Rabu, 28 Juni 2017

Kisah dokter Tan

PRAKTEK YANG UNIK

Entah kharisma apa yang dimilikinya? Tapi pasiennya rata-rata gak ada yang ngeyel atau mengelak saat ditembak oleh Dr. Tan dengan pertanyaan yang tanarnya lebih mirip tuduhan! Habis mau ngeles gimana? Namanya kepengen sembuh, mending jujur kali ya? Tampaknya itu yang terbersit di pikiran mereka. Macam-macam 'tuduhan' beliau, mulai dari tidak patuh terhadap menu makan yang disepakati, kemalasan mereka menggerakkan tubuh seperti perintah, atau nekat mengkonsumsi bahan makanan yang dipantangkan bagi mereka.

Yang lebih kacau lagi, saat ia 'mengomeli' seorang pasiennya yang nampaknya terserang stroke dan telah berangsur sembuh namun masih enggan melepaskan diri dari tongkatnya. "Kalau tidak mau lepas dari tongkat ini, secara fisik dan mental kamu merusak tubuh kamu sendiri, coba lepas tongkat itu, lepas!" Saat dilihatnya sang pasien nampak ragu berdiri tanpa ditopang tongkat tersebut. Kemudian Dr. Tan berbicara macam-macam ke pasiennya untuk menggambarkan kondisi buruk yang mungkin terjadi apabila ia bergantung pada tongkat tersebut, mulai dari penurunan fungsi otot, organ yang terganggu sampai ke masalah psikis di mana ia suatu saat akan menyalahkan lingkungan, mulai dari orang sekitarnya hingga ke anak-anak yang dianggap tidak memperhatikan dirinya. Entah semburan kalimat itu begitu bombastis atau mengandung mantra, hehe, mendadak sang pasien mampu berdiri tanpa masalah walau tongkat itu telah dilepas.

"Lihat kan! Apa rasanya berdiri tanpa tongkat? Tidak jatuh kan?" tukas dr. Tan puas.

INTEROGASI
Di ruang praktek beliau dengan belasan pasien. Walau bersesak-sesakan di ruang yang kecil, namun tidak ada satupun pasien mengeluh atau protes. Di sini Dr. Tan, langsung berbicara "Silahkan mengenalkan diri masing-masing dan keluhannya, tapi ingat! Ini bukan ajang curahan hati, cukup kenalkan, sisanya biarkan saya yang berbicara!". Wuih, teknik yang unik.

Perlahan-lahan satu persatu pasien berbicara. Memperkenalkan diri dan kondisi masing-masing. Dr. Tan mendengarkan dengan seksama, lalu ia memberondong pasien tersebut dengan pertanyaan yang sifatnya personal terkait kondisi kesehatan mereka.

Dr. Tan : "Kenapa Anda kesini?"
Pasien : "Saya merasa obesitas, dok.."
Dr. Tan : "Kenapa obesitas?"
Pasien : "Karena keturunan di keluarga saya.."
Dr. Tan : "Nonsens! Kenapa?!" mulai meninggi nadanya
Pasien : "Ngg.. Anu, mm.. makan saya banyak" mulai terintimidasi
Dr. Tan : "Kalau makan bener, banyak juga gak pa-pa! Kenapa?!"
Pasien : "Saya suka makan yang manis-manis, dok"
Dr. Tan : "Nah, itu dia.. Persis!" manggut-manggut puas

"Jangan pernah ada yang bilang, kalau kalian itu sakit karena keturunan, itu mayoritas bohong! Sedikit sekali penyakit yang menurun karena genetika, sedikit!" setelah itu Dr. Tan, dengan gaya yang sangat ekspresif memukul meja di depan dan kemudian mencolokkan jari-jari tangannya ke mulut. "Ini yang membuat penyakit seakan-akan muncul di keluarga sebagai penyakit turunan..." katanya setengah membeliakkan matanya "Keluarga, meja makan dan apa yang kalian makan di sana!".

Atau ini..

Dr. Tan : "Kenapa pak?"
Pasien : "Saya darah tinggi, dok.."
Dr. Tan : "Berapa?"
Pasien : "Sekarang sih lagi minum obat jadi 120-80"
Dr. Tan : "Saya tanya nilai kamu, bukan nilai bikinan guru les!"
Pasien : "He?" bingung
Dr. Tan : "Itu kan bikinan dokter kamu? Bukan darah tinggimu.."
Pasien : "Hehe, iya dok.."
Dr. Tan : "Jadi kalau guru lesmu matek, nilai kamu merah lagi?"
Pasien : Tambah bingung
Dr. Tan : "Udah berapa taun minum obat itu"
Pasien : "Lima tahun, dok"
Dr. Tan : "LIMA TAHUN?! Dan gak ada kemajuan, begitu-begitu saja?"
Pasien : "Iya dok, tapi memang gak pernah melonjak lagi.."
Dr. Tan : "Guob* sisan!!!" *membentak sembari memukul meja

Kemudian sambil marah-marah pada dirinya sendiri ia mengungkapkan keheranannya pada pasien yang mau saja berobat bertahun-tahun pada seorang dokter tapi tidak menunjukkan gejala perbaikan, hanya berada pada posisi stagnan. Dan pasien itu sudah cukup puas.

"Itu sebabnya pasien yang kena darah tinggi, 'matek'-nya rata-rata bukan karena darah tingginya, tapi karena liver atau ginjalnya ngambek! Lha wong bertahun-tahun harus menelan racun. Yang konyol ya, pasiennya.. Kok mau? Dan dokternya juga.. Kok tega?"

Ia menuding lagi ke bapak pasien darah tinggi tadi. "5 tahun ke dokter itu, pernah ndak, bapak dikasih tau, kenapa sakit darah tinggi bisa terjadi? Dan apa langkah pencegahannya agar tidak sampai sakit, selain minum obat?" Ketika sang bapak menggeleng, Dr. Tan menghembuskan nafas kesal dan membanting tubuhnya ke senderan kursi.

"Persis! Guo* tenan!"

BUKAN SPESIALIS
Tapi bukan berarti dokter satu ini lebih banyak mengomel dan memaki. Ia sangat taktis dalam memberikan penjelasan beragam penyakit yang diderita pasiennya. Begitu taktisnya sampai orang paling awam pun rasanya bisa mengerti dengan cukup mudah apa yang dimaksud oleh beliau. Bandingkan dengan mayoritas oknum dokter yang cuma mendengar keluhan pasien, tanpa melihat mata pasien, kemudian menuliskan resep, tanpa melihat mata, lalu mempersilahkan pasien keluar ruangan, masih dengan tanpa melihat mata.

Dr. Tan lain, ia bahkan memberikan bahasa tubuh yang sangat teatrikal untuk menggambarkan kondisi tubuh yang mengalami masalah, ia juga tidak ragu-ragu berteriak kecewa, gembira atas reaksi juga jawaban pasien yang sesuai atau tidak dengan harapannya. Sebenarnya mengasyikan sekali melihat dokter satu ini saat berpraktek.

"Bawa saja, bagian tubuh Anda yang sakit itu ke bengkel Astra, minta dibetulin di sana, kalau sudah balikin dan pasang lagi" Tiba-tiba salah satu kalimat pedas Dr. Tan memutus lamunan saya. Ada apa nih?

"Salah satu puncak kegob***an dunia kedokteran adalah maraknya spesialisasi ini dan itu di sana-sini. Lalu pasien yang dateng ke mereka diperlakukan layaknya onderdil mobil, dikerjakan satu persatu apabila rusak, bukannya dilihat sebagai satu kesatuan sistem, kapan mau sembuh beneran?" Omelnya dengan nada sangat keras.

Kemudian ia menjelaskan secara sistematis, mengapa tubuh manusia tidak sepatutnya dilihat dari organ per organ. Penyumbatan koroner jantung misalnya, tidak bisa tidak, penyebabnya hampir 100 persen berasal dari makanan, tapi setiap kali pasien penderita jantung koroner pergi menjalani operasi bedah jantung, entah di pasang ring atau treatment lainnya, jarang sekali dokter jantung yang memberikan tuntunan panduan makan secara cermat kepada pasien. Paling-paling pekerjaan ini dilempar ke dokter ahli gizi, yang kita semua tahu mayoritas cuma bisa memberikan resep langsing bukannya resep untuk hidup sehat.

(Kalau yang satu ini saya punya pengalaman pribadi, waktu diajak bekerja sama oleh salah satu dokter gizi kondang di Jakarta. Waktu saya sodorkan pola makan anti stres dengan manipulasi bahan makanan terkait dengan produksi zatneurotransmitter. Dokter itu terbengong-bengong, "Wah, saya mah taunya cuma bikin orang langsing doang. Gak tau nih begini-beginian?" Yak ampun? Saya ini bukan ahli gizi, mosok lebih tau konsep food therapy ketimbang dia?)

Jadi kembali ke kasus Dr. Tan tadi. Bagaimana seorang pasien bisa sembuh secara paripurna, kalau dokternya aja saling lempar-lemparan kasus? Ia sekali lagi memaki konsep spesialisisasi secara sembarang di dunia kedokteran.

"Makanya kalau ada orang tanya saya ini spesialisasi apa? Saya jawab, saya bukan mekanik bengkel, saya dokter!" Ini adalah salah satu kalimat pedas dari beliau yang diucapkan saat dulu pertama bertemu saya.

MAKAN SEHAT & BERGERAK
Akhirnya Dr. Tan memberikan resep sehat bagi setiap pasiennya. Bukan, beliau bukan mencatat kalimat-kalimat berbahasa latin untuk diteruskan ke apoteker dan diubah menjadi tablet, pil, salep atau obat cair, tidak! Resep yang ditulis oleh Dr. Tan, jangankan seorang apoteker, seorang tukang sayur yang biasa mampir ke rumah Anda pagi-pagi pun bisa mengerti.

"Jangan ada yang protes, makanan yang saya rujuk ini bisa membuat Anda menikmati hidup atau tidak! Kalau mau sembuh, ya? Anda-Anda ini terlihat sekali adalah orang yang sudah hampir seumur hidup menikmati hidup dengan memanjakan lidah ke makanan yang enak, tapi salah!" Dr. Tan sudah menekankan konsep ini di awal pemberian resep hidup sehatnya.

"Sekarang Anda harus membayar harga nikmat tapi mematikan tersebut dengan berdisiplin mengikuti apa yang saya berikan" Tukasnya dengan tatapan tajam.

Apa yang diminta oleh Dr. Tan sangatlah sederhana untuk dimengerti dan dilakukan, tapi bagi para so called 'penikmat hidup', pastilah sangat berat untuk dituruti. Saran beliau :

1. "tidak ada gula!"
Orang sering dengan bodohnya mengira bahwa penumpukan lemak itu lahir akibat konsumsi lemak yang berlebihan. Padahal Dr. Tan mengatakan, "Manusia itu punya threshold untuk lemak, yaitu rasa mual dan muak. Jarang ada manusia yang mengkonsumsi lemak lebih banyak dari kemampuan tubuhnya menerima". Penumpukan lemak dalam tubuh kita, mayoritas lebih kepada konsumsi gula yang berlebihan dalam segala bentuk. Kandungan gula yang terlalu tinggi membuat tubuh mengeluarkan insulin berlebihan untuk menormalkan lonjakan gula darah dan mengakibatkan kelenjar pankreas lelah. Kerusakan pankreas membuat penyakit degeneratif yang sangat populer, Diabetes.

2. "buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat"
"Berhenti makan beras, tepung atau sumber karbohidrat umum lainnya! Kalau Tuhan mau kita makan beras, kita sudah dikasih tembolok dari lahir!" Masih terkait dengan apa yang diutarakan sebagai konsumsi gula berlebihan, Dr. Tan menekankan pada karbohidrat akan berubah menjadi gula, dimana cadangan gula yang berlebihan akan segera ditransformasikan oleh tubuh dalam bentuk glikogen (disimpan dalam hati - otot) serta trigliserida (lemak). Angka trigliserida tinggi adalah sumber obesitas yang sekarang semakin marak menyerang kehidupan manusia.

"Jangan panik, dengan bilang, kalau gak makan nasi badan saya lemas" Tukasnya sebelum ada pasien yang protes. "Tubuh Anda membangun kebiasaan, bukan memenuhi kebutuhan. Pernah liat orang yang habis makan, makanan Padang? Setelah dua jam, bukannya semakin kuat, mereka malah menjadi mengantuk! So, Anda bilang Anda lemas, kalau tidak makan nasi?"

Dr. Tan memberikan daftar penggantinya segera. Buah dan sayur sebagai sumber karbohidrat. Ia menyajikan urutan buah-buah yang memiliki kandungan fructose -gula alami buah- aman. Ia juga menekankan cara menyajikan sayuran yang baik.

"Jangan bilang Anda sudah makan sayur kalau yang dimakan sayur bening atau sayur cap cay, itu bukan sayur, itu sampah dalam bentuk sayur!" Ucapnya dalam nada tinggi. "Sayur dimasak sudah pasti enzyme-nya mati, gak ada gunanya buat tubuh, paling cuma serat-seratnya aja. Makan sayuran mentah yang dicuci bersih, kalau takut sama petsisida, ya beli yang organic atau tanam sendiri di depan rumah!"

3. tidak ada susu binatang
"Sapi itu begitu anaknya sudah bisa berjalan, ia akan segera berenti menyusui dan membiarkan anaknya mencari makan sendiri, manusia itu satu-satunya species yang cukup gob*** untuk mati-matian mencari susu spesies lain dan merasa membutuhkannya". 

Ia kemudian menyambung lagi, "Anak kecil di atas usia 2 tahun dipaksa minum susu, orang tuanya tidak sadar bahwa anak itu akan mengalami kesulitan pencernaan, karena cadangan enzyme-nya akan terkuras untuk mencerna bahan makanan yang semestinya tidak ia konsumsi lagi". Pendapat yang sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Hiromi Shinya tentang Enzyme pangkal atau miskonsepsi dimana intoleransi laktosa kadang dianggap tidak ada saat sang anak tidak mencret waktu minum susu. Padahal sang anak menunjukan gejala alergi lain, infeksi kulit, eksim, gatal-gatal, sembelit, obesitas, mudah terserang penyakit hingga asma.

Saya sih sudah tahu persis fakta bahaya susu sapi. Dari sisilactose intolerant, casein, non absorb calcium juga gak ada guna-gunanya sedikitpun bagi tubuh. Tapi orang lain? Fakta satu ini membuat mereka terkaget-kaget. Maklum jor-joran uang yang digelontorkan pabrikan susu memang membuat kampanye kebutuhan manusia terhadap cairan produksi binatang ini terasa begitu membahana dan menguasai kehidupan kita.

"Kurang apa kalau kita gak minum susu? Kalsium? Bohong pabrikan itu, kalau gak minum susu kita kekurangan kalsium. Kalsium di susu sapi gak bisa diserap tubuh manusia, titik!" Ia kemudian menunjukan fakta kelicikan produsen susu untuk berkelit dari upaya penipuan saat orang yang minum susu tetap terserang osteoporosis. "Pasti ada tulisan kecil, sangat kecil, di salah satu sudut kotak atau kaleng susu, yang menuliskan kalimat semacam 'Harus disertai dengan aktivitas fisik yang rutin', jadi mereka bisa mengelak dari pasal penipuan ke masyarakat". Ia juga menertawakan satu produsen susu sapi yang begitu gencar memasarkan produk susu kalsium tapi diembel-embeli dengan kalimat 'berjalan 10.000 langkah perhari'. "Anda mau nyuruh kakek-nenek yang renta berjalan 10 kilometer sehari? Gak keropos bener, tapi yang ada mereka matek, kecape'an" ujarnya dengan logat Jawa sangat kental.

4. banyak bergerak.
Sistem limfatik tubuh cuma bisa berfungsi kalau kita bergerak dengan baik.

usaha mati-matian di satu sisi tapi melewatkan sisi yang lain, adalah upaya yang kadang tidak membuahkan hasil maksimal. Menjaga makanan tanpa pernah aktif menggerakan tubuh secara benar akan membuat fitalitas kita terganggu. Demikian pula hal sebaliknya.

KESEMBUHAN HAKIKI
Dr. Tan ini Berhadapan dengan segerombolan pasien yang telah menyia-nyiakan kesehatan mereka dengan berbagai cara, ia harus berlaku keras dan kejam, untuk membuat pasiennya sadar dan mengubah gaya hidup mereka sesuai dengan kebutuhan. "Kita boleh dibilang galak dan saklek. Tapi kalau mau merubah kebiasaan buruk orang, kita gak boleh kompromi. Terserah mereka mau melakukan atau tidak, it's a matter of choice kok" Benar! If you don't like what we do, don't come to us, but if you think what we do can help you, so come!. Sederhana kan?

Kesehatan itu harus bersifat hakiki. Kalau kita sakit, harus dicari penyebabnya, bukan cuma gejalanya yang diatasi, itu bukan penyembuhan, tapi mengulur-ngulur permasalahan" Ia mengarahkan padangannya kepada bapak yang terkena darah tinggi tadi.

Dr. Tan Shot Yen
adalah salah satu ikon dunia kesehatan kelas utama di Indonesia, terutama saat pengobatan naturopati mulai mewabah akibat menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan konvensional. Metodenya yang unik namun ampuh membuat pasien beliau berkembang layaknya bilangan yang dipangkatkan dari waktu ke waktu. Belum lagi tulisan-tulisannya yang trengginas serta mengena bagi banyak pihak, membuat gaung nama beliau makin menggema di seantero jagad negeri ini. To make things even bolder, buku yang ditulisnya menjadi salah satu mega seller di negeri ini. Mega seller? Ya, kalau dihitung sebagai buku kesehatan, sebuah subjek non populer di negara ini. Sebuah bukti bahwa ilmu yang disandangnya dipandang sangat berguna oleh beragam pihak.

alamat praktek:
Komplek Perkantoran CBD - BSD City Sektor 3.3 Blok G No. 22
(Ruko Sebelah Teraskota) - Serpong
Telp. (021) 531 64347 atau hp. 0856 271 2067

Mohon maaf panjang banget, tapi sangat bermanfaat.👍👍🙏

Minggu, 25 Juni 2017

Leonarda Cianciulli

(1894-1970) adalah wanita Italia yang membunuh 3 orang wanita di Correggio, Italia, dalam kurun waktu antara 1939 dan 1940. Ia membunuh dengan berkedok sebagai semacam 'orang pintar,' membujuk tamu wanita yang sedang bermasalah (seperti ingin mencari jodoh atau pekerjaan) agar mencari peruntungan ke tempat lain, menulis kartu pos untuk keluarga, memberinya bayaran besar, dan ketika hari keberangkatan tiba, mengundang mereka ke tempatnya sebelum menghidangkan anggur berisi obat bius, membunuh mereka dengan kapak, dan memotong-motong tubuh mereka.

Berikut pernyataan resminya di pengadilan soal apa yang ia lakukan setelah pembunuhannya yang pertama :

"Aku memotong-motong badannya, menaruh potongan-potongannya di kuali, dan mencampurkannya dengan 7 kilo soda kaustik, yang kubeli untuk membuat sabun, lalu mengaduknya hingga menjadi gumpalan lembut berwarna gelap yang lalu kutuang ke dalam beberapa ember dan kubuang ke septic tank. Darahnya kutampung di dalam bejana, kutunggu sampai mengental, kukeringkan di oven, kuhancurkan dan kucampur dengan tepung, gula, cokelat, susu, telur dan sedikit margarin, lalu kumasak jadi kue-kue yang kuhidangkan pada tamu-tamuku. Tapi, aku dan Giuseppe juga makan sedikit."

Leonarda melakukan hal yang sama pada korban keduanya. Sedangkan untuk korban ketiganya, yang merupakan seorang mantan penyanyi opera yang bertubuh agak gemuk, ia memberi perlakuan sedikit lain :

"Dagingnya berlemak dan pucat. Kulelehkan lalu lemaknya kuambil dan kutambahkan minyak wangi, dan kucetak menjadi batang-batang sabun yang kemudian kubagikan ke tetangga-tetanggaku. Dagingnya kubuat sup krim yang enak. Kue-kue dari darahnya juga enak. Wanita itu rasanya benar-benar manis."

Leonarda ketahuan ketika kerabat dari korban ketiganya curiga dan melaporkannya ke polisi. Ia kemudian dihukum 30 tahun penjara sebelum dimasukkan ke rumah sakit jiwa khusus para kriminal di Pozzuoli. Ia meninggal 3 tahun kemudian karena sakit, dan 'perlengkapan memasaknya' kini dipajang di Criminological Museum di Roma.

(Source : Creepy Figure)

Tom and Jerry: Blue Cat Blues


Source: geosheas-lost-episodes.wikia

Blue Cat Blues adalah episode ke 103 dari acara kartun ternama: Tom and Jerry (sempat dirumorkan sebagai episode terakhir). Episode yang satu ini tidak seperti cerita lucu yang ada di kartun Tom and Jerry pada umumnya, tapi justru penuh dengan depresi. Mungkin kau tidak akan melihat episode ini lagi di TV.

Episode dimulai dengan Tom yang depresi, sedang duduk di tengah rel kereta, berencana untuk bunuh diri. Jerry yang simpati menatapnya dari atas jembatan, menganggap kalau ini adalah jalan yang terbaik.

Jerry kemudian mengingat momen yang membuat Tom depresi: Tom dan Jerry adalah teman baik, sampai akhirnya tom tertarik kepada kucing betina asing. Jerry, khawatir Tom akan patah hati, jadi dia mencoba menghentikan Tom untuk jatuh cinta pada kucing itu tetapi ia gagal.

Pada awalnya si kucing betina menerima perasaan Tom, sampai akhirnya rival Tom: Butch, melihat kucing betina itu untuk pertama kalinya. Butch mulai tertarik. Dia memeluknya dan menciumnya berkali-kali. Si kucing betina kemudian mencampakkan Tom dan beralih pada Butch, karena kekayaannya.

Tom kemudian mencoba memenangkan hati kucing betina itu lagi, ia tak peduli dengan permintaan Jerry untuk menyerah. Pertama dia memberikan kucing betina itu bunga dan parfum tetapi tidak berhasil. Kemudian Tom mengeluarkan semua uangnya untuk membeli cincin berlian. Sayangnya untuk Tom, Butch mempunyai cincin dengan berlian yang lebih besar dan berkilau yang tidak bisa dilihat begitu saja tanpa pelindung mata. Dan terakhir, Tom menyerahkan hidupnya, bekerja keras untuk membeli sebuah mobil. Sayangnya itu tidak berhasil, Butch mempunyai mobil yang lebih mahal (dan lebih panjang) di dunia.

Tom, sekarang patah hati, miskin, dan menyerahkan seluruh hidupnya, ia mencoba melupakan semuanya dengan mabuk-mabukan. Tom mencoba bunuh diri dengan tenggelam ke saluran pembuangan, sampai Jerry menyelamatkannya. Tom pingsan dan disadarkan oleh cipratan air. Tom benar-benar tidak mempunyai harapan hidup, saat dia melihat kucing betina itu menjadi istri Butch, mobilnya penuh dengan tumpukan hadiah, dengan tulisan "Just Married" di belakangnya.

Kemudian Jerry menjadi sedih akan cerita yang dialami Tom, beruntung Jerry mempunyai kekasih yang setia bernama Toots. Atau begitulah yang dia pikirkan. Tetapi, sayang untuk Jerry, kekasihnya meninggalkannya demi tikus lain, dan secara kebetulan, ia juga melihatnya sudah menikah.

Dan sekarang Jerry bergabung dengan Tom di rell kereta dan berdua sambil menunggu datangnya kereta untuk menabrak mereka. Suara peluit kereta mulai terdengar saat acara sudah selesai.

(Full episode bisa dilihat di sini:
http://www.dailymotion.com/video/x3xxbmn)

Riddle

1. Being Me by SleepCinema

Apa kau tahu betapa sulitnya menjadi diriku? Setiap bulan aku selalu dipaksa untuk mengubah kepribadianku. Segera setelah aku merasa nyaman dengan siapa aku sebenarnya, tiba-tiba aku dipaksa menjadi orang lain. Satu saat aku menjadi remaja pemalu yang hendak pergi ke pesta dansa dengan gaun yang mencolok. Namun bulan depannya, aku menjadi gadis sporty dengan pakaian renang yang sexy. Begitu banyak kepribadian hingga aku muak. Aku harap aku hanya perlu menjadi satu saja.

Jadi lain kali, jika kau pergi ke mall dan menganggap apa yang kupakai lucu, unik, dan imut, lalu mencoba mencari pakaian yang sama, ingatlah! Aku mungkin kaku dan tak pernah kau perhatikan serius, namun aku bisa merasa.

Dan aku bisa melihatmu.

=

2. Dinner Time by Orsamus

Aku tak pernah memasak kaki sebelumnya.

Seharusnya rasanya tak jauh beda dengan steak sapi ... atau mungkin berbeda? Mungkin itu tergantung dengan caramu memasak. Masukkan ke dalam oven, tunggu hingga matang, lalu keluarkan. Ovennya menggunakan gas dan aku sudah sangat berhemat menggunakannya selama dua minggu terakhir. Baru kali ini aku menggunakannya untuk memasak. Biasanya gas kugunakan untuk menghangatkan kabin ini ketika hawa dingin merasuk masuk melalui bagian bawah pintu dan melewati retakan-retakan kayu di jendela.

Tubuhku menggigil ketika rasa dingin merayapiku hingga ke tulang belakang. Aku mendekatkan tubuhku ke oven hanya untuk kecipratan sedikit rasa hangatnya. Rasa lapar ini mulai tak tertahankan. Aku harap dagingnya segera matang.

Aku sebenarnya tak mau membuang-buang gas yang begitu berharga ini untuk memasak, namun aku tak mau sakit gara-gara memakan daging mentah. Suara itu terdengar lagi dan bayangan tampak bergerak di bawah pintu, bergerak makin cepat dari sebelumnya.

Aku hanya bisa diam dan bersandar di kursiku. Well, bukan kursiku sih sebenarnya, ini juga bukan kabinku.

Dinding kayu kabin itu terus berderak. Mereka sedang mengelilinginya. Aku bisa mendengar erangan mereka. Aku berusaha memasuukan kapas ke dalam telingaku, namun aku masih bisa mendengar mereka.

Mereka masih di luar.

Sepertinya sudah matang. Aku membuka oven dan suara mereka makin keras. Mungkin mereka mencium baunya.

Aku dengan ragu menatap ke sekitarku sebelum memakannya. Empat sisi dinding, enam jendela, dan papan-papan kayu yang kutancapkan untuk menutupinya. Aku berusaha menutupnya serapat mungkin, namun bayangan mereka kadang masih berhasil menyusup masuk.

Bau masakan itu kembali menusuk hidungku, mengalihkan perhatianku sejenak dari mereka.

“Hmmm ... lezat!” tanpa sadar air liurku menetes ke daguku.

Mereka mengerang di luar. Mereka menggedor dinding dengan keras. Aku tahu mereka menginginkannya juga.

“LAPAR HA? KALIAN MAU?” teriakku mengejek.

Sudah dua minggu aku terjebak di sini dan makanan di sini semakin habis. Aku mengutuk diriku, kaki ini sebaiknya kuhemat. Namun dengan rasa lapar ini aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.

Aku menatap ke kakiku yang tersisa dan mulai merinding.

=

3. Keep the Shoebox by ecrowe

Ketika istriku hamil, aku sangat terkejut sekaligus bahagia. Kami baru saja menikah, bahkan belum berencana memiliki anak. Namun segalanya berjalan begitu cepat. Pada minggu ke-20, kami pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.

“Aku harap bayi perempuan.” katanya.

“Aku tak keberatan laki-laki atau perempuan. Setiap anak adalah keajaiban.” kataku.

Kami menunggu di kantor dokter untuk melakukan scan.

Sang dokter mengoleskan gel ke atas perut istriku. Ia menekan sensor dan mulai mencari.

“Selamat,” katanya, “Kalian akan memiliki anak laki-laki.”

“Apa kau dengar itu sayang?” kebahagiaanku melupap.

Ia tersenyum balik ke arahku.

Sepulang dari kantor, istriku terdiam. Hari berikutnya, aku mendapat telepon dari istriku saat sedang berada di kantor.

“A ... ada yang salah dengan kandunganku ... kumohon, cepatlah pulang ...”

Aku segera meminta izin pada bosku dan bergegas pulang.

Ketika aku tiba, aku segera berteriak mencarinya. Ada jejak darah di lantai, menuju ke toilet. Akupun mencarinya dan melihat istriku di depan kloset, muntah-muntah.

“Maafkan aku, Sayang ...” ia menangis, “Maafkan aku ...

Aku segera sadar apa yang telah terjadi.

“Bayinya keguguran ...”

Akupun duduk di sampingnya dan ikut menangis bersamanya.

***

Semenjak saat itu aku berusaha menghiburnya. Ia tampak sedih, namun aku terus mengatakan bahwa ini bukan kesalahannya.

“Apa ada yang bisa kulakukan untuk menghiburmu?” tanyaku.

"Apa boleh aku minta sepatu baru?”

“Sepatu baru?” aku keheranan.

“Ya, sepatu baru selalu membuatku gembira. Kau ingat sepatu yang kuinginkan terakhir kali kita berjalan-jalan di mall?”

Aku mengangguk dan segera membelikannya untuk istriku.

“Sepatu ini amat cantik.” akhirnya ia terlihat bahagia. “Apa kau bisa menaruhnya di rak?”

“Tentu, tapi apa kau tak mau mencobanya dulu?”

“Tidak sekarang. Aku sedang tak enak badan.”

Aku membuka lemari. Koleksi sepatunya sudah memenuhi rak. Aku menaruh sepatu baru itu di rak paling bawah.

“Bagaimana dengan kotak sepatunya?’ tanyaku, “Apa harus kubuang?”

“Jangan! Tolong simpan saja!”

“Oke!” aku meninggalkan ruangan dan menuju ke gudang untuk menyimpan kotak sepatu itu. Aku melihat tumpukan kotak sepatu dan segera menaruhnya di atas. Namun sesuatu menarik perhatianku. Aku mengamati kotak itu. Masing-masing dilabeli degan spidol dengan nama dan tanggal di atasnya.

Adam 12/01/16. John 03/05/15. Mike ...

Semuanya adalah nama laki-laki. Dengan gugup aku mengangkat salah satu.

Berat.

Bahkan tanpa membukanya, aku sudah tahu apa isinya.

Aku rasa dia benar-benar menginginkan anak perempuan.

===

Source : mengakubackpacker2nd.blogspot.co.id

===

The Dare Game

Story by MechDog2395 / thorlord

Matt dan aku berkenalan di kemah musin panas. Umur kami sama dan tak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi sepasang sahabat. Bahkan, teman-teman kami mengira kami bersaudara.

Kami seringkali bermain “Dare” di perkemahan.

Suatu hari, kami menemukan sebuah pondok kayu tua di dalam hutan. Tempat itu terlihat tak terawat dan menakutkan.

“Kutantang kau untuk mengetuk pintu!” tantang Matt.

Aku berjalan mendekati pintu dengan perlahan lalu mengetuknya dua kali. Sesegera mungkin aku langsung berlari kembali.

“Aku tantang kau mengintip melalui jendela!” aku balik menantang.

Dia pergi mendekat dan melihat melalui jendela. Namun kemudian dia kembali dan mengatakan bahwa ia tak bisa melihat apa-apa karena debu yang menempel tebal di kaca. Namun ia mengira melihat sebuah dapur tua di dalam.

“Giliranku,” kata Matt, “Kutantang kau kembali ke pintu dan membukanya!”

Aku berjalan mengendap-ngendap lagi ke depan pintu dan membukanya. Ternyata mudah sekali, bahkan tak dikunci.

“Krieeeeet ...” pintu itu mengeluarkan suara deritan ketika dibuka. Akupun segera berlari kembali ke tempat kami berdiri tadi.

“Pintunya nggak dikunci dan sepertinya tak ada siapapun di dalam.” Kataku, “Baik, sekarang giliranku. Kutantang kau untuk masuk ke dalam!”

“Apa kau yakin tak ada orang di sana?” tanyanya.

Aku mengangguk. Matt mengambil napas panjang dan melakukannya. Dia masuk ke dalam pondok itu melalui pintu yang tadi kubuka.

Aku tak bisa melihat apapun karena kegelapan yang menyelimuti bagian dalam pondok.

Akupun menunggu Matt untuk kembali sembari berpikir tantangan apalagi yang akan diberikannya sebagai balasan.

Namun, Matt tak kunjung keluar.

Aku merasa tak sabar. Namun segera, perasaan itu digantikan dengan rasa takut. Bagaimana jika ada seseorang di dalam dan menangkap Matt? Aku mengendap-endap kembali ke arah pintu. Baru saja aku mau menengok ke dalam ketika tiba-tiba pintu itu terbanting menutup! Aku amat terkejut hingga jatuh tersungkur ke belakang.

Aku lari sekencang mungkin ke arah hutan. Aku panik sekarang. Aku ingin kembali ke sana untuk mencari Matt, namun aku terlalu takut.

Tiba-tiba seseorang meraih bahuku dari belakang.

Aku berteriak dan jatuh tersungkur lagi. Namun kali ini aku mendengar suara tawa Matt. Aku menoleh dan menemukannya berada di belakangku.

“Matt!” teriakku, “Sialan kamu! Ini sama sekali nggak lucu!”

Matt memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak. Ia membuatku semakin kesal.

“Matt, aku serius! Tadi kupikir terjadi sesuatu denganmu!”

Aku mencoba berjalan kembali dengan kesal, namun Matt menghentikan langkahku. Ia meyakinkanku bahwa tadi hanyalah lelucon dan sebaiknya kami lanjut bermain. Namun aku sudah tidak “mood” lagi.

“Ayolah!” bujuk Matt, “Satu kali lagi lalu kita kembali ke perkemahan, oke?”

“Oke.” Aku akhirnya menyerah, “Apa tantangannya?”

“Aku menantang kamu masuk ke dalam pondok untuk menemukan Matt yang asli.”

===

Source : mengakubackpacker2nd.blogspot.co.id

===

Kejoro : Hantu Cantik Berambut Panjang Dari Jepang


(Source : japanesestation.com)

Kejoro adalah hantu Jepang dengan wajah dan tubuh yang tersembunyi di balik tirai panjang dan rambut kusut. Umumnya hantu ini sering dipersepsikan dengan hantu Pekerja Seks Komersial atau segala hal yang berhubungan dengan dunia prostitusi karena hantu ini sering muncul di daerah lampu merah dan sekitar daerah pelacuran. Dalam kebanyakan cerita, rambut di kepalanya sangat tebal dan panjang yang menutupi seluruh tubuhnya.

Biasanya korban hantu ini adalah para pemuda yang sering pergi ke daerah prostitusi dan distrik lampu merah. Kejoro akan mengikuti pria tersebut dari belakang dan setelah pria tersebut menyadari keberadaannya maka Kejoro akan mengajak pria tersebut untuk mengobrol. Dan ketika dia berbalik, maka seketika pria tersebut akan terkejut karena seluruh tubuh Kejoro ditutupi oleh rambut yang tebal dan panjang. Namun, meskipun demikian korban kematian yang dilakukan oleh Kejoro terhitung sangatlah jarang.

Hantu ini cukup populer, namun kepopulerannya ini hanya terjadi di dunia gaib. Tak jarang hantu (yokai) pria sangatlah sering untuk bersaing mendapatkan hantu Kejoro. Dalam beberapa cerita Kejoro akan memotong rambutnya dan mengirimkan ke kekasihnya baik itu manusia ataupun yokai, bahkan mentato nama kekasihnya ke kulitnya untuk membuktikan pengabdian abadi hantu tersebut.

Tragedi Karōshi di Jepang


(Source : neomisteri.com)
Karōshi merupakan bahasa Jepang yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “kematian akibat bekerja terlalu keras”. Karōshi merupakan fenomena yang marak terjadi di Jepang.
Dari pemeriksaan medis terhadap para korban Karōshi, biasanya mereka tewas karena serangan jantung dan stroke yang diakibatkan stres karena beban pekerjaan serta diet menahan lapar.

Kasus pertama dari Karōshi dilaporkan terjadi pada tahun 1969. Terkait tewasnya seorang pekerja berusia 29 tahun di sebuah pengiriman sebuah perusahaan surat kabar terbesar di Jepang.
Selanjutya, kasus Karōshi menjadi wabah di era 1980-an selama gelembung Ekonomi. Bermula dari meninggalnya sejumlah eksekutif bisnis yang tewas mendadak tanpa tanda-tanda sebelumnya.

Fenomena baru ini langsung menjadi perbincangan dan dengan cepat muncul istilah "Karōshi". Dan segera, Karōshi dipandang sebagai ancaman baru nan serius bagi orang-orang dalam usia kerja.
Para pekerja dipaksa bekerja selama 12 jam atau lebih dalam sehari, 6-7 hari seminggu serta lembur tanpa dibayar. Ini membuat penderitaan secara fisik maupun mental.
Selama resesi ekonomi jangka panjang setelah runtuhnya gelembung ekonomi pada 1980-an dan 1990-an, banyak perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Namun jumlah pekerjaan tidak menurun yang memaksa setiap karyawan untuk bekerja lebih keras.
Dalam resesi ekonomi, sejumlah perusahaan cenderung menuntut penjualan berlebihan kepada karyawan dan terus meminta mereka mencapai hasil yang lebih baik. Ini berpengaruh pada beban psikologis para pakerja.
Gejala ini membuat sejumlah perusahaan di Jepang langsung bereaksi cepat dengan menciptakan keseimbangan untuk kehidupan yang lebih baik buat para pekerja mereka.

Salah satu perusahaan otomotif besar di Jepang membatasi lembur untuk 360 jam per tahun (rata-rata 30 jam per bulan). Di beberapa kantor, dibuat pengumuman yang menunjukkan pentingnya istirahat dan mendesak para pekerja untuk pulang .
Meski demikian, kasus Karoshi tidak hilang begitu saja. Pada tahun 2008, Karoshi kembali menjadi berita utama di media-media massa terkait meninggalnya seorang insinyur yang rata-rata bekerja lembur lebih dari 80 jam setiap bulan.

Berikutnya, media di Taiwan juga pernah mengabatkan tentang meninggalnya seorang insinyur diduga karena Karōshi. Dia ditemukan meninggal di depan komputernya yang dikelilingi oleh dokumen perusahaan.
Sang insinyur diduga meninggal karena mengalami kardiogenik. Orangtua sang insinyur mengatakan anaknya biasanya bekerja selama 16 hingga 19 jam sehari.