Kamis, 22 Desember 2016

Biografi Teuku Nyak Arif





Teuku Nyak Arif merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya adalah Panglima Sagi XXV Mukim. Beliau menempuh pendidikan pamong praja di Bukittinggi dan Serang. Setelah Perang Aceh berakhir, Belanda kemudian berusaha menjalin kerjasama dengan tokoh lokal, termasuk para panglima sagi, antara lain memberi kesempatan bersekolah bagi anak-anak mereka.

Belanda menganggap Teuku Nyak Arif yang telah mengecap pendidikan Barat akan termasuk golongan moderat. Ia pun ditunjuk mewakili rakyat Aceh di Volksraad. Namun, Teuku Nyak Arif bersikap kritis terhadap Belanda. Akibatnya, Nyak Arif tidak terpilih kembali. Pada masa pendudukan Jepang, selain sebagai anggota Aceh Syu Sangikai (dewan rakyat Aceh), Nyak Arief juga dipercaya menjadi anggota Sumatera Cuo Sangi in (dewan rakyat Sumatera). Namun, diam-diam Nyak Arief melakukan gerakan bawah tanah menentang Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, Teuku Nyak Arif diangkat sebagai Residen Aceh pada Oktober 1945. Saat itu, tentara Jepang masih bertahan di Aceh dan menolak menyerahkan senjatanya kepada rakyat Aceh. Perang pun pecah antara pejuang Aceh melawan Jepang yang dikenal sebagai peristiwa Krueng Panjo/Bireun. Belanda yang kembali ingin menguasal Indonesia memanfaatkan keadaan tersebut. Akibatnya, setelah menghadapi Jepang, para pejuang pun kembali berperang melawan Belanda.
Tempat/Tgl. Lahir : Banda Aceh, 17 Juli 1899
Tempat/Tgl. Wafat : Takengon, 4 Mei 1946
SK Presiden : Keppres No. 071/TK/1974, Tgl. 9 November 1974
Gelar : Pahlawan Nasional

Sayang, di saat bersamaan timbul Pertentangan antara kaum ulama dan para Arif pejabat pemerintahan (kaum ulebalang). Para ulama beranggapan bahwa para ulebalang menjalin kerjasama dengan penjajah. Akibatnya, pecah perang yang dikenal sebagai Perang Cumbok di daerah Pidie dan meluas ke daerah lain. Untuk menghindari pertumparan darah antara saudara sebangsa, Teuku Nyak Arif selaku residen dengan sukarela membiarkan dirinya ditawan Laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat (TPR).Teuku Nyak Arief kemudian dibawa ke Takengon. Tidak berapa lama, tanggal 4 Mei 1946, Teuku Nyak Arif meninggal dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar