Jumat, 20 Mei 2011

Mendeteksi Cemaran Bakteri di Air dengan Ponsel

Liquid Chrystal Display (LCD) yang dipakai sebagai layar ponsel memiliki fungsi lain yakni untuk mendeteksi bakteri penyebab
diare. Caranya dengan mencelupkan ponsel ke air yang diduga tercemar, lalu mengamatinya di bawah mikroskop.



Ketika terendam air, droplet atau butiran molekul LCD akan membentuk rantai memanjang seperti garis-garis bujur pada globe atau bola dunia. Namun jika di air ada racun yang dihasilkan oleh bakteri jahat, strukturnya akan berubah dan membentuk rantai melingkar.

Racun yang disebut endotoksin ini dihasilkan oleh Escherichia coli, bakteri yang bisa ditemukan di usus dan tinja manusia. Meski bakteri ini relatif aman, namun keberadaannya bisa mengindikasikan pencamaran bakteri lain yang berbahaya seperti salmonella pemicu diare, muntaber dan bahkan tifus.

Nicholas Ammott, peneliti dari University of Wisconsin mengungkap bahwa endotoksin bisa mengubah susunan rantai molekul LCD ketika keduanya saling kontak di air. Reaksi keduanya lebih mudah dideteksi daripada harus menggunakan alat mahal seperti chromatography.

Kelebihan lainnya adalah, endotoksin bahkan bisa dideteksi dengan memakai LCD dalam konsentrasi 10 kali lebih kecil dibandingkan saat menggunakan teknologi lainnya. Artinya, bakteri sesedikit apapun bisa dideteksi dengan lebih akurat jika menggunakan LCD.

Temuan ini mendapat pujian dari sesama peneliti, salah satunya dari Oleg Lavrentovich dari Kent State University di Ohio. Ia menilai, suatu saat temuan ini bisa dikembangkan sehingga bisa diterapkan di dunia medis dan kesehatan masyarakat pada umumnya.

"Hanya dengan memanfaatkan kristal cair, bakteri bisa dideteksi dalam kacar yang jauh lebih kecil," ungkap Lavrentovich seperti dikutip dari Newscientist, Jumat (20/5/2011).

Kristal cair yang dimaksud Lavrentovich adalah komponen penyusun LCD, yang sangat reaktif ketika terendam dalam air. Lavrentovich yakin, kristal cair juga bisa diterapkan dalam sterilisasi bergai jenis cairan injeksi untuk pasien di rumah sakit.

Planet Gliese 581d Dipastikan Layak Huni


Satu planet asing berbatu disebut Gliese 581d mungkin akan menjadi dunia pertama yang dikenal di luar Bumi mampu mendukung kehidupan seperti yang kita tahu. Penelitian terbaru menunjukkan hal ini.

Para astronom melakukan studi baru tentang model atmosfer telah menemukan bahwa planet tersebut sepertinya terletak di zona yang bisa dihuni dari bintang yang menjadi pusatnya. Soalnya, jarak keduanya memungkinkan keberadaan air.

Itulah dunia asing yang bisa menjadi seperti Bumi yang menyediakan lautan, awan, dan curah hujan. Kesimpulan ini konsisten dengan beberapa penelitian lainnya baru-baru ini.

Sayangnya, tidak ada yang secara definitif menetapkan bahwa air yang menjadi inti kehidupan mengalir di permukaan planet asing itu. Studi baru mengasumsikan bahwa massa Gliese 581d sekitar tujuh kali lebih besar daripada Bumi.

Planet tersebut memiliki atmosfer karbondioksida yang tebal. Ini sangat mungkin karena planet berukuran begitu besar.

Bintang yang menjadi pusat Gliese 581d, dikenal sebagai Gliese 581, adalah sebuah katai merah yang terletak 20 tahun cahaya dari Bumi. Ini diibaratkan hanya sepelemparan batu dalam skema kosmik.

Sejauh ini, para astronom telah mendeteksi enam planet yang mengorbit sang bintang.

Kamis, 19 Mei 2011

Keanehan di Langit Jepang Jelang Gempa Besar

Jumat siang, 11 Maret 2011, gempa dahsyat dengan kekuatan 8,8 skala Richter mengguncang Jepang. Lindu memicu tsunami yang menggulung bangunan, manusia, apapun yang ada di wilayah pesisir timur laut. Jepang, yang tersohor sebagai negara paling siap menghadapi bencana gempa, porak poranda.



Namun, sejatinya alam sudah memberi peringatan. Apakah itu? Menurut profesor ilmu bumi di Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa -- dalam beberapa hari menjelang bencana.

Penelitian ini masih data awal, belum dipublikasikan di jurnal akademis dan direview oleh ilmuwan lain, namun menawarkan sesuatu yang menarik, bahwa mungkin gempa bisa diprediksi. "Meski, potensi ilmuwan memperkirakan terjadinya gempa masih 'jauh'," kata Ouzounov seperti dimuat LiveScience, Kamis 19 Mei 2011.

Menatap langit untuk melihat pertanda bencana, khususnya gempa, sebenarnya bukan ide baru. Ada teori yang dikenal sebagai "Lithosphere-Atmosphere-Ionosphere Coupling mechanism" atau "Mekanisme kaitan Litosfer-Atmosfer-Ionosfer".

Seperti ini penjelasannya: sebelum gempa bumi terjadi, patahan yang tertekan akan mengeluarkan lebih banyak gas, khususnya gas radon yang tidak berwarna dan tak berbau.

Setelah berada di ionosfer, gas radon melepaskan molekul udara elektronnya, memisahkan partikel bermuatan negatif (elektron bebas) dan partikel bermuatan positif. Partikel-partikel bermuatan yang juga disebut ion, lantas menarik air dalam proses melepaskan panas. Dan, para ilmuwan bisa mendeteksi panas ini dalam bentuk radiasi inframerah.

Menggunakan data satelit, Ouzounov dan para koleganya mengawasi perubahan atmosfer yang terjadi beberapa hari sebelum gempa Jepang. Mereka menemukan, konsentrasi elektron dalam ionosfer meningkat, demikian juga dengan radiasi inframerah. Pada 8 Maret 2011, tiga hari sebelum gempa, adalah saat yang paling anomali.

Para peneliti juga telah mengumpulkan data lebih dari 100 gempa di Asia dan Taiwan. Menurut Ouzounov, mereka menemukan korelasi yang sama untuk gempa yang magnitudenya lebih besar dari 5,5 skala Richter dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer. Tim saat ini sedang berusaha melibatkan para ahli gempa Jepang dan seluruh dunia dalam sebuah misi ambisius: pemantauan atmosfer internasional sebagai upaya mitigasi gempa.

Meski demikian, kesuksesan ramalan gempa masih belum terjamin. Belum ada satu pun orang yang memprediksi gempa berdasar data atmosfer. Terkadang pertanda gempa bisa dilihat dari tingkah aneh binatang atau air tanah yang berubah aliran.

Apakah ada peluang gempa bisa diprediksi lewat data atmosfer? "Ini sangat menarik," kata Henry Pollack, profesor emeritus geofisika di University of Michigan, yang tak terlibat dalam penelitian ini. "Namun masih sulit untuk disebut sebagai sebuah terobosan."

Menruut Pollack, peneliti harus melihat banyak data atmosfer terkait gempa yang ada untuk memastikan fenomena menyangkut pecahnya patahan gempa. Juga harus ditelaah, seberapa sering anomali muncul, namun tak terkait sama sekali dengan gempa.

Sementara, Terry Tullis, profesor emeritus ilmu geologi di Brown University juga sama ragunya. Para ilmuwan ahli gempa telah banyak belajar di masa lalu, untuk tidak merasa senang setiap kali muncul metode prediksi gempa. "Saya tak bermaksud menyingkirkan optimisme itu, tapi dalam titik ini, orang harus skeptis." 




Recommended Download
Download Insidious Chapter 3 Sub Indo

Selasa, 17 Mei 2011

Tes DNA Ini Bisa Tentukan Ajal Anda


Para ilmuwan berhasil menemukan sebuah teknologi lewat uji genetic (DNA) yang dapat mengetahui sampai berapa lama seseorang dapat hidup.

Menurut mereka, usia seseorang ditentukan oleh panjang struktur kromosomnya. Ini disebut telomeres. Makin pendek telemeres Anda, maka makin cepat Anda meninggal. Walau tidak bisa memastikan secara tepat, tapi rentang waktu ajal datang itu bisa diperkirakan 5-10 tahun. 

Teknologi memperkirakan maut datang ini bakal dijual di pasar akhir tahun ini di Inggris. Harga uji DNA semacam ini 435 pound sterling atau sekitar Rp 6 juta. Beberapa ilmuwan medis mulai mempertanyakan kode etis jika teknologi itu jadi diluncurkan ke pasaran.

Tentu saja yang bakal mendapat keuntungan adalah perusahaan asuransi. Sebab mereka bisa mengetahui kapan pemohon aplikasi itu meninggal dengan mewajibkan mereka mengambil tes itu.

Menurut sang penemu, Dr Maria Blasco dari Pusat Riset Kanker Nasional Spanyol yang berkantor di Madrid, tes ini sangat tepat dan cepat. “Paling penting adalah kita dapat menentukan adanya telomeres berbahaya, yakni yang sangat pendek,” katanya.

Ia menyatakan orang dengan telomeres pendek berarti masa hidupnya juga sebentar. Namun ia mengaakui tidak dapat menjamin seseorang yang memiliki telomeres panjang bisa hidup lebih lama.

Makanan dan Minuman Para Astronot

Pada saat pengiriman pesawat ulang alik ke luar angkasa untuk pertama kalinya, para astronot mengalami kesulitan dalam urusan penyediaan makanan dan minuman bagi mereka. Tidak ada yang tau sebelumnya apakah para astronot dapat memakan makanan padat atau cairan dengan kondisi tanpa bobot dan akan seperti apakah rasa nya. Mulanya, pada pengiriman ke angkasa luar, makanan dan minuman tersebut disediakan dalam bentuk cairan dan pasta, dan urusan rasa tidak diprioritaskan.





Lalu, pada tahun 1960-an makanan dan minuman untuk astronot yang dikemas dalam baki ditemukan. Bakinya dapat dilekatkan pada badan astronot agar tidak berterbangan. Kebanyakan, makanan ini dikeringkan dan harus ditambahkan air sebelum dimakan.



Sekarang ini, makanan dan minuman bagi para astronot sudah dibuat bervariasi seperti: Sup yang disediakan dalam tube, ikan dan daging kalengan, jus, kopi, teh, dll. Ada pula beberapa yang dihaluskan dan dikeringkan secara khusus, yang apabila ditambahkan air, akan kembali ke bentuk aslinya.







Para astronot biasanya disuguhkan makanan 4 kali dalam sehari: Sarapan, sarapan kedua,makan siang, dan makan sore dengan jumlah kalori 3.200 perharinya. Sesuai peraturan dan pengawasan diet seimbang dari dokter.







Menu nya:



Sarapan pertama: daging panggang yg didinginkan, kentang, roti gandum , buah dan kopi.
Sarapan kedua: keju, biscuit dan jus apel.
Makan siang: ikan, sup sayur, roti, anggur, jus plum, dan prem.
Makan sore: hamburger dengan telur, keju cottage dengan kacang-kacangan, roti gandum, permen dan teh.



Namun, untuk masa sekarang ini, setiap anggota awak pesawat ruang angkasa telah diijinkan memilih apa yang ingin dimakan.


Setelah 60-80 hari di luar angkasa, banyak astronot merasa berkurang nafsu makannya dan rasa makanan berubah. Hal ini disebabkan perubahan dalam metabolisme dan perubahan yang terjadi dalam tubuh. Selain itu, mereka mengalami kebosanan dengan menu yg disuguhkan. Para peneliti masih menyelidiki dan mencari solusi akan hal ini.



Dan setelah ditemukan cara mendaur ulang minuman dari air kencing dan air kotor tanpa menggunakan daya gravitasi sama sekali, para astronot mulai mengkonsumsi air minum dari air tersebut dan mulai mempergunakannya utk kegiatan mereka sehari-hari di luar angkasa. Kata mereka," hasil daur ulang air minuman tersebut jauh lebih baik daripada hasil daur ulang air minuman di bumi".

Empat Hari Lagi Diprediksi Kiamat


Prediksi kiamat melalui penghitungan matematis kembali mengemuka. Kalangan Kristen fundamentalis yang tergabung dalam sebuah jaringan radio di Amerika Serikat mengatakan kiamat lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Penyiar Family Radio Worldwide yang bermarkas di California, Harold Camping, menghitung masa akhir dunia. Kesimpulannya, kiamat terjadi pada Sabtu 21 Mei 2011. "Akan terjadi gempa besar di Lautan Pasifik, mayat-mayat terlempar keluar dari kuburan," ujar Camping di laman radionya.

Peristiwa gempa besar ini akan diikuti dengan kekacauan global yang mengerikan. Manusia masih sanggup bertahan dalam suasana tak menentu tersebut hingga kehancuran total terjadi pada Jumat 21 Oktober 2011.

Camping tak hanya melakukan prediksi. Ia juga mengumpulkan dana untuk membiayai kampanye kiamat melalui baliho hingga iklan di media massa.

Ramalan pria berusia 89 tahun ini berasal dari pertimbangan yang disebutkan dalam Alkitab. Disebutkan bahwa kiamat terjadi 7.000 tahun setelah banjir besar yang dialami Nuh. Kiamat juga terjadi pada hari Sabtu.

Survei yang dilakukan The Salt Lake Tribune atas ramalan ini memperlihatkan 67 persen penganut Kristen Evangelis mempercayai Camping. Sementara 30 persen lainnya menolak untuk percaya. Sisanya mengaku tidak tahu.

Ramalan kiamat 21 Mei ini justru mendapat tentangan dari sebagian kalangan Kristen lain. Mengutip perkataan Yesus dalam Injil Matheus, kalangan penolak ramalan menyebutkan kiamat tidak bisa diprediksi waktunya.

Dalam survei yang sama, terlihat 68 persen penganut Kristen Protestan tak percaya kiamat terjadi pada 21 Mei sementara 30 persen lainnya mengaku percaya. Penganut Kristen Katolik juga senada, sebanyak 61 persen tidak percaya akan ramalan dan hanya 34 persen yang meyakini.

Camping juga memiliki reputasi buruk urusan meramalkan kiamat. Pria ini juga pernah meramalkan akhir dunia terjadi pada tahun 1994. Namun, tentu saja ramalan tersebut tidak terbukti.

Jasa Wisata Bunuh Diri di Swiss


PERJALANAN wisata lumrahnya adalah untuk bersenang-senang menghabiskan waktu luang. Namun, jika berwisata untuk bunuh diri?

Meski terdengar aneh, namun wisata untuk melakukan bunuh diri benar-benar ada. Dan kota Zurich, Swiss menjadi salah satu kota tujuan wisata bunuh diri itu.

Ternyata, assisted suicide (bunuh diri dengan bantuan) membuat warga kota Zurich gerah. Sebab, banyak warga asing datang ke kota itu untuk bunuh diri karena adanya jasa layanan assisted sucide di negara mereka.

Padahal di sisi lain pemerintah Swiss sangat menghargai hak asasi manusia termasuk hak untuk bunuh diri.

Sehingga, praktik bunuh diri dengan bantuan di Swiss sudah menjadi praktik legal selama berpuluh tahun.

Untuk itu, pada Minggu (15/5) warga kota Zurich akan mengikuti referendum berkaitan dengan wisata bunuh diri ini.

Pilihan pertama adalah melarang secara penuh praktik wisata bunuh diri ini. Kedua, melegalkannya khusus untuk warga kota Zurich.

Nampaknya pilihan kedua ini yang bakal memenangkan banyak suara.

Sebuah survey menunjukkan sebagian besar warga Swiss masih mendukung adanya praktik assisted suicide.

“Sangat menyedihkan melihat seseorang bepergian ribuan kilometer ke sebuah negeri bebas hanya untuk meninggal dunia.”

Namun, sebagian warga Swiss juga menolak jika negerinya dijadikan tujuan wisata bunuh diri.

Bernhard Sutter, pengelola organisasi bantuan bunuh diri terbesar di Swiss Exit menuding Eropa menularkan dilema moral mereka ke negeri yang dikenal juga dengan produk coklatnya itu.

“Kami tak bisa menyelesaikan masalah bunuh diri di Eropa. Sangat menyedihkan melihat seseorang bepergian ribuan kilometer ke sebuah negeri bebas hanya untuk meninggal dunia,” kata Sutter.

“Negara-negara itu harus menyelesaikan problemnya sendiri. Jadi kami sangat bahagia jika Jerman atau Inggris mengubah hukum mereka,” tambah Sutter.

Saat ini Exit hanya melayani warga Swiss atau mereka yang sudah tinggal lama di negeri itu.

Exit mengatakan proses melakukan bunuh diri dengan bantuan ini cukup lama karena harus mempersiapkan diri si pasien dan keluarganya.

Para pelaku wisata bunuh diri ini sebagian besar adalah mereka yang menderita sakit parah yang tak bisa terobati.

Di beberapa negara Eropa, proses bantuan bunuh diri atau euthanasia masih dianggap ilegal. Sehingga sebagian dari mereka pergi ke negara yang melegalkan euthanasia seperti Swiss.

sumber poskota