa bahwa warga Jakarta itu rasional yang alergi dengan soal korupsi dan lebih mempercayai  keterangan Antasari .

Pak SBY juga mungkin salah kalkulasi. Beliau pikir,  kalangan pengajian yang  sudah mati-matian didekati memberikan komitmen nyata. Mungkin ada keyakinan besar dalam diri pak SBY bahwa umroh bersama yang dilakukan Agus bersama penceramah aksi 112 bisa mengamankan perolehan suara dari kalangan muslim Jakarta. Namun nyatanya  mereka tidak melakukan komitmen itu. Suara Agus anjlok dikantong-kantong Islam.

Dengan kenyataan ini, maka jelas sudah ayat-ayat politik tidak laku di Jakarta. Warga Jakarta sebagian besar berpandangan moderat malahan cenderung liberal dalam pemahaman agamanya. Mereka yang mencoba menyuntikkan paham fundamentalis dipandang sebagai  bukan bagian dari  budaya Jakarta yang metropolis.  Namun mereka tidak melawan melainkan menyingkir diam-diam menjauh dari kelompok tersebut.   Berkaca pada kenyataan pahit ini, kubu Anis dipastikan akan sangat berhati-hati menggunakan isu agama agar tidak justru menjadi racun yang melumpuhkan kemenangannya. '

Artinya kita bisa berharap banyak bahwa   putaran kedua pemilihan Gubernur DKI akan diwarnai adu program dan kehebatan mesin partai politik ketimbang isu agama dan primordial.  Kita juga akan menyaksikan isu-isu terkait Jokowi dan Ahok satu paket menjadi dagangan utama kubu Ahok. Sementara dikubu Anis kita akan melihat semangat nasionalis yang khas pak Prabowo dipompakan dengan penuh kegairahan membingkai NKRI

Semua ini akan menjadikan pemilihan Gubernur  kembali dalam  saluran demokrasi yang sebenarnya.  Yang sehat tanpa  eksploitasi agama hingga siapapun yang terpilih adalah yang terbaik dan  warga Jakarta akan puas  dan bangga.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155142187673117&id=748808116

Minggu, 19 Februari 2017

ANIES BASWEDAN IDOLAKU

Bicara tentang strategi pilgub DKI. Rasanya tdk ada cagub yg lebih canggih dari om Anies.

#RanselReputasi

Om Anies adalah seseorang yg tidak terbebani ransel reputasi. Tidak malu mengambil posisi d bawah naungan Prabowo yg saat pilpres om Anies serang habis2an.

https://youtu.be/BmPuFgQSZBk

Om Anies tampa ragu membuang reputasi moderat, toleran, dan mencintai persatuan Indonesia dalam kebersamaan semua agama dan ras d dalamnya.

Om Anies jg tdk berpikir dua kali untuk mendiskreditkan Paramadina. Dmana om Anies pernah menjadi rektor d dalamnya dan menjauhkan diri dari status liberal Paramadina.

http://news.gubernurmuslim.com/2017/01/anies-baswedan-saya-menolak-reklamasi-dan-akan-mengembalikan-kepentingan-nelayan-dan-masyarakat-di-teluk-jakarta/

Harga diri, nama baik dan reputasi, semua itu adalah beban. Om Anies tidak ragu untuk membuang semuanya dan menciptakan diri anda yg baru dari awal lagi.

#RebutKonstituenLawan

Bila saatnya tiba, om Anies tdk takut untuk berpelukan dengan ormas paling kontroversial d Indonesia. Secara efektif mengikuti arus yg sudah d buat oleh org lain dengan susah payah dan mendukungnya secara terbuka. Dan merebutnya.

Mungkin akan ada pihak yg menunding sisa reputasi toleran anda ketika anda mengatakan sejalan dengan FPI. Bahwa pemimpin hrs muslim. Mungkin ada yg mempertanyakan kepada anda apa itu "merajut tenun kebangsaan" yg anda maksud dulu. Tapi anda dapat dengan mudah mengelak dengan kalimat "merajut tenun kebangsaan d bawah kepemimpinan Islam".

https://youtu.be/1Y2yaVM_nvQ

Konstituen saingan om Anies yg saling bersinggungan om Anies rebut secara sangat halus dengan memperlihatkan "Aku se extreme kalian". D tambah rangkaian kata2 om Anies yg megah dan menginspirasi dalam debat. Tampa menyerang saingan anda yg searah, anda meperlihatkan "Aku lebih pintar darimu". Sehingga konstituen saingan anda yg memilih krn emosi, mendapatkan alasan lebih baik lagi dari anda.

Dengan mundukung anda, emosi terpuaskan, dan ada alasan motivasi retorika yg indah dari anda. Jadi secara mental konstituen anda mendapatkan justifikasi "Aku tidak mendukung Anies krn sekedar benci Ahok. Aku mendukung Anies krn Anies bagus". Dengan cara itulah anda merebut konstituen saingan anda yg sejalan.

Benar2 luar biasa cerdas.

#JanjiYgAbstrak

Akupun penasaran dengan janji2 om Anies. Selain dari detik, akupun membuka website anda untuk melihat sendiri janji2 anda yg lebih update.

Sebagian besar dari 23 janji anda, adalah janji yg menyenangkan, mudah dan abstrak. Janji yang tidak terukur. Dengan begitu janji anda tidak dapat d serang.

Kuambil contoh dari salah satu janji anda, "Program Khusus Lansia: Tunjangan Hari Tua"

Berikut janji anda yg kukutip dari URL:
http://www.jakartamajubersama.com/program-khusus-lansia-tunjangan-hari-tua

1) Memberikan Tunjangan Hari Tua kepada semua lansia di DKI Jakarta sebesar Rp. 300.000 per bulan untuk menunjang kebutuhan hidupnya.

2) Memperbanyak layanan kesehatan pencegahan untuk lansia seperti layanan deteksi kanker gratis, di rumah sakit negeri dan swasta.

3) Memperbanyak ruang terbuka hijau ramah dan aman untuk lansia yang dapat digunakan untuk kegiatan lansia (senam lansia, dan sebagainya).

4) Menyediakan trasportasi umum gratis dan publik area ramah dan aman bagi lansia.

5) Melengkapi unit darurat untuk memberikan pertolongan pertama pada pasien di setiap puskesmas dengan standar motor gawat darurat (selain mobil ambulan), untuk masuk ke jalan-jalan sempit.

6) Mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dan peduli terhadap lanisa melalui kegiatan bersama lansia dengan memaksimalkan peran komunitas yang sudah ada atau membentuk komunitas baru.

Janji no satu tidak ada artinya mengingat APBD DKI yg mendekati 70 triliun. Aku tidak meragukan bahwa janji ini akan terpenuhi. Janji ini mudah dan menyenangkan. Siapapun yg mengajukan keberatan terhadap janji ini dapat anda tuduh tidak manusiawi terhadap lansia.

Sedangkan janji2 lainnya? Begitu abstrak sehingga anda tidak mungkin d serang dari sisi itu bila kelak anda menang dan d tagih. Contohnya "memperbanyak". Anda tidak memberikan tolak ukur keberhasilan atau kegagalan janji anda. Yg anda janjikan adalah menambah yg sudah ada. Baik tambah 1 maupun tambah 1000 anda bisa claim sudah menunaikan janji anda yg menyangkut kata "memperbanyak". Begitu pula dengan kata "menyediakan", "melengkapi" dan "mengajak". Anda bisa menggunakan penafsiran anda sendiri terhadap kata2 tersebut dan mengclaim anda sudah memenuhi janji.

#TidakTerjebakJanjiSulit

Semua janji2 anda adalah janji populis. Tidak ada janji non populis untuk perkembangan Jakarta. Karena om Anies paham benar bahwa yg terpenting saat ini adalah memenangkan pertarungan.

Om Anies fokus pada kemenangan, sedangkan lawan om Anies masih harus d sibukkan dengan kondisi realistis Jakarta dan pemecahan masalah yg feasible. Om Anies memilih untuk melongkapi hal itu dan hanya berjanji terhadap hal2 yg populis dan menyenangkan.

Sungguh strategi pemenangan yg luar biasa.

#KesalahanDP

Dari smua janji2 anda yg abstrak, tidak spesifik dan tidak terukur. Om Anies melakukan blunder. Om Anies menjanjikan suatu hal yg mungkin d atas kertas terlihat abstrak, tak terukur dan aman, tapi ternyata pernyataan om Anies dapat d ukur. Blunder ini menyebabkan anda terpaksa merevisi pernyataan anda yg sudah terekam di YouTube tentang DP 0% vs DP 0 Rupiah.

(DP 0%)
https://www.youtube.com/watch?v=6Ooz9c52XeI

Pernyataan ini sampai mengundang komentar gubernur BI. Dan krn itu juga masalah DP jadi sasaran tembak lawan maupun haters anda. Tapi tenang saja om Anies, dengan blunder ini. Toh tak ada manusia yg sempurna. Om Anies salah sebiji saja tak apa2. Malah menambah unsur manusiawi pada diri anda om.

(Bantahan BI)
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170217150456-78-194249/bank-indonesia-larang-kpr-dengan-dp-nol-persen/

#MenguasaiKonstituen

Yang paling luar biasa dari om Anies adalah, om Anies tau benar konstituen om. Om Anies paham sekali bahwa sebagian besar konstituen om ber'irisan dengan konstituen saingan om. Om Anies paham benar bahwa sebagian besar konstituen om adalah konstituen emosi.

Konstituen emosi memilih Anies pada dasarnya berlandaskan prinsip asal bukan Ahok. Baik dengan alasan agama, alasan penggusuran, alasan tdk suka sikapnya atau alasan apapun. Om Anies menawarkan sebuah ilusi pada mereka bahwa mereka bukan pemilih emosional. Tetapi pada dasarnya om Anies paham betul bahwa mereka pilih Anies bukan krn tertarik janji dan programnya.

Itulah sebabnya om Anies berani berjanji tentang hal2 yg begitu abstrak. Begitu tak terukur. Begitu general. Karena om Anies yakin konstituen anda pada akhirnya tidak akan menagih dan mengejar2 janji anda.

Kalaupun ada yg mempertanyakan janji anda, kemungkinan besar itu adalah konstituen petahana. Lawan anda dalam pilgub. Dan dengan cara mengeluarkan janji yg abstrak dan tak terukur, seperti yg ku tuliskan sebelumnya. Om Anies dapat menggunakan penafsiran om Anies sendiri terhadap janji yg om Anies sebutkan.

#Salut

Jadi jelas, dari smua peserta pilkada yg pernah aku ikuti, sepak terjang dan strategi anda adalah sepak terjang terbaik yg pernah aku lihat. Aku angkat topi untuk strategi dan sepak terjang om Anies.

Rasanya om Anies berhak masuk Hall of Fame pribadiku bersama uncle Roy dan uncle Trump.

Respect

(kwek)

https://m.facebook.com/ABhumiBlog/photos/a.1685601651722383.1073741829.1683531408596074/1859840467631833/?type=3

PUTARAN DUA : NU, JOKOWI, GOLPUT ATAU FPI, PKS DAN KELOMPOK KHILAFAH

Selain itu, Prabowo sudah mengatakan “jika ingin Prabowo Presiden 2019, pilih Anies Sandi.” Artinya bagi yang tidak ingin Prabowo menjadi Presiden, maka harus pilih Ahok.

Kelompok nasionalis

Merapatnya FPI, PKS dan kelompok Islam radikal ke kubu Anies sudah pasti membuat alergi kelompok nasionalis. Selama ini mereka memperjuangkan pilar kebangsaan, dan tentu saja tidak akan sudi mendukung kelompok para pejuang khilafah yang sering teriak kafir kafir dan takbir.

Pendukung AHY atau Golput

Dari tiga faktor tadi, bisa jadi sebagian sudah masuk ke suara AHY. Tapi bisa juga masih golput. Patut dicatat bahwa angka golput di Pilgub DKI mencapai 1.668.902 pemilih. Lebih besar dari pemilih Agus yang hanya 936.609 suara.

Artinya, selain memperebutkan suara Agus yang mungkin saja bagian dari 3 kelompok yang saya sebutkan tadi, bisa juga karena mereka sedang kebingungan atau membiarkan hasilnya ke masyarakat yang lain.

Tapi kalau mereka para golput ini dihadapkan pada pilihan Ahok atau Anies yang didukung FPI dan PKS, tentu saja mereka akan memilih Ahok yang didukung kelompok nasionalis. Para golput ini akan turun gunung memilih Ahok sebagai perlawanan kepada kaum khilafah yang ingin mengubah sistem negara.

Kalau berkaca pada Pilgub 2012, kondisinya kurang lebih sama. Jokowi Ahok menang putaran pertama, Foke melaju ke putaran kedua didukung oleh PKS, FPI dan yang sejenisnya. Secara matematika dasar, memang Jokowi Ahok akan kalah dengan Foke. Sebab pada putaran pertama Foke mendapat 34% dan Jokowi Ahok 42%. Tapi kemudian PKS merapat ke Foke, dengan harapan suara Hidayat Nurwahid yang 11% dapat beralih ke Foke sehingga nantinya mereka bisa unggul dari Jokowi. Tapi kenyataannya pada putaran kedua Jokowi tetap unggul 53% sementara Foke hanya 46%.

Artinya Pilgub DKI memang tak akan sesederhana matematika anak SD. Ada banyak faktor, dalam kontesks Pilgub 2017 sekarang ini saya melihat 3 faktor tersebut cukup vital dan menentukan. Tinggal pertanyaannya adalah, apakah kelompok nasionalis, NU, pendukung Jokowi dan golput akan membiarkan kelompok Anies yang berisi FPI, PKS dan yang memperjuangkan khilafah?

Sampai saat ini saya melihat mereka tak akan membiarkan kelompok khilafah merongrong Indonesia. NU tak mungkin bersatu dengan FPI yang rajin mangatakan kafir, bunuh dan kata propaganda lainnya. Pendukung Jokowi tak mungkin mau Prabowo kembali nyapres, apalagi membayangkan jadi Presiden.

Begitulah kura-kura.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208419287265905&id=1417785880

Sabtu, 18 Februari 2017

BALADA BUKIT DURI


.
Didukung saat tolak gusuran
Ditertawakan saat tenggelam kebanjiran.

Tanggal 28 september 2016 lalu Pemprov DKI berniat untuk menormalisasi aliran sungai Ciliwung di daerah Bukit Duri. Namun hal ini mendapat tentangan dari warga sekitar.

Meski telah digusur, mereka berkeras menolak relokasi dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. Hasilnya, pada Kamis, 5 Januari 2017, Majelis hakim memenangkan gugatan warga Bukit Duri.

Esoknya, dalam jumpa persnya, 6 Januari 2017, Anies Baswedan mengaku Bahagia warga bukit duri memenangkan gugatan dan memberikan simpatinya kepada Warga bukit duri. "Saya senang keadilan ditegakkan," kata Anies saat ditemui.

Anies menuturkan, kemenangan tersebut bisa menjadi pelajaran bahwa untuk melakukan tindakan kepada warga Jakarta harus berdasarkan prinsip keadilan dengan prosedur yang benar

Keberpihakan pada gugatan warga ini menuai Simpati. Hasilnya pasangan Anies-Sandi menang telak di TPS 52 Bukit Duri, salah satu lokasi gusuran.

Namun esoknya, pada 16 Februari 2017, tanpa diduga Banjir Pesanan yang rutin dikirim dari Bendung Katulampa Bogor kembali menggenangi pemukiman tersebut. Saat itu warga belum mengungsi meski ketinggian air sudah sekitar 70 cm. Bahkan di RT 15, ketinggian air telah mencapai dada orang dewasa.

Saat ditemui warga Bukit Duri mengaku sudah Bosan kebanjiran dan siap untuk direlokasi asalkan tidak jauh. Mereka mengaku banjir di Bukit Duri tidak dapat diprediksi lagi. Banjir datang hampir setiap bulan.

Ironisnya, paslon Anies-Sandi yang diberi tahu bahwa ada beberapa lokasi banjir di Jakarta, seperti di Pejaten Timur dan Bukit Duri kali ini hanya menanggapi dengan santai.

Berikut tanggapan mereka:
“Kirain sudah bebas banjir,” kata Anies
"Genangan Air,” timpal Sandiaga yang berdiri di samping Anies.
“Oh genangan,” kata Anies lagi, disambut gelak tawa pendukungnya.

Bukan hanya mentertawakan banjir, saat dikejar soal solusi banjir, Anies malah menawarkan solusi yang tidak masuk akal dengan kondisi Jakarta saat ini dengan mengatakan bahwa pengelolaan air harus menggunakan Vertical drainage.

Anies sepertinya memang tidak begitu mengenal kondisi Jakarta karena vertikal drainase sangat sulit diterapkan untuk mengatasi banjir kiriman yang volume airnya sangat besar.

Catatan mas Teguh:
Tanyakan pada Anies Baswedan Ph.D., saat warga Bukit Duri menang gugatan apa arti kebahagiaannya?

Dan saat Bukit Duri tenggelam oleh banjir kiriman, apa arti tertawaannya?

Rangkuman tulisan Teguh Santoso

Jumat, 17 Februari 2017

Catatan “Jongos” Dua Cagub DKI

“In matters of style, swim with the current; in matters of principle, stand like a rock.” —Thomas Jefferson

Tulisan ini bertujuan supaya membagikan apa yang saya ketahui, dari kacamata seorang jongos yang merasakan bekerja di bawah dua orang ini: Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan. Dan mengapa dari awal mendengar Pak Anies maju, saya sudah bersuara mengapa Pak Ahok yang lebih layak memimpin DKI Jakarta.

++

Memori saya kembali kepada masa enam tahun lalu. Nama Indonesia Mengajar baru mulai bergaung, dan sosok Anies Baswedan sangat lekat dengan program ini. Program yang mulia. Saya mendaftar dan diterima.

Teringat waktu pertama kali mendengar beliau langsung memberikan pidato penerimaan kepada kami, para Pengajar Muda istilah kerennya. Saya hanyut dengan berbagai persuasi yang dilontarkan. Memang sungguh inspiratif. Mantra yang sering didengungkan adalah merajut tenun kebangsaan. Barangkali inilah saatnya adanya organisasi yang lintas kultur dan agama yang memang layak untuk didukung anak muda yang ingin merasakan Indonesia sesungguhnya, tanpa hanya dari membaca koran. Saya menangis waktu upacara bendera terakhir bersama para Pengajar Muda sebelum dikirimkan ke daerah. Warna kulit, asal dan agama kami berbeda-beda, tetapi kami dengan spirit yang sama, khidmat upacara menghormati bendera Merah Putih.

Setahu saya, Pak Anies adalah penggagas dan pimpinan Indonesia Mengajar, namun tidak terlibat dalam kepengurusan hariannya. Kepengurusan harian dijalankan oleh orang-orang muda di bawah Hikmat Hardono dengan kantor di Jalan Galuh II Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Teringat bahwa Pak Anies sering ditanya oleh kami Pengajar Muda, apakah Indonesia Mengajar ini menjadi batu lompatan ke arena politik, utamanya ke pencalonan presiden. Beliau umumnya memberikan jawaban yang tidak pasti. Tapi secara bahasa, Pengajar Muda memahami bahwa gerakan Indonesia Mengajar ini memang murni sebuah gerakan yang ingin “merajut tenun kebangsaan” tadi. Banyak persuasi lain yang dilontarkan Pak Anies yang lumayan inspiratif, seperti “melunasi janji kemerdekaan”, “setahun mengajar seumur hidup menginspirasi”. Untuk anak muda yang ‘galau’ dan lagi semangat-semangatnya ingin berkontribusi kepada bangsa dan negara ini, inspirasi dan persuasi semacam ini sangatlah efektif. Beberapa dari antara kami sampai rela meninggalkan pekerjaan di luar negeri dengan gaji dan fasilitas wah dan bergabung menjadi Pengajar Muda. Menjadi Pengajar Muda dan langsung terjun ke desa menjadi bagian dari warga dengan berbagai karakter dan tantangannya. Saya sendiri mengambil cuti tanpa gaji selama setahun dari firma hukum tempat saya bekerja. Saya juga mempersiapkan diri untuk tidak digaji dari Indonesia Mengajar. Hebatnya, Indonesia Mengajar memberi remunerasi yang tidak kalah dengan gaji karyawan swasta! Indonesia Mengajar benar-benar program yang luar biasa, membuka mata generasi muda kepada kondisi Indonesia sesungguhnya, sambil melatih kepemimpinan.

++

Februari 2013, saya bangga mendengar Pak Anies menjadi ketua Komite Etik KPK kasus bocornya sprindik Anas Demokrat. Selang 7 bulan kemudian, keadaan total berubah. Pak Anies maju pada konvensi Partai Demokrat, ingin menjadi capres menggunakan kendaraan yang menjadi gunjingan banyak orang dengan isu korupsi Hambalang. Kekecewaan di antara Pengajar Muda banyak meski tak terucap. Kami mulai bertanya-tanya apakah Indonesia Mengajar ini murni sebuah gerakan di bidang pendidikan, atau hanya batu loncatan? Spekulasi muncul tanpa jawaban pasti. Apakah Pak Anies sudah memikirkan resiko bila sampai ada sponsor yang menahan dana atau menarik dana, karena takut dana yang diberikan ke Indonesia Mengajar malah digunakan untuk kepentingan politik tersebut? Langkah Pak Anies ini saya sayangkan sekali karena membawa resiko kepada suatu program baik yang baru mengembangkan sayapnya. Apakah ambisi politik Pak Anies menjadi capres ini segitu besarnya?

Untunglah Pak Anies tidak memenangkan konvensi partai itu. Di dalam hati kecil saya, saya memang berharap beliau terlebih dahulu membuktikan diri dengan memegang jabatan yang cukup strategis, yaitu Menteri Pendidikan. Jabatan itu sangat sesuai dengan jalan hidup Pak Anies yang adalah Rektor Paramadina dan penggagas Indonesia Mengajar.

Cerita saya beralih ke kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014. Saat itu saya sudah bekerja di suatu firma hukum. Saya sangat bersyukur atas kemenangan Jokowi itu. Jokowi adalah simbol harapan, dan representasi dari suksesnya masyarakat biasa yang bisa menembus lingkar kekuasaan dan menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Setelah mendengar pemberitaan di media bahwa Jokowi-JK membentuk tim transisi, Saya berinisiatif menghubungi Pak Anies mengucapkan selamat sekaligus menanyakan, kira-kira apa yang dapat dibantu. Tak disangka, beliau langsung merespon baik dan menawarkan saya untuk membantu beliau. Saat itu beliau adalah Deputi D Tim Transisi, yang mengurus kesejahteraan rakyat.

Di titik inilah saya lebih jauh mengenal sisi profesional Pak Anies. Mirip seperti yang saya lihat di Indonesia Mengajar, beliau sering menyampaikan pandangan atau gagasan pada level yang makro. Jarang sekali saya mendengar turunan teknis dari ide besar Pak Anies. Karenanya, saya dan tim sangat beruntung karena kami dipimpin oleh Ibu PW, seorang eksekutif yang mengambil cuti dari suatu firma konsultan internasional. Sehari-hari kami bekerja di bawah bimbingan Ibu PW, dan Pak Anies jarang sekali terlihat berkantor bersama kami. Dari media kami tahu bahwa pada masa itu beliau cukup sering menemani Pak Jokowi.

Saya pribadi menyadari bahwa hal ini tidak ideal (tidak memimpin proses perumusan produk Deputi D sebagai turunan dari gagasan besar yang disampaikan Pak Anies). Tapi saya tidak mau memusingkan hal di luar jangkauan saya. Saya hanya mencoba bekerja terus dan berharap agar situasi ini berubah, supaya Pak Anies kembali fokus ke dalam Deputi D, dan mulai mengambil langkah manajerial konkret. Mengapa? Karena latar belakang dan karakter anggota Deputi D sangatlah beragam. Ada yang dari sektor swasta finansial, kalangan masyarakat sipil sampai basis relawan Jokowi-JK, sehingga tim kami membutuhkan seorang pemimpin (yang memang sudah punya nama) yang seharusnya hadir, memimpin tim, menguasai data di hadapannya untuk mencapai tujuan dari dibentuknya Deputi D.

Sayangnya, sampai dengan akhir masa kerja, hal ini tidak terjadi. Mungkin saja Pak Anies sudah mendelegasikan mayoritas kerjanya kepada PW. Namun delegasi kerja tidak mungkin total menyerahkan semuanya kepada orang lain, tanpa hadir memberikan panduan dan arahan konkret kepada kami. Seandainya Pak Anies lebih intensif hadir dan memimpin kami, tentu produk akhir Deputi D akan lebih baik lagi. Pada titik ini, saya menyadari bahwa peranan dan keunggulan Pak Anies adalah mengajak dan menginspirasi orang untuk mau ‘turun tangan’ dan melakukan sesuatu untuk republik ini. Ini adalah peranan yang sangat penting di tengah apatisme generasi muda untuk berpolitik dan bernegara, dan peranan yang memang paling pas untuk dijalankan Pak Anies. Tetapi menjadi pemimpin dengan kemampuan manajerial yang mumpuni? Ini yang belum bisa dilihat dari Pak Anies.

++

Cerita ini berlanjut dengan terpilihnya Pak Anies sebagai Menteri Pendidikan. Banyak Pengajar Muda yang bersyukur akhirnya Pak Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Tentunya Pak Anies adalah orang yang tahu betul potret pendidikan di Indonesia, karena beliau sebagai bagian dari Indonesia Mengajar tentu sudah mendapatkan banyak sekali laporan dari Pengajar Muda tentang keadaan pendidikan di daerah dan berbagai praktek korupsinya (Undang-Undang Dasar mengamanatkan 20% dari APBD untuk pendidikan. Ada gula ada semut!), dan juga sebagai Deputi D Tim Transisi yang mengurus bidang pendidikan. Saya berharap ini menjadi ajang pembuktian kemampuan beliau dalam membuat perubahan di Indonesia, paling tidak membuat tata kelola yang baik di dalam Kementerian Pendidikan dengan segudang daftar masalah.

Nyatanya tiada yang berubah. Distribusi Kartu Indonesia Pintar tidak mencapai target. Bahkan Agustus 2016, Menteri Keuangan menemukan Rp 23,3 triliun dana yang salah perencanaan. Dana yang ada tidak boleh diberikan kepada guru yang memang tidak ada (salah data) atau yang gurunya ada tapi belum bersertifikat. Apakah memang Pak Anies masih tidak melaksanakan pekerjaan manajerial dan hanya melepaskan pekerjaan teknis sepenuhnya kepada bawahannya, yang punya segudang kepentingan dan dosa lama? Entah. Saya hanya bisa menduga dua hal di atas menjadi sebagian pertimbangan Pak Jokowi ‘mencukupkan’ tugasnya hanya selama 1 tahun 9 bulan.

+++

Saya pribadi tergerak membuat tulisan ini, setelah tahu Pak Anies bertandang ke markas FPI pada 1 Januari. Okelah, Pak Anies sudah menjadi politisi yang berambisi menjadi Gubernur DKI, syukur-syukur bisa menjadi Presiden RI. Dan secara politik, memang saya tidak perlu baper bila tetiba Anies menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam menjaring suara. Tetapi berkunjung ke FPI, kemudian membela diri dengan mengatakan ‘harus menjadi pemersatu semua pihak’? Itu jawaban tidak jujur. Jadilah pemersatu dan pergi ke markas FPI setelah anda jadi pejabat. Pergi ke FPI sebelum menjadi pejabattidak lain adalah taktik meraih suara. Meraih suara ke pihak yang dengan entengnya mengoyak-oyak tenun kebangsaan! Teringat pernyataan Pak Anies pada 2014, yang menyerang Prabowo Subianto dengan menuding bahwa Prabowo berjanji seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia, padahal kata Pak Anies, Prabowo justru mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI. Selang dua tahun, Pak Anies telah berubah secara ekstrem. Mungkin Pak Anies adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya. Dari menjual kata-kata inspirasional sampai memberi angin surga kepada kelompok yang jelas-jelas menganggap bahwa NKRI ini hanya diperuntukkan untuk satu agama saja. Melihat Pak Anies hari ini, entah apa lagi yang dapat dilakukan beliau demi mencapai ambisinya yang mungkin ingin jadi Presiden? Kunjungan beliau ke FPI inilah garis tegas respek saya kepada Pak Anies, yang sukses menginspirasi saya 5 tahun lalu untuk terjun ke dalam sistem. Karena ambisinya, Pak Anies hari ini bukanlah Pak Anies 5 tahun lalu, yang mencoba merajut tenun kebangsaan. Dia dulu tidak pernah bertanya kepada saya, apa agama saya waktu saya mendaftar Indonesia Mengajar dan menawarkan diri membantu dia di Tim Transisi. Mungkin rekan-rekan ingat, Pak Anies sudah katakan di Mata Najwa bahwa dia meyakini pemimpin itu harus memeluk agama Islam. Menjadi miris bila memikirkan golongan minoritas yang mendaftar Indonesia Mengajar sebagai bekal kepemimpinan di masa mendatang, karena bekal yang didapat tak dapat dilaksanakan. Bhinneka Tunggal Ika mau ditaruh dimana?

Sepertinya benar teori Abraham Lincoln,

“Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.”

Pak Anies sudah teruji dan gagal bahkan sebelum dia diberi kekuasaan.

Setelah melihat cara Pak Anies bekerja dan Pak Ahok bekerja, memang dua orang ini tidak dapat dibandingkan, karena keduanya ada di tataran yang berbeda. Pak Anies adalah konseptor, sedangkan Pak Ahok adalah eksekutor sekaligus konseptor yang sangat baik. Pak Anies ringan mengatakan iya dan merangkul seluruh pihak, sedangkan Pak Ahok adalah orang yang bisa mengatakan tidak tanpa harus berpura-pura. Saya teringat pertama kali melihat Pak Ahok (sebagai cawagub) pada kampanye pilkada DKI 2012 yang menolak permintaan kelompok warga yang minta dibuatkan lapangan, dengan imbalan warga setempat akan memilih Jokowi-Ahok. Alih-alih mengiyakan demi suara, Pak Ahok malah mentah-mentah menolak permintaan itu, karena menurut beliau tidaklah adil untuk warga lain yang tidak memilih Pak Ahok. Pak Ahok saat cawagub 2012 masihlah sama dengan Gubernur 2017. Aspek kepemimpinan Pak Ahok ini pun diamini oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mengatakan, “Seni kepemimpinan adalah mengatakan tidak, bukan iya. Sangatlah mudah untuk mengatakan iya”.

Pak Ahok memberantas korupsi dengan cara menaikkan gaji untuk menghancurkan corruption by need(korupsi karena kebutuhan), sedangkan Pak Anies rumornya mencoba memberantas korupsi dan PNS tidak berkinerja baik dengan dialog hati ke hati secara rutin. Saya pribadi, setelah dua tahun bekerja di DKI Jakarta dengan praktek koruptif warisan rezim lama, rasanya hampir mustahil untuk meminta orang berubah dengan kesadaran sendiri tanpa mencari akar permasalahan dan secara konkret memperbaikinya. Perlu cara keras untuk melumerkan hati yang sudah keras terpapar nikmatnya korupsi selama puluhan tahun!

Pak Ahok memberantas korupsi dengan membuat e-budgeting agar dapat menutup celah permainan perencanaan anggaran (masih ingat kan anggaran siluman UPS?), sedangkan Pak Anies malah salah merencanakan anggaran sampai dengan 23 T.

Saya tidak mengatakan bahwa Pak Anies ini adalah orang yang jahat. Tidak sama sekali! Pak Anies ini memiliki hati yang baik dan ambisi. Sayangnya ambisi beliaulah yang lebih menguasai hati beliau hari ini. Pak Anies punya keunggulan dalam menginspirasi dan mengajak orang untuk turun tangan namun saya hanya menegaskan bahwa bukanlah porsi Pak Anies menjadi administratur untuk membenahi benang kusut DKI Jakarta. Selayaknya penyakit kanker yang perlu diobati dengan kemoterapi, tidaklah mungkin membenahi DKI Jakarta yang kusut dan sudah sakit kronis hanya dengan kalimat yang santun dan ide besar tanpa kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang mumpuni. Porsi paling bermanfaat adalah menjadi inspirator dan mengajak anak-anak muda Indonesia untuk tidak berpangku tangan, tapi turun tangan membenahi republik ini.

Demikian catatan jongos ini. Pasti banyak pihak yang pro dan kontra. Wajar. Tapi inilah demokrasi, di tengah masyarakat yang masih belajar berdemokrasi selepas rezim lalu. Harapan saya, tulisan ini sedikit banyak membawa manfaat bagi masyarakat DKI. Semoga.

Rian Ernest

Pengajar Muda Angkatan II – Daerah Penempatan Kabupaten Rote Ndao, NTT