Kamis, 29 Desember 2016

Beginilah Layanan Rumah Sakit di Jepang bagi Warga Tak Berpenghasilan

“Berdasarkan pemeriksaan dokter, anak Anda bisa pulang sekarang. Tapi mohon maaf, biaya-biaya rawat inapnya baru akan dikirimkan kemudian ke rumah beberapa hari lagi, bisa dibayar via transfer.” Demikian penjelasan petugas medis ketika anak kami akan keluar dari rumah sakit.

Dua hari sebelumnya saya terpaksa mengantarkan anak yang kedua ke rumah sakit. Berhubung malam hari, saya harus mencari rumah sakit emergency yang buka malam hari. Di Jepang layanan kesehatan pada umumnya hanya bekerja sesuai jadwal kerja. Di luar jam kerja, hanya rumah sakit tertentu saja yang melayani pasien. Lokasi terdekat adalah Sendai Emergency's Clinic yang dibuka 24 jam. Alamatnya di: 〒982-8502 Miyagi Prefecture, Sendai, Taihaku Ward, Asutonagamachi.

Setelah diperiksa oleh dokter jaga, karena kondisinya yang tidak terlalu baik, si anak akhirnya dirawat inap. Nyuuin, istilah bahasa Jepangnya dirawat di Rumah Sakit. Hal yang menarik, di awal kami tidak diminta untuk menyediakan jaminan atau pun uang deposit.

Setelah dokternya menentukan ruangan yang tersedia, petugas akan menjelaskan banyak hal terkait perawatan di rumah sakit. Suster menjelaskan beberapa prosedur dan saya diajak jalan-jalan mengenal lingkungan RS, seperti di mana letak kamar mandi, toilet, tempat bermain anak, dan tempat laundry. Fasilitas tempat bermain anak tersedia cukup banyak sehingga setidaknya si anak akan merasa terhibur dan berpengaruh pada proses recovery-nya.

Oh ya, di RS ini tidak ada yang namanya kelas 1,2, atau 3, dan tidak ada perbedaan layanan yang kami terima. Karena yang dirawat adalah anak-anak, ibu atau ayahnya boleh ikut menemani. Bagi penunggu, disediakan tempat istirahat yang cukup baik. Selain sofa, juga disediakan opsi menyewa futon, 500 yen.

Sehari-hari di RS, kami sudah diberi jadwal, hari ini ada pemeriksaan apa, besok ada apa, dsb.. Semua tertulis dan diberitahukan ke pasien. Dokter yang menangani anak saya berjumlah empat orang, sedangkan perawat yang menjadi penanggung jawab selalu berganti berdasarkan jam kerja mereka. Ada lagi satu ahli gizi yang menjadi penanggung jawabnya. Saat taiin (keluar RS), akan ada pemeriksaan terakhir oleh dokter untuk memastikan kondisi pasien. Setelah dapat lampu hijau dari dokter, pihak administrasi RS akan mengurus pengeluaran kita.

Di Jepang, beasiswa tidak dikategorikan sebagai penghasilan. Sebagai penerima beasiswa, kami tidak perlu membayar pajak setiap bulannya. Meskipun demikian, tetap saja ada biaya asuransi cukup besar yang harus dibayarkan tiap bulannya. Sebulan, kami harus membayar 5.000 Yen atau lebih dari Rp 600.000,00 untuk 4 orang anggota keluarga. Di sisi lain, pemerintah Kota Sendai menyediakan fasilitas kartu sehat gratis untuk anak-anak dari pemerintah. 

Lima hari berselang setelah keluar dari rumah sakit, kami menerima tagihan biaya yang harus dibayar. Biaya yang perlu kami bayar untuk perawatan selama 2 hari adalah 1.800 yen (sekitar Rp 200.000,00). Biaya ini sejatinya biaya makan untuk si anak selama dirawat.

Kesehatan memang mahal. Tetapi ongkos berobat saat sakit harus tetap terjangkau kan?

roby kurniawan
http://m.kompasiana.com/robi_kurniawan/beginilah-layanan-rumah-sakit-di-jepang-bagi-warga-tak-berpenghasilan_57870f92d593731610868c81

Tidak ada komentar:

Posting Komentar