Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Sejarah serangan jepang ke pearl harbor


Seperti yang kita semua ketahui, penyerangan ini dilakukan oleh Jepang karena mereka "tidak terima" dengan adanya embargo minyak dan perdagangan oleh Amerika Serikat. Serangan inilah yang membuat Perang Dunia Kedua menjadi "lebih terbuka" dan membuat Amerika terjun langsung ke Perang Dunia Kedua.

Sebelum masuk, kita liat dulu tujuan penyerangan ini. Tujuan serangan Pearl Harbor adalah untuk melumpuhkan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, walaupun hanya untuk sementara. Laksamana Isoroku Yamamoto sendiri menyatakan bahwa serangan yang berhasil sekalipun hanya memberikan setahun sampai dua tahun kebebasan bertindak. Jepang telah terlibat dalam perperangan dengan Cina selama beberapa tahun (bermula pada tahun 1937) dan telah merampas Manchuria beberapa tahun sebelumnya.

Pada tanggal 26 November 1941, sebuah armada Jepang yang terdiri dari enam kapal induk, dua kapal tempur, dua penjelajah berat, satu penjelajah ringan, sembilan perusak, dan delapan tanker bergerak meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulauan Kuril. Armada yang dipimpin oleh Vice Admiral Chūichi Nagumo tersebut berlayar menuju Pearl Harbor tanpa melakukan hubungan radio apapun (radio silence).

Minggu pagi, 7 Desember 1941, serangan dimulai sekitar pukul 07:38 pagi waktu Hawaii. Pangkalan AL Amerika Serikat di Pearl Harbor diserang oleh 353 pesawat tempur, pesawat pembom, dan pesawat torpedo dari AL Jepang dalam 2 gelombang serangan, yang diberangkatkan dari 6 kapal induk, yaitu :

1. Divisi Induk 1 (Kaga dan Akagi)
2. Divisi Induk 2 (Hiryu dan Soryu)
3. Divisi Induk 5 (Shokaku dan Zuikaku)

Hampir semua pesawat terbang Amerika dimusnahkan di atas tanah, hanya beberapa yang berhasil lolos dan bertempur. 12 kapal perang dan kapal lain ditenggelamkan atau rusak, 188 pesawat tempur dimusnahkan, dan 2.403 orang Amerika kehilangan nyawa mereka. Kapal perang USS Arizona meledak dan tenggelam menyebabkan 1.100 orang kehilangan jiwa, hampir separuh dari jumlah korban Amerika yang mati. Bangkai USS Arizona diabadikan menjadi tugu peringatan kepada mereka yang tewas pada hari itu, kebanyakan dari mereka terkubur di dalam kapal tersebut, dengan kata lain, mereka gak bisa keluar dari kapal karena kapalnya tenggelam dalam posisi terbalik [Butuh rujukan]

Lalu, sebenarnya apa tujuan Jepang menyerang Pearl Harbor? Untuk melakukan 'tindakan preventif' agar Angkatan Laut Amerika Serikat tidak "mengganggu" operasi-operasi yang direncanakan Jepang di Asia Tenggara.

Dari serangan yang dilakukan ini, tercatat 8 kapal tempur rusak dan 4 diantaranya tenggelam. Seluruh kapal yang rusak (dan tenggelam) ini kemudian diangkat dan diperbaiki dan kembali ke pelayaran dan "dorama" Perang Pasifik, kecuali USS Arizona. Jepang juga menenggelamkan dan merusak 3 kapal penjelajah, 3 kapal perusak, 1 kapal latih anti pesawat, dan 1 kapal penyebar ranjau. Serangan ini juga mengakibatkan 188 pesawat terbang Amerika Serikat rusak dan hancur, serta mengakibatkan korban jiwa sebanyak 2.403 korban meninggal dan 1.178 korban luka. Namun, dari begitu banyaknya kerusakan yang ditimbulkan, sejumlah fasilitas penting yang ada di Pearl Harbor (seperti pembangkit listrik, tempat penyimpanan minyak, galangan, ruangan penyimpanan torpedo, dan kantor markas) tidak di hancurkan. Entah apakah karena Chūichi Nagumo terlalu puas dengan serangannya atau apa, yang pasti kebanyakan instalasi yang ada disana gak rusak.

Di sisi lain, Jepang "hanya" kehilangan 29 pesawat, 5 kapal Midget Submarine, dan 65 personel. Selain itu tercatat 1 pelaut AL Jepang, yaitu Kazuo Sakamaki, tertangkap oleh pihak AS setelah Midget Submarine-nya menabrak terumbu karang dan tak bisa lagi digunakan (dan dia pun terdampar, dan kemudian ditangkap dan dijadikan tawanan perang pertama pada saat Perang Pasifik)

Setelah peristiwa ini, Jepang baru menyatakan perang kepada Amerika Serikat dan memulai kampanye militernya di Asia-Pasifik Raya. Serangan ini mengawali keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Pasifik.

Bagaimanapun, dalam jangka masa panjang, Pearl Harbor merupakan malapetaka strategis bagi Jepang. Malah Laksamana Isoroku Yamamoto (panutanque), yang mencetuskan ide untuk menyerang Pearl Harbor, telah meramalkan bahwa sungguhpun dengan kejayaan menyerang Angkatan Laut Amerika Serikat, Jepang tidak akan mampu memenangkan peperangan dengan Amerika Serikat, sebab kemampuan pengeluaran Amerika terlalu besar. Salah satu tujuan Jepang adalah untuk memusnahkan tiga kapal induk Amerika Serikat yang diletakkan di Pasifik, tetapi sedang tiada ketika serangan terjadi — Enterprise dalam perjalanan pulang, Lexington telah berlayar keluar beberapa hari sebelumnya, dan Saratoga berada di San Diego selepas pengubah-suaian di Galangan Angkatan Laut Puget Sound. Sialnya, ketiga "Main Objective" ini malah berpartisipasi dalam banyak pertempuran di Pasifik. Suatu ketidak-beruntungan karena tidak menenggelamkan kapal-kapal ini (Enterprise, Lexington, Saratoga) tetapi sungguhpun sekiranya kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat telah ditenggelamkan, hal itu tidak akan membantu Jepang dalam jangka panjang.

Serangan ini membuat Amerika Serikat terlibat penuh dalam Perang Dunia II, mendorong pada kekalahan blok Poros sedunia. Saat mendengar bahwa serangan atas Pearl Harbor akhirnya telah melibatkan Amerika Serikat ke dalam peperangan, Perdana Menteri Britania Raya, Winston Churchill, menulis "Dengan emosi dan penuh perasaan yang puas, saya baring ke pembaringan dan tidur dengan tidur orang yang diselamatkan dan bersyukur". (Sir Winston Churchill – The Second World War, jilid 3, halaman 539)".

Sumber :
- http://www.history.com/topics/world-war-ii/pearl-harbor
- https://www.britannica.com/event/Pearl-Harbor-attack
- https://en.wikipedia.org/wiki/Attack_on_Pearl_Harbor
- http://www.history.com/this-day-in-history/pearl-harbor-bombed

Sabtu, 24 Juni 2017

Bonnie & Clyde : Kriminal Kelas Kakap Dunia Yang Melegenda


Bonnie and Clyde atau Bonnie Elizabeth Parker dan Clyde Chestnut Barrow merupakan pasangan sejoli yang menjadi ikon kriminal Amerika Serikat yang sudah sangat melegenda ceritanya. Pasangan kriminal ini paling berpengaruh di Amerika pada era tahun 1920-an. Pasalnya, pada tahun tersebut terjadi sebuah peristiwa besar dimana kondisi saham menurun secara drastis di Kota New York, Amerika yang mempengaruhi pendapatan ekonomi masyarakat pada tahun tersebut.
Peristiwa tersebut sering disebut dengan masa malaise atau depresi besar. Pendapatan masyarakat Amerika yang hampir seluruhnya mengandalkan pada industri-industri besar menjadi menurun. Pada masa itulah kisah Bonnie dan Clyde kriminal kelas kakap dunia dimulai. Pasangan ini merupakan salah satu pimpinan gangster yang sangat berpengaruh, karena aksi kejahatan mereka berhasil menjarah habis-habisan pendapatan seluruh kota termasuk pendapatan orang-orang kecil.
Dibalik tampang mereka yang innocent dan terlihat seperti pasangan muda yang mabuk asmara, siapa sangka kalau ternyata mereka sangat sadis. Sebagai sindikat Geng Barrow, mereka sudah merampok hampir seluruh toko, SPBU hingga Bank di daerah New york.

Ceritanya yang sangat mendunia membuat pasangan ini dikenal dengan perampok yang anarkis. Karena pada saat merampok, pasangan ini tidak segan-segan untuk membunuh siapapun termasuk Polisi yang berani menghalangi aksi kejahatannya. Dalam catatan kriminal sedikitnya 9 polisi terbunuh saat perampokan tersebut.
Dunia yang sudah cukup kacau dan terpukul berat karena menurunnya saham yang melatar belakangi pasangan ini melakukan hal anarkisnya sehingga pasangan ini terpaksa ditembak mati saat tertangkap basah merampok. Ceritanya yang melegenda ini bak kisah cinta Romeo dan Juliet namun dalam versi yang lain.

Sudah menjadi rahasia publik bahwa Romeo dan Juliet merupakan pasangan romantis sehidup semati. Begitu juga Bonnie dan Clyde. Kedua tokoh kriminal yang paling berpengaruh pada masa kritis ini membuat hollywood mengangkat ceritanya kedalam sebuah film layar lebar.
Film yang disutradarai oleh Fitz Lang dengan judul You Only Live Once ini menjadikan cerita dari kedua tokoh ini makin melejit. Setelah itu fimnya dirilis ulang kembali dengan judul The Bonnie Parker Story dan yang terakhir di tahun 1992 Bonnie & Clyde, The True Story.
Sampai kini pun kita masih bisa melihat di museum kecil yang menyimpan peninggalan senjata, hasil jarahan dan bekas mobil mereka yang diabadikan untuk mengingat kedua tokoh kriminal paling fenomenal di Amerika ini.
Jika dilihat dari historical background, legenda Bonnie and Clyde kriminal kelas kakap dunia ini terlihat sekali bahwa mereka sudah terbiasa mencuri sejak kecil. Kehidupan Clyde yang cukup keras membuatnya sudah biasa berkecimpung dengan dunia kriminal. Kali pertamanya Clyde terkena kasus kriminal yaitu saat mencuri bersama dengan saudaranya.

Clyde dan keempat saudaranya ini memang hidup dalam kesederhanaan dan dalam ruang lingkup petani membuat Clyde merasa seluruh keinginannya tidak pernah tercukupi. Inilah yang mendasari Clyde merampok. Tak hanya merampok Clyde tidak tanggung-tanggung saat melakukan aksi kriminalnya hingga membobol bank.
Hal tersebut sedikit berbeda dengan kisah Bonnie. Bonnie Elizabeth Parker yang memiliki tiga saudara ini diberikan kecerdasan yang cukup baik hingga menghasilkan karya sastra berupa puisi dengan judul The story of Suicide Sal dan The Trail’s End.

--"Awal Pertemuan Bonnie dan Clyde"--

Bonnie dan Clyde dipertemukan dirumah salah satu sahabat mereka yang membuat hubungannya menjadi semakin akrab. Bonnie sebenarnya termasuk orang yang biasa saja. Namun setelah bertemu dengan Clyde, kehidupan Bonnie berubah secara drastis yang membuatnya jatuh kedalam dunia kriminal. Terlebih lagi Bonnie yang memiliki kecerdasan cukup baik ini dimanfaatkan dengan licik untuk merampok bersama dengan Clyde.
Pasangan ini tak hanya terkenal keanarkisannya saat merampok. Karena berani untuk membunuh siapapun yang mencoba menghalangi mereka merampok atau membobol tempat jarahannya.
Pasangan ini juga terkenal unik karena tak hanya pistol yang mereka tenteng saat melakukan aksi kejahatannya tetapi juga membawa sebuah kamera yang digunakan untuk mendokumentasikan kejahatannya bersama dengan korban-korban mereka yang sudah tewas.

Sayangnya, legenda Bonnie dan Clyde tokoh kriminal kelas kakap dunia ini harus berakhir dengan tragis ditangan Kepolisian Texas pada 23 Mei 1934. Mereka berdua terpaksa di tembak tempat, karena melakukan upaya perlawanan saat aksi perampokannya tertangkap basah di Jalan Raya Lousiana yang telah diblokir sebelumnya oleh Polisi. Dalam penyergapan itu juga tak mudah untuk melumpuhkan mereka. Saat terjadinya baku tembak, banyak dari pihak Kepolisian yang meninggal dunia akibat perlawanan hebat dari mereka.

Senin, 10 April 2017

Sejarah Marsinah.


10 April 1969 - 8 Mei 1993
ㅤㅤ
Marsinah, seorang buruh kelahiran Nganjuk, 10 April 1969. Dialah pahlawan bagi para buruh PT. Putra Citra Surya. Ia rela membela hak buruh bagi teman-teman seperjuangannya. Pertengahan Mei  1993 silam, para buruh PT. Putra Citra Surya tempat marsinah bekerja  melakukan mogok kerja, hal ini ditengarai karena adanya surat edaran mengenai kenaikan upah bagi buruh. Marsinah  yang merupakan aktivis buruh asal Jawa Timur ini ikut sebagai bagian yang sangat bersikeras meminta agar upah yang diterima buruh sesuai dengan surat edaran, yaitu upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan Kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. 
ㅤㅤ
Untuk mendapat bukti sebagai penguat tuntutan pada aksinya, pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Pada hari yang sama, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untuk mencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Setelah melakukan perundingan antara perusahaan dan buruh, esoknya beberapa teman Marsinah di PHK dan menghilang, hal ini membuat arsinah marah dan mengancam akan melaporkan hal tersebut pada pamannya yang bekerja sebagai jaksa, namun setelah hari itu Marsinah menghilang hingga akhirnya ditemukan meninggal pada tanggal 9 Mei 1993. Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutan Wilangan, Nganjuk.

Marsinah pernah diusulkan sebagai pahlawan buruh wanita di Indonesia, namun belum ada tindak lanjut mengenai hal tersebut. Mengenai hari ditemukannya Marsinah pun pernah diusulkan untuk mengenang hari perjuangan Marsinah tersebut.
ㅤㅤ
Sumber: https://korpusipb.com/profil/profil-marsinah-berjuang-sampai-titik-penghabisan/

Rabu, 29 Maret 2017

'PRIBUMI' ISTILAH PENJAJAH

Tidak banyak yang tahu istilah "Pribumi" dicetuskan pertama kali oleh pemerintah Belanda dalam Undang-Undang Kolonial Hindia Belanda (Indonesia) tahun 1854

Kata 'Pribumi' berasal dari bahasa Belanda 'INLANDER' yang memiliki makna menghina semacam RAS RENDAH yang kastanya dibawah Ras Kulit Putih Eropa (Bule)

istilah "Pribumi" diciptakan Belanda dengan tujuan DISKRIMINASI SOSIAL dan Devide et Impera, politik memecah-belah bangsa menjadi kelompok2 yang saling memusuhi

Undang-Undang tahun 1854 yang memuat istilah "Pribumi" ini dikuatkan lagi oleh pemerintah kolonial Belanda dalam Pasal 163 Indische Staatsregeling tahun 1926

SUMPAH PEMUDA UNTUK LAWAN INI

Setelah istilah "Pribumi" disahkan Pasal 163 Indische Staatsregeling tahun 1926, lalu dua tahun kemudian lahir Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928

"Kami Putra Putri Indonesia mengaku,
Tumpah darah, tanah air Indonesia
Berbangsa satu, bangsa Indonesia
Berbahasa satu, bahasa Indonesia"

Sumpah Pemuda lahir untuk MELAWAN politik Devide et Impera Belanda, untuk MELAWAN upaya pemecah-belahan bangsa melalui istilah "Pribumi" - "Non Pribumi"

Sumpah Pemuda adalah IJTIHAD perjuangan para pendiri bangsa bersama para Ulama pahlawan nasional yang memicu lahirnya proklamasi 17 Agustus 1945

MENGKHIANATI PARA PAHLAWAN

90 tahun kemudian sekelompok orang Indonesia demi kepentingan politik dengan DUNGUNYA memakai istilah "Pribumi" kolonial Belanda yang DILAWAN mati-matian oleh para Pahlawan

Sekelompok orang yang menghirup kemerdekaan berkat jasa para pahlawan, malah gunakan politik Devide et Impera ciptaan Belanda yang DIPERANGI gigih oleh para pahlawan

seperti kata Albert Einstein..
Karena Cerdas ada batasnya,
tapi Dungu tak kenal batas.
Saking tolol lebih tepatnya.

Permadi Arya
( Pegiat Bhinneka )

SUMBER:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pribumi-Nusantara
https://id.wikipedia.org/wiki/Pasal_163_Indische_Staatsregeling

#IndonesiaBersatuTolakDiadu

Kamis, 16 Maret 2017

Kematian SOEKARNO


Tak Seindah Jasanya Memerdekakan Negeri Ini....

Tak lama setelah misi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.

Bung Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata Bung Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".

Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. Bung Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata Bung Karno,

lalu Bung Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan bung karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.

Semua ajudan menangis saat tau Bung Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas bung karno kepada ajudannya.

Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar Bung Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".

Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.

Mereka juga berdiri di depan Bung Karno dengan senapan terhunus. Bung Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran Bung Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.

Lalu dengan cepat Bung Karno membungkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, Bung Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.

Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir bung karno ) dan Bung Karno menoleh ke arah Saelan.

"Aku pergi dulu" kata Bung Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.

Bung Karno hanya mengibaskan tangannya. Bung Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, Bung Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.

Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah Bung Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.

Bung Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada Bung Karno.

Awalnya Bung Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran Bung Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah Bung Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.

Mengetahui bahwa Bung Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak suka. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan Bung Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...

Bung Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. Bung Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat Bung Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas bungkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.

Kamar Bung Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat Bung Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan Bung Karno.

Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar Mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur Bung Karno diberi Valium, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.

Bahkan ada satu pasukan khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan Bung Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno, tapi Bung Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.

Pada awal tahun 1970 Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Bung Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah Bung Karno bengkak-bengkak.

Ketika tau Bung Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup Bung Karno....hidup Bung Karno....Hidup Bung Karno...!!!!!"

Masuk ke bulan Februari penyakit Bung Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.

"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.

Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

Selamat Jalan Bapak.......

https://m.facebook.com/groups/1610216669215200?view=permalink&id=1942961192607411

Senin, 27 Februari 2017

Strategi Sukarno melawan Imperialisme

Strategi Sukarno melawan Imperialisme. Sukarno mengajukan empat strategi kontra-imperialisme, yakni:
ㅤㅤ
Pertama, menjalankan politik kontra pecah belah. Tentu saja, politik kontra pecah belah itu adalah persatuan. Sukarno menyadari hal itu sejak pertamakali terjun ke gelanggang pergerakan.
ㅤㅤ
Pada tahun 1926, setahun sebelum pendirian PNI, Sukarno sudah merumuskan konsep persatuan seluruh pergerakan rakyat anti-kolonial melalui tulisan berjudul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”.
ㅤㅤ
Kedua, menjalankan politik penyadaran dan edukasi. Untuk ini, Sukarno menyokong berdirinya sekolah-sekolah rakyat dan gerakan pemberantasan buta-huruf.
ㅤㅤ
Di PNI, Sukarno aktif menggelar kursus politik massal. Dia juga mendirikan koran partai sebagai corong untuk berbicara pada rakyat banyak.
ㅤㅤ
Ketiga, membabat habis mental inferior atau perasaan rendah diri di hadapan bangsa penjajah. Senjatanya adalah membangun rasa percaya atas kemampuan sendiri (self-reliance) dan semangat berdikari (self help). Dua hal itu pula jadi azas PNI.
ㅤㅤ
Keempat, menentang segala bentuk “asosiasi-politik” antara bangsa terjajah dengan imperialis. Caranya, kaum pergerakan menunjukkan pertentangan kepentingan yang tidak bisa didamaikan antara bangsa terjajah dengan imperialis. Sukarno menggunakan istilah “kaum sini” untuk bangsa terjajah dan “kaum sana” untuk penjajah.
ㅤㅤ
Begitulah gambaran strategi Sukarno dalam melawan imperialisme. Saya kira, pembacaan Sukarno tentang imperialisme, ciri-cirinya, hingga cara kerjanya masih relevan hingga sekarang. Toh, imperialisme masih nyata dan berkuasa hingga hari ini, dengan tampilannya yang lebih modern juga.
ㅤㅤ
Sumber: http://www.berdikarionline.com/soekarno-dan-empat-strategi-melawan-imperialis/

Marhaenisme sebagai teori perjuangan

Marhaen. Kata ini merupakan simbol penderitaan, akibat penjajahan yang dialami rakyat Indonesia selama ratusan tahun. Menggunakan Marhaenisme sebagai teori perjuangan, Soekarno menggunakannya untuk mengubur sistem kapitalisme maupun imperialisme dari muka bumi Indonesia yang kaya sumber alamnya, tetapi miskin rakyatnya. Konsep Marhaen yang dirumuskan Soekarno, tentu berlainan dengan konsep proletarnya Karl Marx. Di sini terlihat Soekarno bersifat kritis tidak begitu saja mengambil konsep yang dilontarkan pemikir-pemikir sosialis Barat. Konsep proletar hanya mempunyai relevansi di negara-negara industri Barat, untuk masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat agraris tidak memungkinkan.
ㅤㅤ
Konsep marhaen mewakili sebagian besar anggota masyarakat yang sengsara dan tertindas, sedangkan proletar hanya mencakup sedikit anggota masyarakat saja. Yang membedakan keduanya adalah kaum Marhaen memiliki alat produksi, tetapi kaum proletar tidak memiliki alat produksi dan hanya menjual jasa. Dalam kursus tentang Pancasila, Soekarno menegaskan kalau ingin memahami marhaenisme, terlebih dahulu harus memahami Marxisme dan keadaan di Indonesia. Marhaenisme, kata Soekarno adalah Marxisme yang diselenggarakan di Indonesia, yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Marxisme itu adalah satu ‘denkmethode’, satu cara pemikiran. Cara pemikiran untuk mengerti perkembangan cara perjuangan harus dijalankan, agar dapat tercapai masyarakat yang adil.
ㅤㅤ
Soekarno membedakan anatara imperialisme kuno dan modern, tetapi pada hakikatnya adalah sama, yaitu nafsu menguasai atau mengendalikan perekonomian bangsa dan negara lain untuk kepentingan kekuasaan metropol-tempat kepentingan imperialisme bertentangan dengan kepentingan negara satelit. Negara penjajah bertahan selama-lamanya agar dapat menguras sebanyak mungkin sumber daya alam, sedangkan negara terjajah ingin secepatnya membebaskan diri dari cengkraman nafsu imperialisme.
ㅤㅤ
Sumber: Peter Kasenda, 2014, Bung Karno Panglima Revolusi, Yogyakarta, Galang Pustaka

Rabu, 22 Februari 2017

Sejarah Freeport di Indonesia

FREEPORT

Saya belum membaca pembahasan mengenai KK vs IUPK yang menjadi sumber konflik antara Freeport dengan Pemerintah. Jadi saya tidak akan sok tahu membahasnya. Tapi, mengingat sejarah bercokolnya Freeport di Indonesia, ketika Freeport sampai main ancam akan mengadukan Indonesia ke arbitrase internasional, artinya pemerintah kita sedang melakukan sesuatu yang berani, yang merugikan Freeport. Artinya, dalam hal ini pemerintah harus didukung/dibela, kalau perlu demo besar-besaran menentang Freeport, supaya pemerintah mampu terus bertahan di tengah tekanan besar.

***

Pada tahun 1965, Presiden Sukarno mencabut UU Penanaman Modal Asing No. 78 tahun 1958, dan menggantinya dengan UU No. 16 Tahun 1965 yang secara tegas menolak penanaman modal asing. Dalam butir 3 UU tersebut dinyatakan, “bahwa untuk melaksanakan prinsip berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi dan prinsip Deklarasi Ekonomi untuk membangun ekonomi nasional yang bersih dari sisa-sisa imperialisme dan feodalisme, harus dikikis habis penanaman/operasi modal asing di Indonesia sehingga dapat memperbesar produksi nasional guna mempertinggi tingkat penghidupan rakyat Indonesia.”      
     
...Lalu, terjadilah peristiwa G 30 S 1965. Berbagai intrik politik yang terjadi sebelum dan setelah peristiwa itu, dapat dibaca di berbagai buku. Berbagai bukti disodorkan oleh buku-buku ini terkait keterlibatan CIA, yang menunjukkan bahwa target utama operasi G 30 S adalah penggulingan Sukarno dengan tujuan untuk mengamankan kepentingan AS.

Pro-kontra atas catatan sejarah ini tentu sah-sah saja. Namun, siapapun yang melakukannya, dari pihak manapun korbannya, kenyataannya, ada ratusan ribu anak bangsa yang tewas dipicu (dihasut) oleh pro-kontra ideologi. Bisa dibayangkan, dalam carut-marut konflik dan perseteruan di antara sesama anak bangsa; di tengah dendam, rasa sakit, kehilangan, dan duka cita, ada hal-hal sangat penting yang terabaikan dari perhatian publik. Di antaranya, segera setelah Sukarno diturunkan dari kekuasaan dan Suharto menjadi presiden, terjadi ‘perampokan’ besar-besaran terhadap kekayaan alam Indonesia.

‘Perampokan’ itu terjadi tahun 1967. John Pilger dalam bukunya yang berjudul “The New Rulers of the World” menulis sebagai berikut.

"Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konperensi istimewa di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambil-alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili: perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut “ekonom-ekonom Indonesia yang top.

Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, sektor demi sektor. “Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler,” kata Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah mempelajari dokumen-dokumen konperensi. “Mereka membaginya ke dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, mengatakan: ini yang kami inginkan: ini, ini dan ini, dan mereka pada dasarnya merancang infra struktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana kapitalis global duduk dengan para wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.” [1]
...
....
Dan Indonesia hari ini pun masih belum ‘aman’ dari praktik kolonialisme modern ini. Kekayaan alam Indonesia masih sangat banyak dan masih jadi incaran. Apalagi sebuah lembaga think tank AS bernama Rand Corporation, yang merupakan partner Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon), pada tahun 1998 merilis sebuah paper yang merekomendasikan bahwa Indonesia perlu dipecah menjadi 8 bagian, yaitu Timor Timur (yang sudah ‘berhasil’ diwujudkan tahun 1999), Aceh, Ambon, Irian Jaya, Kalimantan Timur, Riau, dan Bali. Sisanya, tetap menjadi bagian Indonesia. [2]

Dan cara yang paling efektif untuk memecah-belah Indonesia sesuai skenario itu, tentu saja, melalui perang saudara. Triggers atau pemicu konflik yang digunakan bisa beragam, dan paling efektif adalah kebencian atas nama agama, berdasarkan pengalaman Indonesia 1965, dan Suriah selama 5 tahun terakhir. Inilah yang sangat penting diwaspadai oleh bangsa Indonesia.

===

[1] saya copas dari buku saya sendiri, Prahara Suriah

[2]dikutip dari buku 'Tangan-Tangan AS' (Hendrajit/Global Future Institute)

Foto: Penandatangan Kontrak Karya Freeport 7 April 1967 (sumber foto: The Netherlands National Press Agency, saya ambil dari wall Johny Budiyono)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=261674047592191&substory_index=0&id=233756860383910

Sabtu, 21 Januari 2017

TENTANG BENDERA MERAH PUTIH

Menurut Fatmawati, suatu hari, Oktober 1944, tatkala kandungannya berumur sembilan bulan (Guntur lahir pada 3 November 1944), datanglah seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai,” kata Fatmawati.

Dengan kain itulah, Fatmawati menjahitkan sehelai bendera merah putih dengan menggunakan mesin jahit tangan,“sebab tidak boleh lagi mempergunakan mesin jahit kaki.”

Pemberian kain sebagai bahan bendera itu agaknya berkaitan dengan pengumuman Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia “kelak di kemudian hari.”

Menurut Sukmawati Sukarnoputri, dikutip oase.kompas.com, 24 Juli 2011, Fatmawati menjahit sambil sesekali terisak dalam tangis karena dia tidak percaya Indonesia akhirnya merdeka dan mempunyai bendera serta kedaulatan sendiri.

Siapa perwira Jepang yang mengantarkan kain merah putih kepada Fatmawati?

Perwira tersebut adalah seorang pemuda bernama Chairul Basri. Dia mendapatkannya dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda).

Pada 1978, Hitoshi Shimizu diundang Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia karena dianggap berjasa meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang. Usai menerima penghargaan, Shimizu bertemu dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang.

“Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu,” kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat.

Pada kesempatan lain, waktu berkunjung lagi ke Indonesia, Shimizu menceritakan kepada Chairul Basri bahwa dia pernah memberikan kain merah putih kepadanya untuk diserahkan kepada Fatmawati. Kain itu diperoleh dari sebuah gudang Jepang di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat, di depan bekas bioskop Capitol. “Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma,” kenang Chairul.

Tiba saatnya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Ketika Fatmawati akan melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. “Kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah satu yang hadir di tempat depan kamar tidur. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro ex walikota DKI), Suhud, Kolonel Latif Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku,” kata Fatmawati.

Setelah Sukarno membacakan proklamasi, Latif Hendraningrat dan Suhud kemudian mengerek bendera pusaka merah putih.

(Sumber: historia.id)

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208317319436981&id=1424034458

Senin, 16 Januari 2017

Soekarno, Islam di Negeri Palu Arit

Pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet, sekaligus penguasa tertinggi Negeri Tirai Besi, Nikita Sergeyevich Khrushchev, merasa sudah menang psywar terhadap rivalnya dalam perang dingin, Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy.

Ia  memiliki ide untuk mengundang Presiden Indonesia, Soekarno ke Moskow. Apalagi saat itu Indonesia berhasil menyandera pilot intelijen Negeri Paman Samuel, Allan Pope. Ia terbukti terlibat dalam pemberontakan mendukung gerakan Permesta, pada 1958.

Soekarno tidak mau melepaskan pilot bayaran yang pesawatnya ditembak TNI di kawasan Maluku. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Kamerad Khrushchev. Setidaknya ingin menunjukkan pada raja kapitalis itu bahwa Indonesia berdiri di belakang raja komunis, Uni Soviet.

“Paduka Yang Mulia, Bung Karno. Kami mengundang Yang Mulia untuk datang ke Moskow, menjadi tamu kehormatan negara dan bangsa kami,  kata Khruschev, melalui sambungan telepon dalam bahasa Inggris, pada Januari 1961.

Dalam peristiwa yang terjadi pada 56 tahun lalu itu, Bung Karno memahami betul suasana batin Khruschev.  Ia pun tidak mau begitu saja memenuhi undangan ke Moskow.  Ia tidak ingin Negeri Pancasila terjebak dalam perang dingin. Bung Besar tidak ingin membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun, maka putra dari Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, mengajukan syarat. “Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi, Paduka. Tidak boleh tidak, Kamerad.”

Khrushchev balik bertanya, “Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?”

Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya.”

Si komunis ini terheran-heran.  “Siapa pula Imam Al Bukhari?” katanya bersungut-sungut kepada ajudannya.

Tak mau membuang waktu, Khrushchev segera memerintahkan pasukan khususnya untuk menemukan makam tersebut.  Setelah dicari ke sana ke mari, anak buah pemimpin Negeri Beruang Merah itu mengaku tidak menemukan makam itu.

Selang beberapa hari, ia kembali menghubungi Bung Karno, “Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat?”

Di ujung telepon, Bung Karno tersenyum sinis. “Paduka, kalau tidak ditemukan, ya sudah. Saya lebih baik tidak usah datang ke negara Kamerad.”

Jawaban ‘Putra Sang Fajar’  ini membuat telinga Khrushchev memerah. Khrushchev pun kembali memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini. “Cari sampai dapat!”

Setelah mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam kelahiran Bukhara, tahun 810 Masehi itu. Makamnya dalam kondisi rusak tidak terawat. Imam Al Bukhari memiliki pengaruh besar bagi umat Islam di Indonesia. Ia dimakamkan di Samarkand tahun 870 M.

‘Raja komunis’ itu pun dengan riang kembali menelepon Soekarno dan mengabarkan bahwa makam dimaksud sudah ditemukan, namun dalam kondisi rusak parah.  Presiden Soekarno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaiki dan merawat makam tersebut.

Jika tidak, lanjut, Bung Karno, ia menawarkan agar makam tersebut dipindahkan ke Indonesia.  Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

Khrushchev pun memerintahkan agar makam itu dibersihkan dan dipugar secantik mungkin.  Usai renovasi, ia kembali  menghubungi Bung Karno. “Baik, saya akan datang ke negara Anda,” jawab Soekarno.

Singkat cerita, setelah mengunjungi  Moskow, pada 12 Juni 1961, Bung Karno tiba di Samarkand. Sehari sebelumnya puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini di Kota Tashkent.

Kini, setelah Uni Soviet bubar, wilayah itu menjadi bagian dari Uzbekistan. Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno adalah penemu makam Imam Al Bukhari, seorang perawi hadist Nabi Muhammad SAW.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Soekarno ke luar negeri, ia selalu menyebut dirinya sebagai Muslim sejati kepada tuan atau puan rumahnya.  Berbicara soal KeesaanTuhan. Tuhan Yang Satu. Itulah tauhid di dalam kitab suci Al-Quran.

Ia kemukakan di depan pemimpin tertinggi Negara Komunis bahwa
Tuhan kekal abadi, sehingga seorang Muslim sejati tidak takut akan kematian. Sebab telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah yang disembah kaum Muslimin. Dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Soekarno tidak peduli apakah Presiden Uni Soviet itu mau mendengarkan tentang keyakinannya tentang Islam atau pun tidak. Yang jelas Si Bung sudah paham apa yang ada di kepala Kamerad Khruschev tentang ajaran Marxisme, tentang simbol palu arit.

Ya, ayah kandung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, Sukmawati dan Rachmawati, memang bung piawai berpidato soal tauhid di hadapan orang-orang yang tidak beragama. Yang meragukan keesaan Tuhan.

(S. Ginting - senior jurnalis harian Republika)
#bungkarnobapakmarhaenisme

#Jasmerah
#SayNoToCommunist
#SayNoToRacism
#SayNoToRadicalism

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1410167545695089&id=100001055725625

Sabtu, 31 Desember 2016

Kisah Patung Pancoran

Versi awal Patung Pancoran, tangan memegang pesawat. Tapi kemudian direvisi, karena seperti mainan. Akhirnya dibuat natural. Patung Pancoran adalah ide Bung Karno sebagai simbol kebangkitan pertahanan dan industri dirgantara di tanah air. Pematungnya adalah Edhi Sunarso, yang rela berkorban harta agar patung ini selesai, patung Pancoran menyimpan kisah sedihnya sendiri...

Berikut dikutip dalam majalah Angkasa :

    “Dhi, saya mau membuat Patung Dirgantara untuk memperingati dan menghormati para pahlawan penerbang Indonesia. Kau tahu kalau Bangsa Amerika, Bangsa Soviet, bisa bangga pada industri pesawatnya. Tetapi Indonesia, apa yang bisa kita banggakan? Keberaniannya!!!”

Demikian percakapan Bung Karno dengan Edhi Sunarso di teras belakang Istana Negara, Jakarta, 1964 yang menyiratkan betapa bangganya Presiden pertama Indonesia itu dengan heroisme para penerbang Indonesia. Ironisnya, tidak semua orang mengenal penggagas dan pembuatnya, apalagi memahami gagasan dan permasalahannya.

Suatu hari penulis memiliki kesempatan untuk melakukan wawancara langsung dengan Edhi Sunarso (82), pematung legendaris kepercayaan Presiden Sukarno di kediamannya di Jl. Kaliurang Km 5,5 No. 72 Yogyakarta.

Dalam kesempatan peresmian “Tugu Muda” Semarang tahun 1953 yang dikerjakan oleh Sanggar Pelukis Rakyat pimpinan Hendra Gunawan, Edhi Sunarso bertemu dengan Bung Karno.

Kala itu Bung Karno menghampiri Edhi dan berkata, “Selamat ya, sukses.” Edhi terdiam bingung mendapat ucapan tersebut. Beberapa hari kemudian ia baru tahu kalau dirinya menjadi juara kedua lomba seni patung internasional yang diselengarakan di London dengan judul “Unknown Political Prisoner”.

Usai menyelesaikan pembuatan relief Museum Perjuangan di daerah Bintaran Yogyakarta tahun 1959, Edhi dipanggil Bung Karno untuk menemuinya di Jakarta. Panggilan tersebut sempat membuatnya terkejut. Dalam hati, Edhi bertanya-tanya ada kepentingan apa Bung Karno memanggilnya ke Jakarta. Selain dia, dua seniman lainnya, yaitu Henk Ngatung dan Trubus juga mendapat panggilan serupa.

Ketiga pematung andalan Indonesia ini kemudian melahirkan patung Selamat Datang yang hingga kini bisa kita nikmati di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Dari sekian banyak proyek pembuatan monumen dari Bung Karno, Edhie mengakui kalau pembuatan Patung Dirgantara nyaris mandek. Patung Dirgantara dimaksudkan Bung Karno untuk menghormati jasa para pahlawan penerbang Indonesia yang berhasil melakukan pengeboman terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga menggunakan pesawat-pesawat bekas peninggalan Jepang.

“Kita memang belum bisa membuat pesawat terbang, tetapi kita punya pahlawan kedirgantaraan Indonesia yang gagah berani. Kalau Amerika dan Soviet bisa membanggakan dirinya karena punya industri pesawat, kita juga harus punya kebanggaan. Jiwa patriotisme itulah kebanggaan kita!  Karena itu saya ingin membuat sebuah monumen manusia Indonesia yang tengah terbang dengan gagah berani, untuk menggambarkan keberanian bangsa Indonesia. Kalau dalam tokoh pewayangan seperti Gatotkaca yang tengah menjejakkan bumi,” ujar Edhie Sunarso mengenang perkataan Bung Karno panjang lebar.

Bung Karno meminta Edhie untuk memvisualisasikan sosok lelaki gagah perkasa yang siap terbang ke angkasa. Bahkan Bung Kano kemudian berpose sambil berkata, “Seperti ini lho, Dhi. Seperti Gatotkaca menjejak bentala.”

Setelah model Patung Dirgantara, atau patung Pancoran selesai, Edhie mengusulkan kepada Bung Karno agar patung yang rencananya berbentuk seorang manusia yang memegang pesawat di tangan kanannya diubah.

“Pak, dengan memegang pesawat di tangan kok terlihat seperti mainan,” ujar Edhie. “Bagaimana kalau di tangan kanannya tidak usah ada pesawat. Cukup dengan gerak tubuh manusia saja, didukung gerak selendang yang diterpa angin,” lanjut Edhie. “Yo wis Dhi, nek kowe anggep luwih apik yo ora usah dipasang. Ora usah digawe,” (Ya sudah Dhi, kalau kamu menganggap lebih baik ya tidak usah dipasang. Tidak usah dibuat) jawab Bung Karno.

Pembuatan monumen Patung Dirgantara sempat terhenti karena terjadi peristiwa G30S/PKI. Di sisi lain Edhie juga sudah tidak memunyai bahan-bahan, dan tidak memunyai uang lagi untuk melanjutkan pekerjaan. Ia bahkan menanggung utang kepada pemiliki bahan perunggu dan kepada bank.

Patung Digantara sempat beberapa tahun terbengkalai di Studio Arca Yogyakarta dalam bentuk potongan-potongan yang siap dirangkai. “Patung sudah selesai dicor perungu dan tinggal dibawa untuk dirangkai di Jakarta,” ujarnya.

Februari 1970, di sela-sela pengerjaan diorama untuk Museum ABRI Satria Mandala, Edhie mendapat panggilan panitia pembangunan Monas untuk menghadap Bung Karno di Istana Bogor. Dalam pertemuan tersebut Edhie melihat Suryadarma dan Leo Wattimena, serta pelukis Dullah dan beberapa teman dekatnya. “Saudara Edhie, piye kabare?” kata Bung Karno. “Patung Dirgantara nang endi?”

“Sampun rampung, Pak, (Sudah selesai, pak)” jawab Edhi.

“Kok durung dipasang? tanya Bung Karno.

Bung Karno terenyuh. Tidak berapa lama ia memanggil Gafur dan Dullah yang duduk di belakang Bung Karno.

“Fur, mobilku dolen, sing Buick. Nek wis payu duite serahno Edhi ben cepet (Fur, mobilku jual saja, yang Buick. Kalau sudah laku, uangnya serahkan Edhie supaya cepat) dipasang patungnya,” ujar bung Karno.

Setelah itu Edhie pamit pulang ke Yogyakarta untuk mempersiapkan pengangkutan patung ke Jakarta. Sebelum pulang, seorang staf Bung Karno menyerahkan uang sebesar Rp1.750.000 kepada Edhi untuk biaya transportasi pengangkutan patung ke Jakarta.

Tak sampai meresmikan

Satu minggu pekerjaan berjalan, Bung Karno melihat langsung pengerjaan merangkai patung. Setiap bagian yang diangkat rata-rata seberat 80-100 kg. Pemasangan dimulai dari bagian kaki sampai pinggang dan setiap sambungan dilas.

Ketika sampai pengelasan pada bagian pinggang, Edhie melihat ke bawah dan terlihat banyak orang berkerumun termasuk Bung Karno. Padahal, kondisi kesehatan Bung Karno saat itu sedang tidak baik dan ia sudah tinggal di Wisma Yaso. Edhie pun bergegas untuk turun, namun dilarang oleh Bung Karno.

Minggu pertama April 1970, pemasangan patung sudah sampai di bagian pundak dan tangan kanan sudah terpasang. Sedangkan tangan kiri dalam tahap penyambungan. Dalam kondisi yang kurang sehat, Bung Karno kembali meninjau proses pemasangan. Seperti yang pertama, Edhi segera bergegas untuk turun dari atas, tetapi lagi-lagi dilarang oleh Bung Karno. Bung Karno meminjam megaphone pasukan pengawal agar saya terus bekerja.

Mei 1970, Edhi mendengar kabar kalau Bung Karno akan melakukan inspeksi untuk ketiga kalinya. Akan tetapi hal itu ternyata tidak pernah terlaksana karena sakit Bung Karno semakin serius .

Pagi pukul 10.00 tanggal 21 Juni 1970, Edhi yang kala itu sedang berada di puncak Patung Dirgantara, melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di bawah monumen. Ternyata itu adalah iring-iringan mobil jenazah Bung Karno dari Wisma Yaso menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Jenazah Bung Karno akan dibawa ke Blitar.

Badan Edhie lemas. Ia bergegas turun dan bersama rekannya Gardono, bergegas menuju Blitar untuk mengikuti upacara pemakaman Bung Karno.

Semingu setelah pemakaman Bung Karno, Edhie bersama tim pekerja monumen kembali ke Jakarta untuk melakukan pengerjaan akhir sekitar satu bulan. Edhie meninggalkan monumen dalam kondisi yang belum diberi nama, belum diresmikan, dan masih memiliki utang.

Namun ia merasa ikhlas dengan apa yang telah ia kerjakan untuk seorang tokoh sebesar Bung Karno yang sangat ia kagumi. Tokoh yang sangat dekat dengan seniman dan menghargai seni.

“Saya rela demi rasa cintaku kepada bangsa dan negara dan cintaku kepada Bung Karno yang selalu mendorong dan membangkitkan keberanian saya untuk mewujudkan ide-ide dan mengerjakan karaya-karya monumental Bung Karno,” kata Edhi.

(Sumber : angkasa.co.id)

Jumat, 30 Desember 2016

Iosif (Josef) Vissarionovich Stalin

Iosif (Josef) Vissarionovich Stalin nama asli Ioseb Jughashvili atau dikenal dengan nama Joseph Stalin lahir pada 18 Desember 1878, meninggal 5 Maret 1953 adalah pemimpin Uni Soviet dan seorang diktator yang sangat lalim, dikenal juga dengan sebutan “Manusia Baja” sebagai namanya (Stalin atau Steel Man). Stallin diperkirakan telah memerintahkan pembunuhan sekitar 30 juta jiwa penduduk Rusia dan negara-negara sekitarnya. Ia juga dikenal sebagai orang yang membenci agama. Awalnya ia masuk seminari di Tbilisi, namun ia kemudian menjadi tidak percaya adanya Tuhan setelah membaca buku Asal-usul Spesies karya Charles Darwin.

Sebelum menjadi pemimpin  Uni Soviet Stalin merupakan Sekretaris Jendral Partai Komunis Uni Soviet. Lawan utama yang ia hadapi ialah Leon Trotsky. Setelah ia berhasil merangkul semua partai, Stalin mengusir Trotsky dari bumi Soviet dan pada akhirnya Trotsky dibunuh di Meksiko tahun 1940.

Menjelang tahun 1929 Stalin menjadi kepala negara. Ia memperlakukan saingannya atau siapapun yang melawannya degan kejam mereka semua dihukum mati sebagai mesuh negara Sovyet atau menjebloskannya ke dalam kampkamp penjara. Dalam Perang Dunia II (1939-1945) Rusia berperang dengan Inggris serta Amerika Serikat melawan Jerman. Tetapi seusai perang Stalin ” memasang Tirai Besi” antara sekutu Barat dan Rusia dan sebagian besar negara di Eropa Timur dijadikan negara Komunis. Stalin berkuasa sampai akhir hayatnya pada usia 73 tahun. Pada masa pemerintahannya ia tidak hanya mengawasi seluruh negara Rusia, melainkan juga negara-negara di luar Rusia.

Jeanne d'Arc atau Joan of Arc,

Jeanne d'Arc atau Joan of Arc, demikian namanya tertulis dalam tinta emas dalam sejarah. Sebagai pahlawan sekaligus santa atau orang suci.

Namun, perempuan berjuluk La Pucelle d'Orlaans itu tak berumur panjang. Saat menginjak usia 19 tahun, ia ditangkap musuh dan dieksekusi mati pada 30 Mei 1431.

Hari itu Jeanne d'Arc mengenakan pakaian perempuan, terikat kencang di tiang tinggi. Ia meminta petugas memegang salib di hadapannya dan berulang kali menyebut nama Tuhan dengan suara keras di tengah kobaran api.

Sang pahlawan Prancis diekseskusi dengan cara dibakar, seperti yang diterapkan pada perempuan-perempuan yang dituduh sebagai tukang sihir. Atas tuduhan bidah.

Setelah meninggal, orang-orang Inggris membongkar arang dan menemukan tubuhnya yang telah hangus. Tak cukup di situ, untuk memastikan bahwa tak ada seorang pun yang mengklaim ia lolos dari eksekusi, tubuhnya kembali dibakar hingga 3 kali. Abunya kemudian dikumpulkan dan disebar di Sungai Seine.

Hidup Jeanne d'Arc tamat, namun riwayatnya tak lekang oleh waktu. Pada 7 Juli 1456, nama Jeanne d'Arc direhabilitasi, pengadilan ulang menyatakan, ia tak bersalah untuk tuduhan bidah. Dan hingga kini, ia dianggap sebagai simbol martir.