Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

MUSLIM ROHINGYA

Namanya ALI, bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan saya di bagian electrical ( instalasi listrik ), ali berasal dari myanmar keturunan bangladesh, ia seorang muslim burma/rohingya, sudah lama bekerja di malaysia sebagai pekerja konstruksi bangunan.

Suatu hari di jam istirahat kerja, kami ngobrol tentang kampung masing-masing, tentang keluarga dan sebagainya, hingga saya bertanya padanya perihal berita di media-media tentang pembantaian muslim rohingya, ali dengan tegas menjelaskan bahwa yang sebenarnya terjadi di myanmar bukan konflik agama islam vs budha, yang pemerintah myanmar tangkap itu imigran gelap dari bangladesh, mereka mencaplok tanah milik pemerintah myanmar, mereka mengakui bahwa itu tanah syah milik mereka ( kasusnya persis seperti kasus sampit vs madura di kalimantan ), mereka menamai tanah milik negara myanmar itu dengan nama BURMA, padahal itu masih dalam kawasan kekuasaan dan kedaulatan negara myanmar, sudah di beri peringatan baik-baik para pendatang gelap itu malah di provokasi salah seorang radikal dengan semangat jihad menentang pemerintah syah myanmar selaku pemilik tanah burma dengan dalih bahwa "tanah burma adalah milik Allah, bumi Allah ( persis slogan penggila khilafah di indonesia ).

Keterangan yang sama persis juga saya dengar dari kawan saya pribumi asli myanmar beragama budha yang bekerja di bagian instalasi pipa air, pendatang atau keturunan syah dan resmi seperti ali dan keluarganya tentu dalam keadaan aman dan baik-baik saja di bawah naungan hukum negara myanmar.

Di myanmar sana, muslim rohingya di provokasi oleh "oknum" untuk melawan, berontak, makar dan radikal atas nama "agama". Dan kita di mana saja, di berita-berita dan media masa di bodohi dan di bohongi seolah yang terjadi adalah genosida pembantaian terhadap muslim rohingya oleh budha myanmar, tak ayal foto-foto hoax, editan atau apapun berbagai cara oknum media untuk mendidihkan darah umat muslim di muat sesering dan sebanyak mungkin dengan seruan jihad dan di sertai nomor rekening untuk donasi yang dananya entah bermuara pada siapa, kemana dan di mana, tentunya para provokator inilah yang menikmati hasil keuntungannya.

Atas nama agama memang cara paling ampuh untuk membenturkan dua kubu, mencerai beraikan yang bersatu, memporak porandakan yang kokoh, serta menyulap si bodoh menjadi mujahid, dan si dungu menjadi syahid, padahal peranan akal sehat dalam beragama juga sama pentingnya bukan sekedar semangat menggebu membela agama, bukan meledakkan diri dengan menjadikan diri, keluarga dan orang-orang tak bersalah sebagai tumbalnya.

Allah maha tunggal tidak butuh tumbal untuk tetap kekal, dan tuhan sudah membekalimu dengan akal jika akalmu berfungsi tentu kau tergolong sebagai umat kanjeng nabi yang berakal, bukan menjadi jahil dan nakal, dikit-dikit jihad, dikit-dikit penggal.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1309180115778245&id=100000588060880

Minggu, 03 September 2017

ROHINGYA BUKAN KONFLIK AGAMA


baca nih supaya gak bego.. tragedi Rohingya BUKAN konflik agama.. kalau itu konflik agama apa susahnya buat Allah SWT bikin supaya biksu2 itu disamber geledek? 😁

karena yg terjadi disana ada kepentingan ekonomi tidak beda dengan di Timur Tengah yakni urusan Sumber Daya Alam

Daerah Rakhine kaya minyak dan gas, dan pemerintah Myanmar sudah kasih konsesi kepada konglomerasi minyak dunia

MILITER Myanmar terlibat berkedok Biksu2 untuk mengaburkan motif sebenarnya, tidak beda dengan invasi AS ke irak berdalih "perang lawan terorisme" padahal bisnis Halliburton dikendalikan Dick Cheney wapresnya George Bush

Begitu juga penggulingan Muamar Khadafi di Libya yg dipicu oleh Khadafi batalkan kontrak minyak dengan BP British Petroleum & ingin berikan konsesi kepada Tiongkok

Sama halnya dengan perang Suriah yg merupakan ambisi koalisi Barat Amerika, Saudi, dkk gulingkan rezim Assad sekutu dari blok Timur Rusia, Tiongkok dan Iran, dibungkus cerita perang "sunni vs syiah" agar keledai2 dungu mau berbondong bondong mengantar nyawa ke Suriah DIBOHONGI tipuan "jihad"

Tidak ada konflik di dunia ini tanpa kepentingan ekonomi di belakangnya sahabat.. tapi sayangnya memang butuh kecerdasan ekstra untuk mencerna informasi seperi ini

dan sayangnya Tuhan seperti cinta pada orang dungu.. karena Ia menciptakan mereka begitu banyak di dunia ini yang mudah dibohongi oleh propaganda dikit2 ini urusan agama, dikit2 itu urusan agama

Saya mengutuk tragedi kemanusiaan di Myanmar, mengutuk militer Myanmar yang menggoreng ini jadi "isu agama"

#BoikotHamishDaud

ROHINGYA : AGENDA SURIAH JILID II ?

Ada indikasi konflik Rohingya ini sebenarnya adalah konflik perebutan sumber daya alam dengan memanfaatkan isu SARA sebagaimana yang juga terjadi di Suriah. Jika di Suriah konflik ditengarai bermula saat Presiden Bashar Assad menolak proyek pompa gas menuju Qatar, Arab Saudi, Yordania dan Turki yang dapat disedot oleh Eropa secara langsung. Amerika berkepentingan untuk menjatuhkan Suriah yang pro Iran dan pro Rusia serta menguasai sumber daya minyaknya.

Amerika juga berkepentingan untuk melemahkan Suriah yang konsisten menjadi ancaman bagi sekutunya yaitu Israel di kawasan Teluk. Bersama sekutunya seperti Arab Saudi dan negara-negara lain serta melalui berbagai media mainstream internasional mereka melancarkan propaganda dan penyesatan opini publik yang mengaitkan isu ini sebagai perang sektarian antara Sunni dan Syiah. Jaringan Wahabi Internasionalpun mengekspos kasus ini sehingga berdatanganlah para jihadis dan radikalis Islam dari seluruh dunia untuk terlibat dalam konflik ini. Adapun negara-negara yang terlibat dalam perang Suriah ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Turki, Arab Saudi, Qatar, Rusia dan Iran.

Nah di Rohingya ini agenda yang sama sepertinya juga berusaha diterapkan untuk menguasai sumber daya alam minyak dan gas yang terletak wilayah Arakan - Rakhine yang di huni mayoritas etnis Rohingya. Dengan memanfaatkan isu SARA, etnis Rohingya berusaha diusir atau bahkan dilenyapkan dari wilayah tersebut agar sumber daya alamnya bisa dikuasai oleh Junta Militer Myanmar yang dipimpin oleh Jendral senior Min Aung Hlaing. Dengan menghembuskan isu SARA melalui tokoh agama ekstrimis dan radikal yaitu Ashin Wirathu maka dimulailah pengusiran dan penindasan kepada etnis muslim Rohingya.

Berikut ini adalah copas data dari Dr. Mahmud Syaltout, Wakil Sekjen GP Ansor :

1). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9 % CNPC (China), 25,04% Daewoo International (Korea), 8,35% ONGC (India), 7,37% MOGE (Myanmar), 4,17% GAIL (India) dan 4,17% investor-investor swasta lainnya;

2). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51% Daewoo International (Korea), 17% ONGC (India), 15% MOGE (Myanmar), 8,5% GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea);

3). Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia). Kemudian, Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi. Wilayah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru, dan beberapa blok lainnya jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini; dan

4). Blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand). Kemudian, MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi, di mana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini.

Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai apa yang terjadi di Suriah dan Myanmar juga terjadi di negeri ini. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tentunya akan menarik banyak negara Adi Daya untuk turut bisa menikmati dan menguasainya. Dan dengan memanfaatkan kebodohan massa dan sentimen agama maka strategi adu domba pun bisa dilaksanakan untuk memecah belah negeri ini. Melalui mulut para provokator dan tokoh agama radikal maka akan sangat mudah untuk bisa menerapkan agenda ini.....

Salam Waras

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1657277217617325&id=100000051895419

Sabtu, 02 September 2017

DIBALIK ROHINGYA

Krisis di Rohingya itu mirip-mirip DOM atau Daerah Operasi Militer dulu di Papua dan Aceh saat Orde Baru..

Penindasan yang dilakukan rezim Myanmar terhadap warga Rohingya yang mereka juluki Bengala - karena asalnya dari Bangladesh - memicu kemarahan dari para pemuda yang melawan.

Mereka akhirnya juga membunuhi para polisi, tentara dan warga yang pro pada rezim. Dan serangan mereka dibalas..

Jika disana ada faktor "agama", tidak lebih dari karena mayoritas yang pro rezim beragama Budha dan warga Rohingya beragama muslim. Jadi faktor utamanya bukan karena permusuhan antar umat beragama..

Dipeliharanya konsep "perang agama" untuk melancarkan pertikaian disana. Dibalik semuanya ada faktor penguasaan wilayah yang kaya akan sda.

Jadi ga usah sangkut pautkan dengan umat agama Budha di Indonesia ya. Konflik mereka bukan konflik kita. Kutuklah atas rasa kemanusiaan, bukan karena agama seseorang.

Ngarti ora, son ? Seruput dulu ah..

Jumat, 28 Juli 2017

Kenapa Presidensial Threshold 20 persen ?

TIDAK MUDAH BERPIKIR SEPERTI JOKOWI..

Awalnya saya juga heran, kenapa kok Jokowi mendukung Presidensial Threshold 20 persen ?

Presidensial Threshold ( PT ) adalah ambang batas pemilihan capres. Dengan PT 20 persen itu, berarti mewajibkan syarat dukungan 20 persen kursi supaya bisa memilih Capres.

Nah dengan adanya PT ini, maka tidak ada partai yang bisa memilih sendiri capres-nya. Mereka harus berkoalisi dengan partai lain.

Inilah yang ditentang partai2 kelas bantam dan kelas bulu yang terus mendesakkan bahwa PT 0 persen.

Kalau PT 0 persen, maka partai manapun bisa mencalonkan capres. Kalau itu terjadi, kita bisa melihat di pilpres 2019 capresnya beragam. Mulai Rhoma Irama, Tukul, Mamah Dedeh bahkan sampe Jonru Ginting bisa jadi capres asal ada partai yang dukung.

Demokrat nafsu banget supaya PT 0 persen. Kenapa ? Ya, apalagi alasannya supaya Agus anak tersayang keluarga bisa ikut nyapres. Uang ada, partai ada, apalagi yang kurang ?

Sayangnya, DPR akhirnya memutuskan bahwa PT harus 20 persen. Maka sibuklah partai-partai saling merapat supaya bisa memenuhi ketentuan. Dan kita melihat pak "lebaran kuda" akhirnya dengan malu-malu merapat ke pak "penunggang kuda". Mungkin karena sama-sama hobi kuda..

Kembali ke pertanyaan pertama, kenapa Jokowi kok mendukung PT 20 persen ?

Sebenarnya dari hitungan beberapa teman, jika PT 0 persen, maka Jokowi lebih bisa memenangkan pertarungan. Kok begitu ? Ya, karena sementara ini suara untuk Jokowi solid sedangkan tokoh lain masih mencair.

Dengan PT 0 persen, maka suara pemilih akan terbagi kemana-mana dan - mungkin - setiap capres tidak akan mendapat lebih dari 30 persen suara saat pilpres nanti. Nah yang suara pemilihnya tertinggi jelas Jokowi.

Dalam artian jika akhirnya PT 0 persen, maka yang diuntungkan adalah Jokowi.

Lalu kenapa Jokowi tidak memanfaatkan situasi itu dengan mendukung PT 0 persen ?

Ternyata jawabannya, supaya tidak terjadi dua putaran pemilu. Jokowi berusaha menghindari pemilu dua putaran karena ongkosnya sangat mahal.

Sebagai perbandingan saja, pilpres 2014 kemarin sudah menghabiskan dana hampir 8 trilyun rupiah. Putaran pertama 4 trilyun rupiah, dan putaran kedua disiapkan dana 3,9 trilyun rupiah.

Sayang kan dana itu dipake buat pesta demokrasi disaat kita membutuhkan dana untuk pembangunan infrastruktur ?

Dengan PT 20 persen, diperkirakan hanya ada dua capres yang bertarung dan Jokowi salah satunya. Jika hanya dua capres saja, maka tidak perlu lagi ada putaran kedua. Kita save dana 3,9 trilyun rupiah..

Tidak egois, itulah yang akhirnya terbersit dalam pikiran. Jokowi memikirkan banyak sisi termasuk bagaimana menyelamatkan uang negara dan pembangunan. Sedangkan yang lain masih hanya memikirkan bagaimana supaya menang..

Tidak mudah berfikiran seperti itu ketika ada peluang.

Seperti tidak mudahnya menyingirkan secangkir kopi dalam pikiran, walaupun dokter sudah melarang..

Seruput....
By Denny Siregar

Kamis, 27 Juli 2017

Tahukah Anda kenapa Suriah hancur? 


================================

Karena Presiden Suriah Bashar Assad menolak proyek pompa gas menuju Qatar, Arab Saudi, Yordania dan Turki yang dapat disedot oleh Eropa secara langsung. Arab Saudi dan Turki adalah kroni Amerika yang pro Israel. Negara-negara itulah yang kemudian menciptakan kekacauan, pemberontakan, terorisme dan instabilitas politik di Suriah dengan isu SARA melalui kucuran dana, senjata, buku agama, fatwa, ulama dan ideologi Wahabi radikalnya.

Amerika berkepentingan untuk menjatuhkan Suriah yang pro Iran dan pro Rusia serta menguasai sumber daya minyaknya. Amerika juga berkepentingan untuk melemahkan Suriah yang konsisten menjadi ancaman sekutunya yaitu Israel di kawasan Teluk. Bersama Arab Saudi, Turki dan berbagai media mainstream internasional mereka melancarkan propaganda dan penyesatan opini publik yang mengaitkan isu ini sebagai perang sektarian antara Sunni dan Syiah.

Akhirnya ribuan mujahid Wahabi dari seluruh dunia berkumpul di Suriah dan mengakibatkan Perang Saudara yang meluluhlantakkan Suriah, negara demokratis dan pluralis yang sebelumnya secara ekonomi dan politik termasuk paling mapan di kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade. Inilah yang disebut sebagai strategi Proxy War (Perang Boneka) yang mungkin juga sedang dijalankan di Indonesia saat ini.

Ada video rekaman saat Hillary Clinton mengucapkan “mari kita manfaatkan Wahabi” di sidang parlemen Amerika. (ada kemungkinan Hillary kalah dalam Pilpres Amerika karena email pribadi dia diretas oleh Rusia yang pro Asaad dan disebarkan ke seluruh amerika bahwa Hillary menerima kucuran dana dari Arab ke yayasan Clinton yang mengindikasikan keterlibatannya dalam pembentukan teroris ISIS). Banyak juga bukti keterlibatan Arab Saudi, Turki dan Amerika dalam perang Suriah ini. Ratusan mujahid Indonesia juga berangkat ke Suriah karena isu perang Sunni-Syiah yang dihembuskan oleh fatwa dan ideologi Wahabi yang disponsori oleh Turki dan Arab Saudi yang merupakan kroni Amerika dalam “perang minyak yang mengatasnamakan agama” ini.

Dari Suriah mari kita berkaca pada kejadian sejarah di Indonesia. Pada Agustus 1959 Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson bertemu dengan Jan van Gruisen, managing director dari East Borneo Company yang menceritakan bahwa dirinya baru saja  menemukan sebuah gunung emas di Papua. Freeport pun memutuskan untuk meneken kontrak eksplorasi dengan East Borneo Company pada 1 Februari 1960.

Tapi perjanjian kerja sama antara East Borneo Company dan Freeport menjadi mentah karena Pemerintahan AS yang saat itu dikuasai John F Kennedy (JFK) justru membela Indonesia, dan mengancam akan menghentikan bantuan Marshall Plan kepada Belanda jika tetap ngotot mempertahankan Irian Barat. Tapi kemudian Kennedy mati ditembak pada 22 November 1963.

Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak pertambangan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Amerika sebagai salah satu dari investor pertambangan terbesar di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Selama beberapa dekade, CIA telah terlibat dalam berbagai upaya untuk membunuh dan menjatuhkan Sukarno. Sudarto Danusubroto, pengawal pribadi dan ajudan Sukarno mengatakan ada 7 kali percobaan pembunuhan terhadap Soekarno dan hal ini dibenarkan oleh eks Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan. Usaha kudeta pertama pada tahun 1958 gagal mengguncangkan pemerintahan Sukarno. Tetapi pada tahun 1965, mereka akhirnya berhasil menyingkirkan Sukarno.

Peran penting Suharto menempatkannya di kursi kepresidenan pada tahun 1967. Pada tahun 1998, Pemerintah Amerika mengklasifikasikan sejumlah dokumen yang menggambarkan berbagai operasi rahasia CIA di Indonesia. Kesuksesan dari strategi CIA di Indonesia digunakan lagi untuk menggulingkan Presiden Cile, Salvador Allende melalui kudeta tentara pimpinan Jendral Agusto Pinochet dengan nama sandi " Jakarta Operation."

Pasca Suharto berkuasa perjanjian komposisi saham PT. Freeport Indonesia adalah 81,28% dimiliki oleh Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. (AS), 9,36% milik Pemerintah Indonesia dan 9,36% dimiliki oleh PT. Indocopper Investama milik Bob Hassan, kroni Soeharto (namun kini dikuasai Bakrie, jadi jangan heran jika TV One milik Bakrie dulu selalu anti Jokowi). Sejak pertama penambangan sampai saat ini, PT. Freeport konon sudah menghasilkan sebanyak 724,7 juta ton emas (angka ini mungkin bisa ditelusuri lagi kebenarannya, yang jelas ada banyak sekali) dari bumi Indonesia yang hasilnya sebagian besar dikuasai oleh Amerika dan pejabat korup Indonesia.

Semenjak Jokowi berkuasa, para pejabat korup dan Amerika kalang kabut karena kenikmatan dan pundi-pundi uang mereka makin terancam. Selama ini semua negosiasi berhasil dimenangkan oleh Freeport. Presiden sebelumnya tidak ada yang berani menaikkan bergaining apalagi mengubah dari Kontrak Karya menjadi Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Kali ini, dengan sikap Jokowi yang berani dan koepig (keras kepala) Freeport tak berdaya dan akan memberikan divestasi saham 51 persen kepada pemerintah. Akhirnya Freeport kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Amerika tentu tidak tinggal diam dengan kerugiannya yang luar biasa ini. Pokoknya Jokowi harus hancur dan hal ini bisa dilakukan melalui rekayasa isu SARA untuk menggoncang pemerintahan sebagaimana yang selama ini telah menghasilkan banyak kesuksesan di Timur Tengah dalam “perang perebutan ladang minyak”nya. Dan Amerika punya sekutu yang sangat menguntungkan yaitu Arab Saudi dan Turki yang memiliki jaringan dana, fatwa dan ulama untuk mengimport ideologi wahabi radikal ke negeri ini yang akan menciptakan konflik dan instabilitas dalam negeri.

Menjatuhkan Ahok melalui isu SARA adalah langkah awal untuk bisa menjatuhkan Jokowi dan kemudian menguasai Indonesia. Setelah isu Syiah gagal diterapkan kini mereka ganti menghembuskan isu anti Cina dan anti PKI persis seperti strategi dan propaganda CIA tahun 1965 lalu dengan aktor politik Suharto dengan TNInya.

Ikhwanul muslimin (di Indonesia menjadi PKS) dan Hizbut Tahrir (di Indonesia menjadi HTI) adalah kelompok-kelompok yang turut memprovokasi kehancuran Suriah melalui demo dan isu SARA yang mereka hembuskan. Jadi jangan heran jika huru hara politik di negeri ini juga melibatkan kelompok yang sama. Saat Indonesia terpecah karena perang saudara atas dasar SARA maka saat itulah kekuatan asing akan masuk dan leluasa menguasai sumber-sumber daya alam Indonesia yang kaya raya ini.

Orang bodoh akan selalu dimanfaatkan dan dipermainkan oleh orang serakah yang cerdas dan culas. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri ini dimana sekumpulan orang bodoh yang anti Amerika secara tanpa sadar justru sedang diperalat dan dijadikan pion untuk membantu Amerika mendapatkan tujuan politik dan ekonominya. Ini adalah masalah politik, duit dan kekuasaan dengan menjual kedok agama, bukan masalah iman, Tuhan dan sorga neraka.....

Salam Waras bin Cerdas.
Beda pendapat boleh, goblok jangan.

Sabtu, 24 Juni 2017

BRUNEI, NASIBMU KINI...

Entah ini tulisan siapa ( ternyata tulisan babo Erizeli Jely Bandaro ), saya dapat dari grup whatsapp tentang situasi dan kondisi Brunei Darussalam sekarang yang - dulu - selalu dibahasakan sebagai negara sejahtera, kaya dan sebagainya.

Sekarang perlahan-lahan menuju negara gagal karena salah kelola.

Bacaan menarik menjelang berbuka..

Brunei menuju lubang kejatuhan
( Politik dan ekonomi).
Copas Dari DDB group

Waktu di Kuala Lumpur minggu lalu , ketika sahur saya ngobrol dengan tamu hotel yang berasal dari Brunei.

Kami kenalan dan semakin akrab karena dia mengenal banker yang saya sebut sebagai sahabat yang pernah berkarir sebagai GM Baiduri Bank, Brunei.

Menurutnya Brunei sedang berada di putaran krisis yang menuju lubang spiral yang tak berujung. Saat sekarang difisit APBN Brunei telah mencapai 16 %. Bandingkan dengan Yunani yang dinyatakan negara bangkrut karena difisit anggaran mencapai 15,7%.

Walau kini Brunei nampak baik dipermukaan namun didalamnya sangat rapuh. Banyak asset Sultan yang nilainya USD 27 miliar di gadaikan atua dijual ke pihak lain untuk mengalirkan cash flow kedalam anggaran Brunei. Hanya masalah waktu asset ini akan habis karena saat sekarang menjual asset tidak muda. Ada harga tapi susah pembeli.

Apa penyebabnya ? Menurutnya karena 90% penerimaan negara berasal dari Minyak. Karena harga minyak dan gas terus turun maka PDP Brunei dari tahun ketahun sejak 2008 terus kontraksi.

Sementara penerimaan dari Pajak tidak ada. Karena Kesultanan tidak menerapkan pajak penghasilan dan penjualan. 402.000 Penduduk Bruney bukan asset negara. Mereka adalah beban. Karena 80% mereka jadi PNS namun posisi akhli tetap di pegang asing. Kegiatan dunia usaha sangat kecil sekali perannya dalam PDP. Investor asing yang masuk masih terbatas pada MIGAS. Tingkat kemudahan berusaha di Brunei anjlok sampai ke peringkat 84 di Dunia. Jauh dari negara negara ASIA Pacific.

Dulu, katanya , ketika harga minyak masih normal dan tinggi, Brunei menempati urutan ke 4 negara dengan tingkat PDP perkapita tertinggi didunia.

Karena pendapatan yang melimpah itu maka kontrak sosial Kesultanan kepada rakyat di laksanakan secara luas. Rakyat dapat bagian dari kemelimpahan; jaminan pendidikan gratis sampai universitas. Kesehatan yang gratis. Subsidi perumahan yang besar.  Jaminan biaya hidup bagi pengangguran. Namun keluarga mendapatkan banyak. Bahkan keluarga sultan masuk 25 orang terkaya di dunia dengan kehidupan Istana yang punya ratusan harem dari manca negara. Namun Rakyat tidak peduli.

Tapi saat-saat yang indah penuh pesta telah  lama berlalu: Harga global untuk satu barel minyak telah anjlok 40 persen sejak Januari 2015 dan 78 persen sejak nilai puncaknya pada tahun 2008.

Penghasilan dari hidrokarbon terdiri dari 90 persen pendapatan pemerintah - karena pendapatan pemerintah tersebut telah turun sekitar 70 persen dibandingkan dengan tahun fiskal 2012/2013.

Meskipun telah memangkas anggaran $ 6,4 miliar pada 2015/2016 sekitar 4 persen dibandingkan tahun lalu, pemotongan pengeluaran lebih banyak akan terus menggelembung disemua sektor. Ini pilihan sulit. Tapi seperti Sultan masih berharap harga minyak terus membaik. Makanya bukannya melakukan diversifikasi bisnis tapi justru semakin menambah kapasitas produksi MIGAS.

Peluang investasi jasa seperti Perhotelan tidak menarik orang asing untuk datang. Karena larangan miras dan hiburan. Sektor perbankan syariah tidak bisa berkembang di sana karena krediti konsumsi yang lesu darah akibat harga barang yang melambung.

Maklum Brunei mematok kurs sama dengan Sing Dollar. Semakin melemah dollar singapore semakin mahal harga barang. Makanya banyak tenaga kerja asing yang hengkang dari Brunei dan tenaga kerja lokal yang akhli juga pindah ketempat lain yang memberikan pendapatan lebih baik dan living cost yang murah.

Kontrak sosial sebagai cara mempertahanan kekuasan dari rakyat yang botol (bodoh dan tolol ) tak akan bisa terus dipertahankan karena semakin lama defisit anggaran semakin melebar. Pemotongan anggaran sosial tentu akan menjadi api dalam sekam. Kapan saja bisa membuat rakyat marah. Karena mereka terbiasa disuapi , bukan hidup dari kreatifitas semangat juang memberikan kontribusi nyata kepada negara.

Sementara gaya hidup keluarga sultan tidak berubah. Di luar negeri mereka hidup glamor bagaikan selebritis. Sudah saatnya Sultan harus menjelaskan kepada rakyatnya soal perlunya reformasi anggaran kepada rakyatnya.

Apakah mungkin. Ataukah terus bertahan sampai tidak ada lagi income untuk mengongkosi rakyat yang manja dan negara bubar dengan sendirinya karena gelombang demokrasi yang memaksa sultan angkat kaki..

“ Mereka ( Keluaga Sultan ) tidak pernah berpikir sedang mengelola negara tapi mengelola King incorporation. Semua resource milik negara yang juga otomatis milik Keluarga Sultan. Sementara Syariah islam dan ulama hanya di jadikan tameng agar rakyat tetap patuh kepada Sultan. Taat kepada pemimpin adalah soal aqidah. Melanggar itu akan masuk neraka atau dianggap kafir.

Ya hanya masalah waktu, Brunei akan menjadi Icon betapa buruknya kekuasaan absolut hanya karena orang mengaku wakil Tuhan untuk menguasai semua sumberdaya tanpa ada transfaransi..”

Kamis, 20 April 2017

AHOK KALAH ! BAGAIMANA 2019 ?


Ada yang katakan Ahok kalah karena lawan gunakan isu SARA, ada yg katakan karena Masjid2 di kuasai kubu lawan, ada yang katakan karena Tim Ahok terlena dengan Sosmed, Saksi yang lemah, Tim yang tidak terorganisir, managemen isu yang tidak tepat dll.

Sebenarnya itu semua alasan2 yang bersifat Teknis. Kalau bicara perang terbuka maka kemenangan tidak hanya ditentukan bagaimana taktik dan teknik perang tapi yang lebih penting adalah bagaimana memotong jalur logistik lawan.

Contoh sederhana nya jangan takut dengan jumlah pesawat tempur lawan, pastikan saja pesawat itu tidak punya bahan bakar maka jejeran pesawat itu hanya jadi monumen yang enak utk dijadikan objek Selvie.

Gampang kan? Seperti cerita perebutan benteng zaman kerajaan. Tak perduli berapa tinggi dan tebal tembok benteng itu, jika gandum, daging dan air tidak mereka miliki maka dalam hitungan hari atau minggu pasukan akan keluar dengan bendera putih atau paling ekstrim menjadi kanibal diantara mereka.

Secara logika, tanpa logistik tidak mungkin ada 411, 212, 313 hingga wisata Al Maidah. Tanpa logistik maka massa hanya teronggok di daerah masing masing karena tidak ada bis yang mengangkutnya. Sama seperti Marinir USA, kalau tak ada kapal ya pilihannya berenang menembus samudera berhadapan dengan hiu dan ombak badai lalu sampai medan perang tinggal kulit berbalut tulang atau diam saja tidur di Barak.

Apakah logistik Ahok lemah? Tidak ada yang bisa jawab berapa selisih logistik ke dua paslon tapi yang jelas Ahok Djarot tidak mampu mengadakan mobilisasi massa seperti 411, 212, 313 maupun wisata Al Maidah. Yang pasti Ahok tidak mampu membranding sembako nya dalam pasar murah tidak seperti no 3 yang dari beras, gula, sabun colek, parfum mini, minyak sawit dan air mineral yang semua di kemas "Anies Sandi" lalu tertata rapi dalam kardus yang juga di beri merk "Anies Sandi". Sementara sembako murah Ahok Djarot tanpa merek dan cuma di bungkus kantong kresek 😂😂😂

Kenapa Ahok  Djarot tidak memiliki logistik sekuat Anies Sandi? Mudah menjawab nya "Dalam 3 tahun Ahok Djarot tidak membangun pilar pilar logistik nya sendiri". Pengusaha pengusaha kecil yang ikut tender berbagai proyek di Pemda DKI yang sebenarnya pendukung Ahok tahun 2012 di geser lalu di proyek proyek di kuasai pengusaha pengusaha besar. Celakanya pengusaha besar itu juga pengusaha yang lahir dan besar sejak Orde Baru jadi tidak punya loyalitas pada ide apalagi ideologi.

Ketika Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto bergabung dgn Anies Sandi maka pengusaha pengusaha Orde Baru itu serta merta mensuport Anies Sandi.

Lalu dari mana logistik Ahok Djarot? Ya dari pengusaha pengusaha kecil yang disingkirkannya tapi memiliki kesadaran politik. Pengusaha pengusaha sadar politik ini yang mensuport relawan Ahok Djarot walau itu jumlahnya sangat sangat terbatas.

Yo wiss.... piye tahun 2019?

Cerita Jokowi bisa sama seperti cerita Ahok, tidak ada logistik. Kenapa begitu? Lihat saja hari ini, Pengusaha yang berpesta bukan pengusaha die hard nya Jokowi tapi ya mereka yang sudah pesta sebelum 1998 terus berpesta setelah pemilu 1999, 2004, 2009 dan 2014 dan kemungkinan akan terus berpesta setelah 2021.

Contoh lainnya apa? Lihat struktur komisaris dan direksi Bumn masih di isi orang lama dari zaman SBY. Dari sekitar 2400 komisaris BUMN (induk, anak dan cucu) yang baru hanya 150 an orang. Dari 2400 Direksi Bumn yang baru cuma 50 an orang 😡😡😡😡

Periksa nama pejabat pejabat di kementrian kementrian, jangan kaget semuanya masih orang lama. Periksa semua Balai di kementrian teknis yg mengelola ratusan trilyun Rupiah.... semua orang lama. Periksa semua kontraktor Balai.... 😬😬 masih orang lama juga.

Trus... trus apa kesimpulan dari terkaparnya Ahok hari ini dan Jokowi 2019 nanti?

Kesimpulannya selama Jokowi tidak membangun pengusaha pengusaha nya yang mengerti ide ide nya, selama Jokowi terus memperkaya lawan dan memiskinkan kawan nya, selama posisi di beri pada yang anti, jabatan di kasih pada lawan. Kawan pakai jeans di usir sementara Lawan pakai jas silahkan parkir, yang baru dan setia antri lama lama, yang lama lama masuk tanpa antrian 😰😰😰 ya selama itu periode ke dua Jokowi cuma jadi mimpi dan 2019 Orde Baru berkuasa lagi.

hmmmm jika Jokowi tetap gak sadar, yaaaa bisa jadi 2019 nasib Jokowi seperti nasib Ahok hari ini. Gak percaya? Coba aja! 😬😬

Singkatnya begini, "Politik tidak cukup dengan ide baik karena ide baik dalam politik juga butuh logistik.

*When You Lose dont Lose the lesson.*

🙏🙏🙏🙏

(Mohon bantu sebarkan)

Rabu, 15 Maret 2017

KENAPA RINDU REZIM OTORITER ?

* saya ingin mengulas secara obyektif apa kira2 penyebab ada yg sampai rindu pada masa rezim otoriter ORBA

Generasi Reformasi adalah angkatan 90an yang ikut atau paling tidak jadi saksi sejarah gerakan mahasiswa melengserkan diktator Soeharto & rezim otoriter ORBA

Sayangnya keindahan era Reformasi tak berlangsung lama.. Bulan madu telah usai.. karena Reformasi telah berubah wajah menjadi mimpi buruk "Demokrasi Kebablasan" - pinjam istilah pakde Jokowi

Banyak dari generasi Reformasi yang ikut melengserkan Soeharto akhirnya tak kuasa mengucap, "kalo jaman pak Harto, sudah diciduk itu yg hina2 presiden!"

Saking kesalnya melihat orang skrg seenaknya maki hina Presiden, olok olok Pancasila sampai tak sadar merindukan masa rezim OTORITER yg dilengserkannya

Tragis bukan? 😁

Ini karena Pemerintah sekarang seperti terlalu lemah seolah tak berdaya menghadapi orang yang seenak-enaknya mencaci Presiden, menghina Pancasila, tebar hoax fitnah pemerintah

Coba jaman pak Harto.. orang model Habib Rizieq caci maki Presiden hina Pancasila pasti udah diciduk dikirim ke p.Buru atau jadi campuran semen pondasi jembatan

Coba jaman pak Harto.. ormas islam koar koar KOPAR KAPIR di Pilkada demi menangkan salah satu Paslon pasti lgsg diberangus, dibekukan izin, bila perlu petingginya dibui semua

Hari ini hampir 20 tahun sejak Soeharto dilengserkan, ada wacana santer "KEBANGKITAN ORBA"

Bau propaganda ORBA seperti "awas Komunis", "waspada PKI" sudah menyengat busuk sejak Pilpres lalu, makin kesini makin percaya diri sampai Pangeran Cendana siap maju di Pilpres berikut nanti

Kenapa wacana ABSURD seperti ini bisa mengalir bebas? ..mungkin krn sebagian generasi Reformasi diam2 merindukan 'indahnya' hidup dlm kekangan rantai besi rezim otoriter

Semata mata karena ENEG pengen muntah melihat situasi sekarang yang mana ormas makin seenak enaknya, pemuka agama bisa hina presiden & Pancasila

Demokrasi kebablasan saat ini sedang ditunggangi Setan ORBA dgn tujuan membuai Rakyat akan ilusi nikmatnya hidup kembali dibawah rezim otoriter

SOLUSINYA?

Solusinya adalah: sudah saatnya aparat hukum rezim pakde Jokowi lebih TEGAS terhadap anasir-anasir anti Pancasila penghasut makar & permusuhan SARA

Agar sebagian rakyat tidak menjadi rindu 'indahnya' masa-masa dibawah rezim otoriter ORBA

Permadi Arya
( Generasi Reformasi )

#PenakJamankuToh

Senin, 20 Februari 2017

Ada teman bertanya, "kok lu suka banget sama Ahok?"

Males kasih penjelasan, saya cuma jawab sekilas.. "iya, ngefans"

Masih penasaran, temen saya nanya lagi, kali ini dengan lebih penuh penekanan "kenapa emangnya???"

Makin keki, temen saya nanya lagi, kan Ahok reseh tuh, dimana-mana heboh marah-marah, boro-boro bikin adem, malah menista agama"

Ups, Nah, kalau udah begitu ni "bocah" kudu ditatar, hehe..

"Sini duduk sayang, cantik"

Islam melarang pelacuran, hukumnya sangat pasti dan tegas. Ketika Ahok menutup komplek pelacuran terbesar di Kalijodo, adakah aksi atas nama Islam untuk mendukungnya?

Islam melarang Narkoba. Ketika Ahok menutup diskotik Stadium dan Milles yang menjadi sarang peredaran narkoba, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam melarang korupsi. Ketika Ahok bergelut kekeuh tidak mau toleran dengan bancakan proyek-proyek APBD yang biasanya dilakukan oknum-oknum serakah, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mewajibkan orang melaksanakan amanah. Ketika Ahok secara ketat memerintahkan semua pegawai Pemda DKI untuk bekerja melayani rakyat, sebab gaji mereka selama ini dibayar oleh duit rakyat, adakah aksi atas nama Islam yang mendukungnya?

Islam memerintahkan membangun rumah ibadah. Ketika Ahok membangun mesjid di Balaikota dan Mesjid Raya Jakarta di Daan Mogot, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan kebersihan. Ketika Ahok mengeruk kali-kali dan membersihkan sampah agar Jakarta terhindar dari banjir, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan seorang yang diamanahkan memegang jabatan untuk memperhatikan semua warganya. Ketika Ahok setiap pagi meluangkan waktu menyelesaikan masalah semua orang yang datang ke Balai Kota, dengan menggunakan dana operasional Gubernur, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan berhati-hati saat mencari rezeki. Gubernur DKI mendapat dana operasional Rp 60 milyar setahun. Dana itu bisa diambil untuk diri sendiri. Tapi Ahok menggunakannya untuk membantu banyak orang, dan ketika masih tersisa diakhir tahun, dana itu dikembalikan ke kas negara. Padahal jika dia membawa pulang, itu bukan pelanggaran hukum. Itu sudah menjadi hak pemangku jabatan Gubernur. Adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan pentingnya pendidikan. Ketika Ahok kondisiten membagikan KJP dan angka putus sekolah di DKI nyaris 0%, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan kesejahteraan. Ketika kini angka pengangguran di DKI menurun drastis (salah satunya karena program pasukan Biru, Oranye, Ungu) adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mementingkan pengembangan psikologi anak-anak. Salah satunya dengan ruang beremain yang sehat. Ketika Ahok membangun ratusan ruang bermain hijau untuk anak-anak Jakarta, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan memuliakan wanita dan memperhatikan anak-anak. Ketika Ahok dalam banyak fasilitas publik (bus, ruang laktasi, RTPA) memperhatikan kaum wanita, adakah aksi bela Islam yang mendukungnya?

Islam mengajarkan bicara yang baik. Ketika Ahok terpeleset omongannya menyindir orang2 yang sering menjual ayat2 suci untuk mendulang suara dan korupsi, dan ahok sudah meminta maaf, banyak orang tergerak untuk membela agamanya.

Publik juga tahu omongan itu viral salah satunya karena teks yang diedit. Polisi juga sudah mengusut kasusnya, tapi pembela-pembela agama itu tidak cukup puas. Mereka ingin Ahok dipenjara.

Dan tujuannya mereka cuman satu agar Ahok tidak jadi gubernur lagi, dan dengan begitu bisa korupsi berjamaah lagi.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1429614620414359&id=100000975057482

FREEPORT VS PEMERINTAH INDONESIA

- Denny Siregar -

Menyaksikan pertarungan PT Freeport melawan pemerintah Indonesia ini memang mengasyikkan..

Freeport sejak tahun 1967, menikmati betul fasilitas yang diberikan oleh Presiden kedua Indonesia, Soeharto, dalam bentuk Kontrak Karya. Kontrak Karya ini memungkinkan PT Freeport Indonesia untuk mengatur segala macam operasional mereka termasuk keuangan dan pemerintah tidak boleh ikut campur dalam pelaksanaannya.

Dalam artian sederhana, "Hei pemerintah, lu diem aja entar gua bagi deh keuntungannya. Kalo ada untung lho ya.." Bertahun2 seperti itu dan kita tidak punya kontrol terhadap sumber daya alam kita.

Kemudian datanglah Jokowi..

Dengan Jonan Menteri ESDM sebagai panglima perangnya, maka permainanpun berubah. Jonan memaksa PT Freeport untuk mengubah perjanjian Kontrak Karya yang selama ini dinikmati Freeport menjadi ijin pertambangan biasa, sama seperti ijin pertambangan perusahaan lainnya.

Dengan ijin pertambangan biasa itu, maka ada kemungkinan pemerintah Indonesia bisa menguasai ( divestasi ) saham Freeport sampai 51 persen. Dalam artian, Freeport satu saat akan menjadi milik kita.

Freeport ternyata tidak menyerah. Mereka memakai jurus lama - yang dulu selalu berhasil mereka lakukan - yaitu jika pemerintah Indonesia macam2, maka mereka akan memecati pegawai2nya.

Kenapa dulu pemerintah takut ? Yah, selain "selalu ada uang dibalik batu", juga yang ditakutkan adalah multiplier effect atau dampak sistemiknya.

Ratusan ribu pegawai yang selama ini mencari makan di PT Freeport akan dipecat dan itu menciptakan banyak pengangguran. Ketika banyak yang ngaggur, maka akan berdampak pada ekonomi di Papua. Ketika ekonomi lemah, maka akan diciptakan kerusuhan2 kecil yang akan diperbesar di sana. Ini memang akal licik yang selalu dipakai mereka..

Saat ini ada lebih dari 23 ribu karyawan dan privatisasinya yang bergantung pada Freeport. Dan ketika mereka dipecat - dengan alasan penghematan karena Freeport sudah tidak boleh lagi ekspor konsentrat - maka para karyawan itu akan digiring untuk protes ke pemerintah.

Dan ini sudah terjadi. 300 karyawan dikabarkan sudah dipecat Freeport. Dan mereka akhirnya berdemo di kantor bupati dan DPRD Mimika, meminta pemerintah untuk membuka kembali ijin ekspor konsentrat Freeport supaya bisa kembali bekerja. Licik, bukan ?

Mimika sekarang bergolak. Ribuan personel aparat sudah diturunkan kesana untuk menjaga wilayah. Ada kemungkinan demo2 akan terus dilanjutkan, untuk memaksa pemerintah membuka kembali keran ekspor konsentrat yang selama ini menjadi sumber makan PT Freeport Indonesia.

Apakah Menteri Jonan akan mundur dan kembali membiarkan PT Freeport seperti biasanya ? Ataukah ia melawan dengan menghadapi potensi resiko besar yang akan menggoyangkan keamanan ?

Sementara itu kabar terbaru, Ketum PBNU KH Said Agil Siradj sudah mengatakan siap berdiri di belakang pemerintah Indonesia dalam menghadapi Freeport.

Episode Freeport ini semakin menarik. Kita lihat episode berikutnya sambil seruput secangkir kopi..

www.dennysiregar.com

SENTIMEN AGAMA BANGKRUT DI PILKADA JAKARTA

Warga Jakarta sekali lagi menunjukkan konsistensi  dalam memilih. Rasional  dan tidak pernah goyah oleh isu-isu agama. Malahan ada kecenderungan mereka alergi dengan isu-isu primordial seperti ini, termasuk soal etnis. 

Buktinya, sejak pemilihan Gubernur tahun 2007, isu agama selalu menjadi pemicu kekalahan calon yang menggunakanya. Calon PKS Adang Dorojatun terhempas ketika melawan Fauzi Bowo ditahun 2007. Padahal ketika itu PKS menduduki banyak kursi di DPRD DKI.

Isu agama juga justru menjadi kunci kemenangan Joko Widodo dan Ahok dalam pemilihan gubernur berikutnya.  Komentar RH Oma Irama yang dituduh berkampanye di meskid serta celetukan rasis Nachrowi Ramli dipandang menjadi pemicu kekalahan telak Foke atas Jokowi.

Gagalnya memainkan isu agama juga terjadi di Pilkada kemarin. Goyangan aneka aksi Bela Islam  memang membuat Ahok tersangkut masalah hukum. Namun  derasnya  kampanye larangan Muslim memilih pemimpin Non Muslim dengan meyitir Al Maidah 51 ternyata tidak laku sama sekali.  Ahok menang mengesankan di kisaran 43 persen mengalahkan  Anis dan Agus. 

Dengan kata lain, rangkaian aksi 411, 212, 112, Sholat Subuh berjemaah  dan Baiat  Istiqlal, tidak mampu menggoyahkan pendirian orang Jakarta. Bahkan adalah pukulan telak bagi mereka  mengusung isu agama ketika mendapati  Ahok justru mendapat suara terbanyak di markas FPI.

Akan halnya perolehan suara Anis, mesin partai telah digerakkan dengan catatan militansi yang mengesankan dari PKS memastikan setiap anggotanya memilih nomor tiga.   Usaha keras itu berbuah manis karena mendapat durian runtuh disaat-saat terakhir. Anis mendapat limpahan suara dari pendukung Agus yang balik badan setelah pernyataan Antasari Azhar. Pak SBY melakukan blunder disaat-saat terakhir  hingga popularitas Agus langsung anjlok.  Pak SBY mungkin lupa bahwa warga Jakarta itu rasional yang alergi dengan soal korupsi dan lebih mempercayai  keterangan Antasari .

Pak SBY juga mungkin salah kalkulasi. Beliau pikir,  kalangan pengajian yang  sudah mati-matian didekati memberikan komitmen nyata. Mungkin ada keyakinan besar dalam diri pak SBY bahwa umroh bersama yang dilakukan Agus bersama penceramah aksi 112 bisa mengamankan perolehan suara dari kalangan muslim Jakarta. Namun nyatanya  mereka tidak melakukan komitmen itu. Suara Agus anjlok dikantong-kantong Islam.

Dengan kenyataan ini, maka jelas sudah ayat-ayat politik tidak laku di Jakarta. Warga Jakarta sebagian besar berpandangan moderat malahan cenderung liberal dalam pemahaman agamanya. Mereka yang mencoba menyuntikkan paham fundamentalis dipandang sebagai  bukan bagian dari  budaya Jakarta yang metropolis.  Namun mereka tidak melawan melainkan menyingkir diam-diam menjauh dari kelompok tersebut.   Berkaca pada kenyataan pahit ini, kubu Anis dipastikan akan sangat berhati-hati menggunakan isu agama agar tidak justru menjadi racun yang melumpuhkan kemenangannya. '

Artinya kita bisa berharap banyak bahwa   putaran kedua pemilihan Gubernur DKI akan diwarnai adu program dan kehebatan mesin partai politik ketimbang isu agama dan primordial.  Kita juga akan menyaksikan isu-isu terkait Jokowi dan Ahok satu paket menjadi dagangan utama kubu Ahok. Sementara dikubu Anis kita akan melihat semangat nasionalis yang khas pak Prabowo dipompakan dengan penuh kegairahan membingkai NKRI

Semua ini akan menjadikan pemilihan Gubernur  kembali dalam  saluran demokrasi yang sebenarnya.  Yang sehat tanpa  eksploitasi agama hingga siapapun yang terpilih adalah yang terbaik dan  warga Jakarta akan puas  dan bangga.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155142187673117&id=748808116

Minggu, 19 Februari 2017

ANIES BASWEDAN IDOLAKU

Bicara tentang strategi pilgub DKI. Rasanya tdk ada cagub yg lebih canggih dari om Anies.

#RanselReputasi

Om Anies adalah seseorang yg tidak terbebani ransel reputasi. Tidak malu mengambil posisi d bawah naungan Prabowo yg saat pilpres om Anies serang habis2an.

https://youtu.be/BmPuFgQSZBk

Om Anies tampa ragu membuang reputasi moderat, toleran, dan mencintai persatuan Indonesia dalam kebersamaan semua agama dan ras d dalamnya.

Om Anies jg tdk berpikir dua kali untuk mendiskreditkan Paramadina. Dmana om Anies pernah menjadi rektor d dalamnya dan menjauhkan diri dari status liberal Paramadina.

http://news.gubernurmuslim.com/2017/01/anies-baswedan-saya-menolak-reklamasi-dan-akan-mengembalikan-kepentingan-nelayan-dan-masyarakat-di-teluk-jakarta/

Harga diri, nama baik dan reputasi, semua itu adalah beban. Om Anies tidak ragu untuk membuang semuanya dan menciptakan diri anda yg baru dari awal lagi.

#RebutKonstituenLawan

Bila saatnya tiba, om Anies tdk takut untuk berpelukan dengan ormas paling kontroversial d Indonesia. Secara efektif mengikuti arus yg sudah d buat oleh org lain dengan susah payah dan mendukungnya secara terbuka. Dan merebutnya.

Mungkin akan ada pihak yg menunding sisa reputasi toleran anda ketika anda mengatakan sejalan dengan FPI. Bahwa pemimpin hrs muslim. Mungkin ada yg mempertanyakan kepada anda apa itu "merajut tenun kebangsaan" yg anda maksud dulu. Tapi anda dapat dengan mudah mengelak dengan kalimat "merajut tenun kebangsaan d bawah kepemimpinan Islam".

https://youtu.be/1Y2yaVM_nvQ

Konstituen saingan om Anies yg saling bersinggungan om Anies rebut secara sangat halus dengan memperlihatkan "Aku se extreme kalian". D tambah rangkaian kata2 om Anies yg megah dan menginspirasi dalam debat. Tampa menyerang saingan anda yg searah, anda meperlihatkan "Aku lebih pintar darimu". Sehingga konstituen saingan anda yg memilih krn emosi, mendapatkan alasan lebih baik lagi dari anda.

Dengan mundukung anda, emosi terpuaskan, dan ada alasan motivasi retorika yg indah dari anda. Jadi secara mental konstituen anda mendapatkan justifikasi "Aku tidak mendukung Anies krn sekedar benci Ahok. Aku mendukung Anies krn Anies bagus". Dengan cara itulah anda merebut konstituen saingan anda yg sejalan.

Benar2 luar biasa cerdas.

#JanjiYgAbstrak

Akupun penasaran dengan janji2 om Anies. Selain dari detik, akupun membuka website anda untuk melihat sendiri janji2 anda yg lebih update.

Sebagian besar dari 23 janji anda, adalah janji yg menyenangkan, mudah dan abstrak. Janji yang tidak terukur. Dengan begitu janji anda tidak dapat d serang.

Kuambil contoh dari salah satu janji anda, "Program Khusus Lansia: Tunjangan Hari Tua"

Berikut janji anda yg kukutip dari URL:
http://www.jakartamajubersama.com/program-khusus-lansia-tunjangan-hari-tua

1) Memberikan Tunjangan Hari Tua kepada semua lansia di DKI Jakarta sebesar Rp. 300.000 per bulan untuk menunjang kebutuhan hidupnya.

2) Memperbanyak layanan kesehatan pencegahan untuk lansia seperti layanan deteksi kanker gratis, di rumah sakit negeri dan swasta.

3) Memperbanyak ruang terbuka hijau ramah dan aman untuk lansia yang dapat digunakan untuk kegiatan lansia (senam lansia, dan sebagainya).

4) Menyediakan trasportasi umum gratis dan publik area ramah dan aman bagi lansia.

5) Melengkapi unit darurat untuk memberikan pertolongan pertama pada pasien di setiap puskesmas dengan standar motor gawat darurat (selain mobil ambulan), untuk masuk ke jalan-jalan sempit.

6) Mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dan peduli terhadap lanisa melalui kegiatan bersama lansia dengan memaksimalkan peran komunitas yang sudah ada atau membentuk komunitas baru.

Janji no satu tidak ada artinya mengingat APBD DKI yg mendekati 70 triliun. Aku tidak meragukan bahwa janji ini akan terpenuhi. Janji ini mudah dan menyenangkan. Siapapun yg mengajukan keberatan terhadap janji ini dapat anda tuduh tidak manusiawi terhadap lansia.

Sedangkan janji2 lainnya? Begitu abstrak sehingga anda tidak mungkin d serang dari sisi itu bila kelak anda menang dan d tagih. Contohnya "memperbanyak". Anda tidak memberikan tolak ukur keberhasilan atau kegagalan janji anda. Yg anda janjikan adalah menambah yg sudah ada. Baik tambah 1 maupun tambah 1000 anda bisa claim sudah menunaikan janji anda yg menyangkut kata "memperbanyak". Begitu pula dengan kata "menyediakan", "melengkapi" dan "mengajak". Anda bisa menggunakan penafsiran anda sendiri terhadap kata2 tersebut dan mengclaim anda sudah memenuhi janji.

#TidakTerjebakJanjiSulit

Semua janji2 anda adalah janji populis. Tidak ada janji non populis untuk perkembangan Jakarta. Karena om Anies paham benar bahwa yg terpenting saat ini adalah memenangkan pertarungan.

Om Anies fokus pada kemenangan, sedangkan lawan om Anies masih harus d sibukkan dengan kondisi realistis Jakarta dan pemecahan masalah yg feasible. Om Anies memilih untuk melongkapi hal itu dan hanya berjanji terhadap hal2 yg populis dan menyenangkan.

Sungguh strategi pemenangan yg luar biasa.

#KesalahanDP

Dari smua janji2 anda yg abstrak, tidak spesifik dan tidak terukur. Om Anies melakukan blunder. Om Anies menjanjikan suatu hal yg mungkin d atas kertas terlihat abstrak, tak terukur dan aman, tapi ternyata pernyataan om Anies dapat d ukur. Blunder ini menyebabkan anda terpaksa merevisi pernyataan anda yg sudah terekam di YouTube tentang DP 0% vs DP 0 Rupiah.

(DP 0%)
https://www.youtube.com/watch?v=6Ooz9c52XeI

Pernyataan ini sampai mengundang komentar gubernur BI. Dan krn itu juga masalah DP jadi sasaran tembak lawan maupun haters anda. Tapi tenang saja om Anies, dengan blunder ini. Toh tak ada manusia yg sempurna. Om Anies salah sebiji saja tak apa2. Malah menambah unsur manusiawi pada diri anda om.

(Bantahan BI)
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170217150456-78-194249/bank-indonesia-larang-kpr-dengan-dp-nol-persen/

#MenguasaiKonstituen

Yang paling luar biasa dari om Anies adalah, om Anies tau benar konstituen om. Om Anies paham sekali bahwa sebagian besar konstituen om ber'irisan dengan konstituen saingan om. Om Anies paham benar bahwa sebagian besar konstituen om adalah konstituen emosi.

Konstituen emosi memilih Anies pada dasarnya berlandaskan prinsip asal bukan Ahok. Baik dengan alasan agama, alasan penggusuran, alasan tdk suka sikapnya atau alasan apapun. Om Anies menawarkan sebuah ilusi pada mereka bahwa mereka bukan pemilih emosional. Tetapi pada dasarnya om Anies paham betul bahwa mereka pilih Anies bukan krn tertarik janji dan programnya.

Itulah sebabnya om Anies berani berjanji tentang hal2 yg begitu abstrak. Begitu tak terukur. Begitu general. Karena om Anies yakin konstituen anda pada akhirnya tidak akan menagih dan mengejar2 janji anda.

Kalaupun ada yg mempertanyakan janji anda, kemungkinan besar itu adalah konstituen petahana. Lawan anda dalam pilgub. Dan dengan cara mengeluarkan janji yg abstrak dan tak terukur, seperti yg ku tuliskan sebelumnya. Om Anies dapat menggunakan penafsiran om Anies sendiri terhadap janji yg om Anies sebutkan.

#Salut

Jadi jelas, dari smua peserta pilkada yg pernah aku ikuti, sepak terjang dan strategi anda adalah sepak terjang terbaik yg pernah aku lihat. Aku angkat topi untuk strategi dan sepak terjang om Anies.

Rasanya om Anies berhak masuk Hall of Fame pribadiku bersama uncle Roy dan uncle Trump.

Respect

(kwek)

https://m.facebook.com/ABhumiBlog/photos/a.1685601651722383.1073741829.1683531408596074/1859840467631833/?type=3

PUTARAN DUA : NU, JOKOWI, GOLPUT ATAU FPI, PKS DAN KELOMPOK KHILAFAH

Selain itu, Prabowo sudah mengatakan “jika ingin Prabowo Presiden 2019, pilih Anies Sandi.” Artinya bagi yang tidak ingin Prabowo menjadi Presiden, maka harus pilih Ahok.

Kelompok nasionalis

Merapatnya FPI, PKS dan kelompok Islam radikal ke kubu Anies sudah pasti membuat alergi kelompok nasionalis. Selama ini mereka memperjuangkan pilar kebangsaan, dan tentu saja tidak akan sudi mendukung kelompok para pejuang khilafah yang sering teriak kafir kafir dan takbir.

Pendukung AHY atau Golput

Dari tiga faktor tadi, bisa jadi sebagian sudah masuk ke suara AHY. Tapi bisa juga masih golput. Patut dicatat bahwa angka golput di Pilgub DKI mencapai 1.668.902 pemilih. Lebih besar dari pemilih Agus yang hanya 936.609 suara.

Artinya, selain memperebutkan suara Agus yang mungkin saja bagian dari 3 kelompok yang saya sebutkan tadi, bisa juga karena mereka sedang kebingungan atau membiarkan hasilnya ke masyarakat yang lain.

Tapi kalau mereka para golput ini dihadapkan pada pilihan Ahok atau Anies yang didukung FPI dan PKS, tentu saja mereka akan memilih Ahok yang didukung kelompok nasionalis. Para golput ini akan turun gunung memilih Ahok sebagai perlawanan kepada kaum khilafah yang ingin mengubah sistem negara.

Kalau berkaca pada Pilgub 2012, kondisinya kurang lebih sama. Jokowi Ahok menang putaran pertama, Foke melaju ke putaran kedua didukung oleh PKS, FPI dan yang sejenisnya. Secara matematika dasar, memang Jokowi Ahok akan kalah dengan Foke. Sebab pada putaran pertama Foke mendapat 34% dan Jokowi Ahok 42%. Tapi kemudian PKS merapat ke Foke, dengan harapan suara Hidayat Nurwahid yang 11% dapat beralih ke Foke sehingga nantinya mereka bisa unggul dari Jokowi. Tapi kenyataannya pada putaran kedua Jokowi tetap unggul 53% sementara Foke hanya 46%.

Artinya Pilgub DKI memang tak akan sesederhana matematika anak SD. Ada banyak faktor, dalam kontesks Pilgub 2017 sekarang ini saya melihat 3 faktor tersebut cukup vital dan menentukan. Tinggal pertanyaannya adalah, apakah kelompok nasionalis, NU, pendukung Jokowi dan golput akan membiarkan kelompok Anies yang berisi FPI, PKS dan yang memperjuangkan khilafah?

Sampai saat ini saya melihat mereka tak akan membiarkan kelompok khilafah merongrong Indonesia. NU tak mungkin bersatu dengan FPI yang rajin mangatakan kafir, bunuh dan kata propaganda lainnya. Pendukung Jokowi tak mungkin mau Prabowo kembali nyapres, apalagi membayangkan jadi Presiden.

Begitulah kura-kura.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208419287265905&id=1417785880

Sabtu, 18 Februari 2017

BALADA BUKIT DURI


.
Didukung saat tolak gusuran
Ditertawakan saat tenggelam kebanjiran.

Tanggal 28 september 2016 lalu Pemprov DKI berniat untuk menormalisasi aliran sungai Ciliwung di daerah Bukit Duri. Namun hal ini mendapat tentangan dari warga sekitar.

Meski telah digusur, mereka berkeras menolak relokasi dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. Hasilnya, pada Kamis, 5 Januari 2017, Majelis hakim memenangkan gugatan warga Bukit Duri.

Esoknya, dalam jumpa persnya, 6 Januari 2017, Anies Baswedan mengaku Bahagia warga bukit duri memenangkan gugatan dan memberikan simpatinya kepada Warga bukit duri. "Saya senang keadilan ditegakkan," kata Anies saat ditemui.

Anies menuturkan, kemenangan tersebut bisa menjadi pelajaran bahwa untuk melakukan tindakan kepada warga Jakarta harus berdasarkan prinsip keadilan dengan prosedur yang benar

Keberpihakan pada gugatan warga ini menuai Simpati. Hasilnya pasangan Anies-Sandi menang telak di TPS 52 Bukit Duri, salah satu lokasi gusuran.

Namun esoknya, pada 16 Februari 2017, tanpa diduga Banjir Pesanan yang rutin dikirim dari Bendung Katulampa Bogor kembali menggenangi pemukiman tersebut. Saat itu warga belum mengungsi meski ketinggian air sudah sekitar 70 cm. Bahkan di RT 15, ketinggian air telah mencapai dada orang dewasa.

Saat ditemui warga Bukit Duri mengaku sudah Bosan kebanjiran dan siap untuk direlokasi asalkan tidak jauh. Mereka mengaku banjir di Bukit Duri tidak dapat diprediksi lagi. Banjir datang hampir setiap bulan.

Ironisnya, paslon Anies-Sandi yang diberi tahu bahwa ada beberapa lokasi banjir di Jakarta, seperti di Pejaten Timur dan Bukit Duri kali ini hanya menanggapi dengan santai.

Berikut tanggapan mereka:
“Kirain sudah bebas banjir,” kata Anies
"Genangan Air,” timpal Sandiaga yang berdiri di samping Anies.
“Oh genangan,” kata Anies lagi, disambut gelak tawa pendukungnya.

Bukan hanya mentertawakan banjir, saat dikejar soal solusi banjir, Anies malah menawarkan solusi yang tidak masuk akal dengan kondisi Jakarta saat ini dengan mengatakan bahwa pengelolaan air harus menggunakan Vertical drainage.

Anies sepertinya memang tidak begitu mengenal kondisi Jakarta karena vertikal drainase sangat sulit diterapkan untuk mengatasi banjir kiriman yang volume airnya sangat besar.

Catatan mas Teguh:
Tanyakan pada Anies Baswedan Ph.D., saat warga Bukit Duri menang gugatan apa arti kebahagiaannya?

Dan saat Bukit Duri tenggelam oleh banjir kiriman, apa arti tertawaannya?

Rangkuman tulisan Teguh Santoso

Jumat, 17 Februari 2017

Catatan “Jongos” Dua Cagub DKI

“In matters of style, swim with the current; in matters of principle, stand like a rock.” —Thomas Jefferson

Tulisan ini bertujuan supaya membagikan apa yang saya ketahui, dari kacamata seorang jongos yang merasakan bekerja di bawah dua orang ini: Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan. Dan mengapa dari awal mendengar Pak Anies maju, saya sudah bersuara mengapa Pak Ahok yang lebih layak memimpin DKI Jakarta.

++

Memori saya kembali kepada masa enam tahun lalu. Nama Indonesia Mengajar baru mulai bergaung, dan sosok Anies Baswedan sangat lekat dengan program ini. Program yang mulia. Saya mendaftar dan diterima.

Teringat waktu pertama kali mendengar beliau langsung memberikan pidato penerimaan kepada kami, para Pengajar Muda istilah kerennya. Saya hanyut dengan berbagai persuasi yang dilontarkan. Memang sungguh inspiratif. Mantra yang sering didengungkan adalah merajut tenun kebangsaan. Barangkali inilah saatnya adanya organisasi yang lintas kultur dan agama yang memang layak untuk didukung anak muda yang ingin merasakan Indonesia sesungguhnya, tanpa hanya dari membaca koran. Saya menangis waktu upacara bendera terakhir bersama para Pengajar Muda sebelum dikirimkan ke daerah. Warna kulit, asal dan agama kami berbeda-beda, tetapi kami dengan spirit yang sama, khidmat upacara menghormati bendera Merah Putih.

Setahu saya, Pak Anies adalah penggagas dan pimpinan Indonesia Mengajar, namun tidak terlibat dalam kepengurusan hariannya. Kepengurusan harian dijalankan oleh orang-orang muda di bawah Hikmat Hardono dengan kantor di Jalan Galuh II Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Teringat bahwa Pak Anies sering ditanya oleh kami Pengajar Muda, apakah Indonesia Mengajar ini menjadi batu lompatan ke arena politik, utamanya ke pencalonan presiden. Beliau umumnya memberikan jawaban yang tidak pasti. Tapi secara bahasa, Pengajar Muda memahami bahwa gerakan Indonesia Mengajar ini memang murni sebuah gerakan yang ingin “merajut tenun kebangsaan” tadi. Banyak persuasi lain yang dilontarkan Pak Anies yang lumayan inspiratif, seperti “melunasi janji kemerdekaan”, “setahun mengajar seumur hidup menginspirasi”. Untuk anak muda yang ‘galau’ dan lagi semangat-semangatnya ingin berkontribusi kepada bangsa dan negara ini, inspirasi dan persuasi semacam ini sangatlah efektif. Beberapa dari antara kami sampai rela meninggalkan pekerjaan di luar negeri dengan gaji dan fasilitas wah dan bergabung menjadi Pengajar Muda. Menjadi Pengajar Muda dan langsung terjun ke desa menjadi bagian dari warga dengan berbagai karakter dan tantangannya. Saya sendiri mengambil cuti tanpa gaji selama setahun dari firma hukum tempat saya bekerja. Saya juga mempersiapkan diri untuk tidak digaji dari Indonesia Mengajar. Hebatnya, Indonesia Mengajar memberi remunerasi yang tidak kalah dengan gaji karyawan swasta! Indonesia Mengajar benar-benar program yang luar biasa, membuka mata generasi muda kepada kondisi Indonesia sesungguhnya, sambil melatih kepemimpinan.

++

Februari 2013, saya bangga mendengar Pak Anies menjadi ketua Komite Etik KPK kasus bocornya sprindik Anas Demokrat. Selang 7 bulan kemudian, keadaan total berubah. Pak Anies maju pada konvensi Partai Demokrat, ingin menjadi capres menggunakan kendaraan yang menjadi gunjingan banyak orang dengan isu korupsi Hambalang. Kekecewaan di antara Pengajar Muda banyak meski tak terucap. Kami mulai bertanya-tanya apakah Indonesia Mengajar ini murni sebuah gerakan di bidang pendidikan, atau hanya batu loncatan? Spekulasi muncul tanpa jawaban pasti. Apakah Pak Anies sudah memikirkan resiko bila sampai ada sponsor yang menahan dana atau menarik dana, karena takut dana yang diberikan ke Indonesia Mengajar malah digunakan untuk kepentingan politik tersebut? Langkah Pak Anies ini saya sayangkan sekali karena membawa resiko kepada suatu program baik yang baru mengembangkan sayapnya. Apakah ambisi politik Pak Anies menjadi capres ini segitu besarnya?

Untunglah Pak Anies tidak memenangkan konvensi partai itu. Di dalam hati kecil saya, saya memang berharap beliau terlebih dahulu membuktikan diri dengan memegang jabatan yang cukup strategis, yaitu Menteri Pendidikan. Jabatan itu sangat sesuai dengan jalan hidup Pak Anies yang adalah Rektor Paramadina dan penggagas Indonesia Mengajar.

Cerita saya beralih ke kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014. Saat itu saya sudah bekerja di suatu firma hukum. Saya sangat bersyukur atas kemenangan Jokowi itu. Jokowi adalah simbol harapan, dan representasi dari suksesnya masyarakat biasa yang bisa menembus lingkar kekuasaan dan menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Setelah mendengar pemberitaan di media bahwa Jokowi-JK membentuk tim transisi, Saya berinisiatif menghubungi Pak Anies mengucapkan selamat sekaligus menanyakan, kira-kira apa yang dapat dibantu. Tak disangka, beliau langsung merespon baik dan menawarkan saya untuk membantu beliau. Saat itu beliau adalah Deputi D Tim Transisi, yang mengurus kesejahteraan rakyat.

Di titik inilah saya lebih jauh mengenal sisi profesional Pak Anies. Mirip seperti yang saya lihat di Indonesia Mengajar, beliau sering menyampaikan pandangan atau gagasan pada level yang makro. Jarang sekali saya mendengar turunan teknis dari ide besar Pak Anies. Karenanya, saya dan tim sangat beruntung karena kami dipimpin oleh Ibu PW, seorang eksekutif yang mengambil cuti dari suatu firma konsultan internasional. Sehari-hari kami bekerja di bawah bimbingan Ibu PW, dan Pak Anies jarang sekali terlihat berkantor bersama kami. Dari media kami tahu bahwa pada masa itu beliau cukup sering menemani Pak Jokowi.

Saya pribadi menyadari bahwa hal ini tidak ideal (tidak memimpin proses perumusan produk Deputi D sebagai turunan dari gagasan besar yang disampaikan Pak Anies). Tapi saya tidak mau memusingkan hal di luar jangkauan saya. Saya hanya mencoba bekerja terus dan berharap agar situasi ini berubah, supaya Pak Anies kembali fokus ke dalam Deputi D, dan mulai mengambil langkah manajerial konkret. Mengapa? Karena latar belakang dan karakter anggota Deputi D sangatlah beragam. Ada yang dari sektor swasta finansial, kalangan masyarakat sipil sampai basis relawan Jokowi-JK, sehingga tim kami membutuhkan seorang pemimpin (yang memang sudah punya nama) yang seharusnya hadir, memimpin tim, menguasai data di hadapannya untuk mencapai tujuan dari dibentuknya Deputi D.

Sayangnya, sampai dengan akhir masa kerja, hal ini tidak terjadi. Mungkin saja Pak Anies sudah mendelegasikan mayoritas kerjanya kepada PW. Namun delegasi kerja tidak mungkin total menyerahkan semuanya kepada orang lain, tanpa hadir memberikan panduan dan arahan konkret kepada kami. Seandainya Pak Anies lebih intensif hadir dan memimpin kami, tentu produk akhir Deputi D akan lebih baik lagi. Pada titik ini, saya menyadari bahwa peranan dan keunggulan Pak Anies adalah mengajak dan menginspirasi orang untuk mau ‘turun tangan’ dan melakukan sesuatu untuk republik ini. Ini adalah peranan yang sangat penting di tengah apatisme generasi muda untuk berpolitik dan bernegara, dan peranan yang memang paling pas untuk dijalankan Pak Anies. Tetapi menjadi pemimpin dengan kemampuan manajerial yang mumpuni? Ini yang belum bisa dilihat dari Pak Anies.

++

Cerita ini berlanjut dengan terpilihnya Pak Anies sebagai Menteri Pendidikan. Banyak Pengajar Muda yang bersyukur akhirnya Pak Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Tentunya Pak Anies adalah orang yang tahu betul potret pendidikan di Indonesia, karena beliau sebagai bagian dari Indonesia Mengajar tentu sudah mendapatkan banyak sekali laporan dari Pengajar Muda tentang keadaan pendidikan di daerah dan berbagai praktek korupsinya (Undang-Undang Dasar mengamanatkan 20% dari APBD untuk pendidikan. Ada gula ada semut!), dan juga sebagai Deputi D Tim Transisi yang mengurus bidang pendidikan. Saya berharap ini menjadi ajang pembuktian kemampuan beliau dalam membuat perubahan di Indonesia, paling tidak membuat tata kelola yang baik di dalam Kementerian Pendidikan dengan segudang daftar masalah.

Nyatanya tiada yang berubah. Distribusi Kartu Indonesia Pintar tidak mencapai target. Bahkan Agustus 2016, Menteri Keuangan menemukan Rp 23,3 triliun dana yang salah perencanaan. Dana yang ada tidak boleh diberikan kepada guru yang memang tidak ada (salah data) atau yang gurunya ada tapi belum bersertifikat. Apakah memang Pak Anies masih tidak melaksanakan pekerjaan manajerial dan hanya melepaskan pekerjaan teknis sepenuhnya kepada bawahannya, yang punya segudang kepentingan dan dosa lama? Entah. Saya hanya bisa menduga dua hal di atas menjadi sebagian pertimbangan Pak Jokowi ‘mencukupkan’ tugasnya hanya selama 1 tahun 9 bulan.

+++

Saya pribadi tergerak membuat tulisan ini, setelah tahu Pak Anies bertandang ke markas FPI pada 1 Januari. Okelah, Pak Anies sudah menjadi politisi yang berambisi menjadi Gubernur DKI, syukur-syukur bisa menjadi Presiden RI. Dan secara politik, memang saya tidak perlu baper bila tetiba Anies menggunakan simbol-simbol keagamaan dalam menjaring suara. Tetapi berkunjung ke FPI, kemudian membela diri dengan mengatakan ‘harus menjadi pemersatu semua pihak’? Itu jawaban tidak jujur. Jadilah pemersatu dan pergi ke markas FPI setelah anda jadi pejabat. Pergi ke FPI sebelum menjadi pejabattidak lain adalah taktik meraih suara. Meraih suara ke pihak yang dengan entengnya mengoyak-oyak tenun kebangsaan! Teringat pernyataan Pak Anies pada 2014, yang menyerang Prabowo Subianto dengan menuding bahwa Prabowo berjanji seakan berpihak kepada heterogenitas dan pluralisme yang ada di Indonesia, padahal kata Pak Anies, Prabowo justru mengakomodasi dan merangkul kelompok ekstremis seperti FPI. Selang dua tahun, Pak Anies telah berubah secara ekstrem. Mungkin Pak Anies adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya. Dari menjual kata-kata inspirasional sampai memberi angin surga kepada kelompok yang jelas-jelas menganggap bahwa NKRI ini hanya diperuntukkan untuk satu agama saja. Melihat Pak Anies hari ini, entah apa lagi yang dapat dilakukan beliau demi mencapai ambisinya yang mungkin ingin jadi Presiden? Kunjungan beliau ke FPI inilah garis tegas respek saya kepada Pak Anies, yang sukses menginspirasi saya 5 tahun lalu untuk terjun ke dalam sistem. Karena ambisinya, Pak Anies hari ini bukanlah Pak Anies 5 tahun lalu, yang mencoba merajut tenun kebangsaan. Dia dulu tidak pernah bertanya kepada saya, apa agama saya waktu saya mendaftar Indonesia Mengajar dan menawarkan diri membantu dia di Tim Transisi. Mungkin rekan-rekan ingat, Pak Anies sudah katakan di Mata Najwa bahwa dia meyakini pemimpin itu harus memeluk agama Islam. Menjadi miris bila memikirkan golongan minoritas yang mendaftar Indonesia Mengajar sebagai bekal kepemimpinan di masa mendatang, karena bekal yang didapat tak dapat dilaksanakan. Bhinneka Tunggal Ika mau ditaruh dimana?

Sepertinya benar teori Abraham Lincoln,

“Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, beri dia kekuasaan.”

Pak Anies sudah teruji dan gagal bahkan sebelum dia diberi kekuasaan.

Setelah melihat cara Pak Anies bekerja dan Pak Ahok bekerja, memang dua orang ini tidak dapat dibandingkan, karena keduanya ada di tataran yang berbeda. Pak Anies adalah konseptor, sedangkan Pak Ahok adalah eksekutor sekaligus konseptor yang sangat baik. Pak Anies ringan mengatakan iya dan merangkul seluruh pihak, sedangkan Pak Ahok adalah orang yang bisa mengatakan tidak tanpa harus berpura-pura. Saya teringat pertama kali melihat Pak Ahok (sebagai cawagub) pada kampanye pilkada DKI 2012 yang menolak permintaan kelompok warga yang minta dibuatkan lapangan, dengan imbalan warga setempat akan memilih Jokowi-Ahok. Alih-alih mengiyakan demi suara, Pak Ahok malah mentah-mentah menolak permintaan itu, karena menurut beliau tidaklah adil untuk warga lain yang tidak memilih Pak Ahok. Pak Ahok saat cawagub 2012 masihlah sama dengan Gubernur 2017. Aspek kepemimpinan Pak Ahok ini pun diamini oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mengatakan, “Seni kepemimpinan adalah mengatakan tidak, bukan iya. Sangatlah mudah untuk mengatakan iya”.

Pak Ahok memberantas korupsi dengan cara menaikkan gaji untuk menghancurkan corruption by need(korupsi karena kebutuhan), sedangkan Pak Anies rumornya mencoba memberantas korupsi dan PNS tidak berkinerja baik dengan dialog hati ke hati secara rutin. Saya pribadi, setelah dua tahun bekerja di DKI Jakarta dengan praktek koruptif warisan rezim lama, rasanya hampir mustahil untuk meminta orang berubah dengan kesadaran sendiri tanpa mencari akar permasalahan dan secara konkret memperbaikinya. Perlu cara keras untuk melumerkan hati yang sudah keras terpapar nikmatnya korupsi selama puluhan tahun!

Pak Ahok memberantas korupsi dengan membuat e-budgeting agar dapat menutup celah permainan perencanaan anggaran (masih ingat kan anggaran siluman UPS?), sedangkan Pak Anies malah salah merencanakan anggaran sampai dengan 23 T.

Saya tidak mengatakan bahwa Pak Anies ini adalah orang yang jahat. Tidak sama sekali! Pak Anies ini memiliki hati yang baik dan ambisi. Sayangnya ambisi beliaulah yang lebih menguasai hati beliau hari ini. Pak Anies punya keunggulan dalam menginspirasi dan mengajak orang untuk turun tangan namun saya hanya menegaskan bahwa bukanlah porsi Pak Anies menjadi administratur untuk membenahi benang kusut DKI Jakarta. Selayaknya penyakit kanker yang perlu diobati dengan kemoterapi, tidaklah mungkin membenahi DKI Jakarta yang kusut dan sudah sakit kronis hanya dengan kalimat yang santun dan ide besar tanpa kepemimpinan dan kemampuan manajerial yang mumpuni. Porsi paling bermanfaat adalah menjadi inspirator dan mengajak anak-anak muda Indonesia untuk tidak berpangku tangan, tapi turun tangan membenahi republik ini.

Demikian catatan jongos ini. Pasti banyak pihak yang pro dan kontra. Wajar. Tapi inilah demokrasi, di tengah masyarakat yang masih belajar berdemokrasi selepas rezim lalu. Harapan saya, tulisan ini sedikit banyak membawa manfaat bagi masyarakat DKI. Semoga.

Rian Ernest

Pengajar Muda Angkatan II – Daerah Penempatan Kabupaten Rote Ndao, NTT

FREEPORT MENYERAH PADA JOKOWI

PT Freeport Indonesia akhirnya mengakhiri rezim kontrak karya (KK) yang sudah berumur 50 tahun setelah bersedia mengubah statusnya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Hal itu dilakukannya sebagai salah satu syarat agar perusahaan asal Amerika Serikat tersebut bisa kembali ekspor konsentrat yang dihentikan pemerintah sejak 12 Januari lalu.

Dalam regulasi baru yang diterbitkan pemerintah, perusahaan tambang yang diperbolehkan ekspor hanya mereka yang memenuhi sejumlah persyaratan, salah satunya berkomitmen untuk membangun smelter, divestasi 51 persen saham bagi perusahaan asing, serta mengubah status KK menjadi IUPK. Hal tersebut diatur dalam PP No. 1 tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas PP No.23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP Minerba).

Selain itu, pemerintah juga menerbitkan dua peraturan menteri ESDM sebagai pelaksanaan dari PP tersebut, yaitu: Permen ESDM No. 5 tahun 2017 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral di dalam Negeri, dan Permen ESDM No. 6 Tahun 2017 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi Pelaksanaan Penjualan Mineral ke Luar Negeri Hasil Pengolahan dan Permurnian.

Dalam konteks ini, perusahaan tambang seperti Freeport yang belum memiliki smelter, berpeluang mendapatkan izin relaksasi ekspor apabila bersedia mengubah status KK menjadi IUPK. Untuk transisi proses itu, pemerintah akan menerbitkan IUPK sementara. Izin sementara itu berlaku bagi perusahaan yang telah mengajukan permohanan dan melengkapi persyaratan perubahan status tersebut.

Juru bicara Freeport Indonesia, Riza Pratama mengatakan pihaknya masih menanti kesediaan pemerintah untuk mengeluarkan IUPK sementara agar bisa mendapatkan kesempatan ekspor. Menurut dia, aktivitas produksinya tersendat akibat belum bisa ekspor setelah dihentikan pemerintah sejak 12 Januari 2017.

“Kami masih menunggu IUPK sementara sehingga bisa ekspor, namun izin dari pemerintah belum keluar,” kata Riza.

Beda Kontrak Karya dan IUPK

Sejatinya UU No. 4 tahun 2009 tentang Minerba tidak lagi mengenal sistem kontrak karya, melainkan memberlakukan sistem perizinan. Pemerintah melalui Kementerian ESDM sudah sejak lama mendorong agar perusahaan pertambangan yang berstatus KK berubah menjadi IUPK. Sayangnya, proses perubahan status KK menjadi IUPK, seperti Freeport selalu mengalami kebuntuan.

Misalnya, pada Juni 2015, Freeport pernah menyetujui usulan pemerintah agar mengubah statusnya dari KK menjadi IUPK. Namun, perusahaan asal Amerika tersebut baru mengajukannya setelah pemerintah menjadikan perubahan status KK menjadi IUPK sebagai salah satu persyaratan ekspor konsentrat, seperti diatur dalam PP No. 1 tahun 2017, serta dua Permen yang menjadi turunan dari PP tersebut.

Lalu, apa perbedaan status KK dan IUPK?

Perubahan KK menjadi IUPK memberikan dampak tersendiri bagi negara. Dengan beralihnya KK menjadi IUPK, maka posisi pemerintah lebih "tinggi" karena berlaku sebagai pihak yang memberi izin kepada perusahaan tambang untuk melakukan aktivitas tambang. Dalam sistem KK posisi pemerintah setara dengan perusahaan, karena negara yang melakukan kontrak dengan perusahaan tersebut.

Namun, jika sistem perizinan seperti yang diamanatkan UU No. 4 tahun 2009 tentang Minerba yang dipraktikkan, maka posisi negara di atas perusahaan tambang tersebut. Misalnya, sebagai pemberi izin pertambangan, pemerintah bisa saja mencabut izinnya. Dengan demikian, perubahan KK menjadi IUPK adalah menempatkan negara pada posisi yang sebenarnya.

Perubahan KK menjadi IUPK juga membuat perusahaan tambang, seperti Freeport tidak akan lagi mendapatkan izin panjang hingga mencapai 50 tahun. Sebab, dalam sistem perizinan, pemerintah hanya bisa memberikan izin paling lama 20 tahun dan dapat diperpanjang dua kali masing-masing 10 tahun.

“Jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara dapat diberikan paling lama 20 (dua puluh ) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun,” demikian bunyi Pasal 83 poin g UU No. 4 tahun 2009 tentang Minerba.

Tak hanya itu, perubahan status KK Freeport menjadi IUPK juga akan mengurangi batas area pertambangannya. Seperti diatur dalam Pasal 83 poin b bahwa luas satu wilayah IUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan mineral logam dibatasi hanya 25.000 hektar, jauh dari luas area kerja Freeport yang mencapai 90.000 hektar.

Selain itu, perubahan status KK menjadi IUPK juga akan membuat Freeport akan dikenakan banyak pajak. Hal ini menjadi pertimbangan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia memastikan perubahan status Freeport dari KK menjadi IUPK harus tetap menjamin adanya penerimaan bagi negara yang lebih baik.

Menurut Sri Mulyani, dalam UU Minerba sudah diamanatkan bahwa bentuk apapun kerja sama antara pemerintah dengan para pengusaha, maka penerimaan pemerintah harus dijamin lebih baik. “Penerimaan itu banyak sekali dimensinya, ada pajak, ada royalti, ada PBB, ada juga iuran yg lain dan juga dari sisi kewajiban mereka harus melakukan divestasi serta kewajiban membangun smelter,” ujarnya.

Namun demikian, lanjut Sri Mulyani, pemerintah juga perlu memberikan kepastian berusaha serta jaminan tidak ada hambatan yang bisa mengganggu iklim investasi dan memberikan ketidakpastian bagi investor atas prospek ekonomi Indonesia. Dalam hal ini, kepastian terkait penerimaan negara dan kepastian bagi dunia usaha sama-sama terjamin.  [src/trc/tirto.id]

HIKMAH DI PHK GARA GARA AHOK


Oleh: Mohammad Monib

Sore ini saya naik taxi. Supir taxi-nya berkisah. Bahwa di TPS 230 Cengkareng Ahok menang dengan suara beda yang cukup besar dari pasangan lainnya. Itu kisah biasa.

Yang luar biasa adalah ia berkisah bahwa, dulu saat Pilgub yang lalu, ia memilih Jokowi dan Ahok. Mereka menang. Ia senang. Tapi rasa senangnya tidak berlangsung lama. Ketika Ahok naik jadi Gubernur menggantikan Jokowi, ia kena PHK. Gara-gara Ahok.

Ia melanjutkan, selama 12 tahun ia bekerja sebagai supir perusahaan distributor Minuman Keras. Perusahaan tempat ia bekerja terpaksa gulung tikar akibat kebijakan Ahok yang mempersempit gerak peredaran minuman keras. Sehingga banyak tempat-tempat yang biasa ia 'drop-kan' minuman tutup.

Ia kecewa dengan Ahok. Karena bebannya menghidupi keluarga dengan dua anak yang sedang bersekolah, menjadi sangat berat, tanpa pekerjaan. Apalagi ia sudah sempat membeli rumah dengan menyicil.

Tetapi, sekarang, ia mengaku menyoblos Ahok Djarot di Pilkada DKI. Saya bingung. Sekaligus penasaran. Kenapa?

Setelah di PHK ia kemudian akhirnya bekerja menjadi supir taxi. Ia mengaku pendapatannya lebih baik dari perusahaan sebelumnya. Kesehatan ia dan keluarganya terjamin. Ia juga melihat hasil dan bukti dari kerja Ahok. Jalanan perumahan lebih bersih dan lebar, banjir jadi berkurang, Jakarta terlihat lebih bersih.

Dulu saat hujan, ia nyaris tidak bisa kemana-mana. Boro-boro narik taxi a.k.a nganter penumpang, untuk balik ke rumah atau ke pool taxi aja ia sulit. Gara-gara banjir dimana-mana. Sekarang ia merasakan perubahannya. Ia bisa narik saat hujan. Jalanan yang mulai berkurang titik dan durasi banjirnya membuat ia bisa leluasa mengantar penumpang. Malah pendapatannya jadi lebih besar kala hujan.

Saya bertanya. Kalau cuma itu alasannya, apa cukup membuatnya melupakan 'dosa' Ahok yang membuatnya dipecat dari pekerjaan.

Ia menjawab. Justru karena Pak Ahok ia kena PHK. Dan karena ia di PHK, ia mendapat pekerjaan sebagai supir taxi. Benar waktu awal ia kecewa, tetapi sekarang ia percaya, Pak Ahok membuatnya 'terlepas dari rasa bersalah' menjadi supir mobil distributor Minuman Keras yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya. Pak Ahok --menurut ia-- telah membebaskannya dari 'dosa'.

Dan katanya, kita sih ga lihat agamanya. Buktinya Pak Ahok membuat saya merasa demikian. Saya orang kecil, ga ikut politik-politikan. Yang saya lihat ada hasil kerjanya, itu yang saya pilih. Makanya tadi saya pilih Pak Ahok lagi. Saya mau kasih Pak Ahok kesempatan bekerja. Ngapain saya kasih ke orang yang saya ga tau kerjanya kayak apa.

Saya terdiam. Sejenak. Lalu jadi berapi-api. Memuji pandangannya. Mengagumi pemahamannya. Lalu sebelum turun berkata : "Bapak jauh lebih hebat dibandingkan dengan orang-orang besar yang merasa dirinya pintar."

Saya tiba. Argo taxi menunjuk angka 92 ribu. Saya membayar lebih. Lalu turun. Ia mungkin kaget. Tapi saya merasa perlu 'membayar' untuk 'kuliah' 20 menit tentang 'bagaimana melihat secercah terang di dalam gulita pergulatan hidup'. Bahwa seharusnya kita tidak mudah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita. Bisa jadi, itu justru titik balik hidup kita.

Terima kasih Pak Suparjo. Sampai bertemu di Putaran Ke - 2.

Kamis, 26 Januari 2017

PKI dan Kesalahan Jokowi

Saya tidak memilih Jokowi saat Pilpres 2014 lalu. Kukira semua tentangnya palsu, hanya polesan, sekadar pencitraan. Saat itu saya tidak percaya, seorang yang dari Solo tiba-tiba berhadapan dengan Prabowo yang mantan jenderal.

Dua tahun berlalu, dan Jokowi masih rajin blusukan dan masih dilabeli pencitraan. Seorang teman berkomentar, "masa sih selama dua tahun ini Jokowi pencitraan terus, apa nggak capek-capek, yah...?"

Selain kuatir dengan pencitraan yang disetting media, saya juga termakan isu neolib dan naga. Kecuali, tentang PKI yang saya memang tak pernah lagi menghiraukannya. Saat itu, saya menimbang lebih baik memilih mantan jenderal yang punya reputasi buruk soal HAM ketimbang memilih antek neolib yang berwajah lugu.

Anaknya yang mandiri, belanjanya ke loakan, memegang payung sendiri, sepatunya yang home industri, dan memakai sarung saat kunjungan resmi, mungkin masih disebut pencitraan oleh kaum Salawi (semua salah Jokowi), tapi semua itu jelas telah menyentuh sisi terdalam jiwa, tentang sosok presiden yang berusaha tampil apa adanya, tak berjarak dengan rakyatnya, namun tetap memiliki catatan apik dalam laporan tahunan Bloomberg.

"Tapi, buat apa dekat dengan rakyat kalau akhirnya, harga BBM, biaya STNK dan TDL dinaikkan juga, plus pemadaman bergilir, lagi...?" Kata teman melanjutkan opininya.

Yang saya baca, BBM memang naik, kecuali yang subsidi. Jadi, sasarannya adalah mereka yang berduit, setidaknya yang masih punya biaya lebih untuk kuota bulanan nangkring di Facebook dan YouTube.

Kalau skemanya seperti itu, ya wajar saja, kan? Bukankah sekarang UMP sudah di atas 2 juta? Artinya, para pekerja harusnya tak terpengaruh dengan kenaikan itu.

Lalu, kenaikan cabe. Lah, ini soal rasa bung... Kalau anda berduit, jangankan cabe yang pedas, secangkir kopi Starbucks yang segocap tak perlu ditawar. Tapi, kalau makannya sekilo sehari, emang pedes sih.

Dan kabar terbarunya, Pertamina akan mengambil alih setidaknya sekitar 10 blok Migas hingga tahun depan. Dan kemarin yang sensasional adalah kini Freeport jadi milik kita, setelah sekian lama nyaris tak tersentuh oleh pemerintah, keren kan?

"Tapi, Jokowi mendukung Ahok, Jokowi antek Aseng, Jokowi tidak islami, membiarkan Syi'ah, mengunjungi Iran dan berjabat tangan dengan Putin, itulah daftar kesalahan besarnya," Temanku yang cakep ini memang rajin membaca portal kaum sumbu pendek.

Kalau anda percaya sesuatu, harusnya anda mendukung kepercayaan itu. Begitulah keyakinan Jokowi. Cina saat ini adalah poros Asia, melewati Jepang, yang sama sekali tak salah jika diajak kerjasama. Iran dan Rusia membuktikan kehebatan mereka dalam memerangi pemberontak di Suriah yang didalangi AS. Jadi, apa yang salah kalau kita ajak mereka berteman.

"Tapi, Jokowi PKI, seenggaknya mungkin saja dia keturunan orang tidak beragama" Kata temanku yang sepertinya menemukan kata pamungkas para Salawi.

Hei bung, anda sudah pelajari ideologi ideologi dunia? Apa tujuan sebenarnya dari ideologi ideologi itu? Dan PKI, kalau anda baca sejarah, mereka itu masuk 4 besar pada pemilu tahun 1955 di bawah PNI, Masyumi dan NU. Mereka populer karena berbasis rakyat tani.

PKI salah karena terlibat kudeta 65? Anda percaya PKI yang berlogo palu arit itu mampu membunuh para jenderal? Atau jangan-jangan Anda juga percaya kalau Soekarno juga dalangi G30S? Anda bisa yakin Bung Karno berencana mengkudeta dirinya sendiri? Mari merenung sebentar, GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan beberapa kelompok separatis lainnya, dapat senjata organik dari mana?

Anda yang waras atau saya kekurangan kopi?

"Tapi, Jokowi pasti salah..." Gumam temanku.

Jokowi memang salah, karena sampai saat ini masih membiarkan kelompok radikal berkeliaran menganggu pembangunan.

Presiden Joko Widodo juga salah, karena lupa mencantumkan gambar foto imam idolamu di lembaran uang kertas baru, hehehe...

Peace...
#RevolusiCabe

#SayNoToCommunist
#SayNoToRacism
#SayNoToRadicalism
#SayNoToTerrorism

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209743922333255&id=1186811581

Jumat, 20 Januari 2017

KEMISKINAN LESTARI DI ATAS RUBICON

Menyaksikan kuliah panjang Menkeu Sri Mulyani, rasanya seperti kembali ke bangku kuliah. Paparannya asyik dengan data dan analis yang keren.

Mbak Ani mensyaratkan, jika ekonomi Indonesia mau maju maka ada empat fokus penting yang perlu diperhatikan. Pertama adalah soal kebijakan, efisiensi dan efektifitas penggunaan sumber dana. Kedua berkenaan dengan kemampuan birokrasi yang bersih, transparan dan profesional.

"Indonesia bukannya tidak punya uang, tetapi yang menjadi persoalan bagaimana mengelola uang tersebut dengan baik agar outputnya lebih maksimal," ujarnya. Dia juga menuturkan, pada 2016 ada sekitar Rp 60 triliun yang dibagikan sebagai dana desa. Ini adalah jumlah yang fantastis.

Jika proyek PNPM dengan biaya Rp 12 triliun dapat menurunkan angka kemiskinan lumayan besar, apalagi dengan dana desa yang mencapai Rp 60 triliun ini. Makanya tahun 2017 pemerintah berani memasang target angka kemiskinan menurun menjadi 9,5%, dibanding sebelumnya yang berada pada kisaran 10,7%.

Titik persoalan dana desa ini adalah bagaimana perangkat desa mampu mencitapkan geliat ekonomi di wilayahnya. Pengembangan BUMD menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan dikembangkan. "Jangan sampai dana-dana itu justru dinikmati lingkaran elit di desa saja."

Tahun ini Presiden Jokowi sudah menetapkan fokus Indonesia pada usaha pemerataan semacam usaha memperkecil jurang perbedaan pada masyarakat. Bukan saja antara yang kaya dan miskin, juga pemerataan antar daerah, antar wilayah dan antar kepulauan.

Ini salah satunya ditandai dengan ambisi pemerintah untuk menciptakan harga BBM sama di seluruh Indonesia. Harus diakui BBM adalah menyumbang tertinggi efek inflasi. Sementara efektifitas tol laut juga akan memberikan kontribusi pada proses pemerataan ini. Kondisi Indonesia yang berupa negara kepulauan mestinya dapat diantisipasi dengan lalu-lintas pelayaran yang menyambungkan seluruh titik di tanah air.

Ketiga, menyangkut kemampuan rakyat Indonesia untuk menerima keberagaman dan berfikir terbuka. Sedangkan keempat, berkenaan dengan kualitas sumber daya manusia baik diri sisi pendidikan, keterampilan dan sikap mental.

Soal kemampuan masyarakat untuk berfikiran terbuka, mampu menerima perbedaan dan mampu memandang keluar inilah yang sekarang menjadi persoalan sosial kita. Salah satu masalahnya adalah sikap pemahaman agama yang sempit yang menyebabkan publik tidak mampu berfikir terbuka. Pada akhirnya mengembangkan sikap saling curiga.

Padahal Francis Fukuyama mensyaratkan salah satu faktor kemajuan ekonomi masyarakat ditandai dengan modal sosial berupa tingkat kepercayaan yang tinggi (trust) dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat kepercayaan dalam masyarakat (high trust society) akan semakin tinggi juga kemampuan masyarakat membangun kesejahteraannya. Demikian juga sebaliknya.

Nah, saat ini kita lihat ada sebagian orang atas nama agama terus menerus menciptakan rasa saling tidak percaya dalam masyarakat (distrust). Kecurigaan pada dunia luar, pada yang berbeda agama dan keyakinan, juga pada yang berbeda paham terus dikembangkan. Sikap itu selain menciptakan kondisi sosial yang rapuh juga, seperti kata Fukuyama, juga sebagai alat yang efektif untuk melestarikan kemiskinan.

Kita sedih karena cara mereka melestarikan kemiskinan ini dengan menggunakan isu agama. Seolah agama dijadikan semacam alat untuk tetap membuat pengikutnya menjadi miskin. Caranya dengan memperkenalkan ajaran agama yang ekslusif, merasa benar sendiri dan mudah mensesatkan orang lain. Sikap ini menjadi perusak modal sosial yang dimiliki masyarakat kita.

Serunya, sambil melestarikan kemiskinan pengikutnya para tokoh penyerunya justru hidup dalam kekayaan berlimpah. Jangan kaget jika kendaraan sejenis Rubicon, Hummer, atau Alphard menjadi hiasan biasa di rumah para tokoh ini. Mereka memperkenalkan ajaran yang terus melestarikan kemiskinan pengikutnya, di sisi lain, mereka asyik menikmati mewahnya gelimang kapitalisme.

Yang paling sial mungkin Jonru. Padahal tokoh yang satu ini tidak henti-henti meneriakkan ajaran distrust kepada pengikutnya, yang menjadi bahan baku dasar pelestarian kemiskinan. Ketika habib dan ustad lain sudah asyik di atas Rubicon atau Hummer, Jonru masih saja sibuk jualan seprei.

Nasibmu, lae...

#SayNoToRacism
#SayNoToRadicalism
#SayNoToTerrorism

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1295519177190090&substory_index=0&id=1020117881396889