Minggu, 03 September 2017

ROHINGYA : AGENDA SURIAH JILID II ?

Ada indikasi konflik Rohingya ini sebenarnya adalah konflik perebutan sumber daya alam dengan memanfaatkan isu SARA sebagaimana yang juga terjadi di Suriah. Jika di Suriah konflik ditengarai bermula saat Presiden Bashar Assad menolak proyek pompa gas menuju Qatar, Arab Saudi, Yordania dan Turki yang dapat disedot oleh Eropa secara langsung. Amerika berkepentingan untuk menjatuhkan Suriah yang pro Iran dan pro Rusia serta menguasai sumber daya minyaknya.

Amerika juga berkepentingan untuk melemahkan Suriah yang konsisten menjadi ancaman bagi sekutunya yaitu Israel di kawasan Teluk. Bersama sekutunya seperti Arab Saudi dan negara-negara lain serta melalui berbagai media mainstream internasional mereka melancarkan propaganda dan penyesatan opini publik yang mengaitkan isu ini sebagai perang sektarian antara Sunni dan Syiah. Jaringan Wahabi Internasionalpun mengekspos kasus ini sehingga berdatanganlah para jihadis dan radikalis Islam dari seluruh dunia untuk terlibat dalam konflik ini. Adapun negara-negara yang terlibat dalam perang Suriah ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Turki, Arab Saudi, Qatar, Rusia dan Iran.

Nah di Rohingya ini agenda yang sama sepertinya juga berusaha diterapkan untuk menguasai sumber daya alam minyak dan gas yang terletak wilayah Arakan - Rakhine yang di huni mayoritas etnis Rohingya. Dengan memanfaatkan isu SARA, etnis Rohingya berusaha diusir atau bahkan dilenyapkan dari wilayah tersebut agar sumber daya alamnya bisa dikuasai oleh Junta Militer Myanmar yang dipimpin oleh Jendral senior Min Aung Hlaing. Dengan menghembuskan isu SARA melalui tokoh agama ekstrimis dan radikal yaitu Ashin Wirathu maka dimulailah pengusiran dan penindasan kepada etnis muslim Rohingya.

Berikut ini adalah copas data dari Dr. Mahmud Syaltout, Wakil Sekjen GP Ansor :

1). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9 % CNPC (China), 25,04% Daewoo International (Korea), 8,35% ONGC (India), 7,37% MOGE (Myanmar), 4,17% GAIL (India) dan 4,17% investor-investor swasta lainnya;

2). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51% Daewoo International (Korea), 17% ONGC (India), 15% MOGE (Myanmar), 8,5% GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea);

3). Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia). Kemudian, Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi. Wilayah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru, dan beberapa blok lainnya jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini; dan

4). Blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand). Kemudian, MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi, di mana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini.

Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai apa yang terjadi di Suriah dan Myanmar juga terjadi di negeri ini. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tentunya akan menarik banyak negara Adi Daya untuk turut bisa menikmati dan menguasainya. Dan dengan memanfaatkan kebodohan massa dan sentimen agama maka strategi adu domba pun bisa dilaksanakan untuk memecah belah negeri ini. Melalui mulut para provokator dan tokoh agama radikal maka akan sangat mudah untuk bisa menerapkan agenda ini.....

Salam Waras

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1657277217617325&id=100000051895419

Tidak ada komentar:

Posting Komentar