Tampilkan postingan dengan label inspire. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspire. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Oktober 2017

Inilah Pekerjaan Yang akan Hilang Akibat "Disruption"

Rhenald Kasali

 

Mungkin Anda sempat menerima video tentang Google Pixel Buds. Wireless headphone seharga 159 dollar AS yang akan beredar bulan depan ini, dipercaya berpotensi menghapuskan pekerjaan para penerjemah.

Headphone ini mempunyai akses pada Google Assistant yang bisa memberikan terjemahan real time hingga 40 bahasa atas ucapan orang asing yang berada di depan Anda.

Teknologi seperti ini mengingatkan saya pada laporan PBB yang dikeluarkan oleh salah satu komisi yang dibentuk PBB – On Financing Global Opportunity – The Learning Generation (Oktober 2016).

Dikatakan, dengan pencepatan teknologi seperti saat ini, hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan. Tak mengherankan bila mulai banyak anak-anak yang bertanya polos pada orang tua, “mama, bila aku besar, nanti aku bekerja di mana?”

Otot Diganti Robot

Perlahan-lahan teknologi menggantikan tenaga manusia. Tak apa kalau itu membuat kita menjadi lebih manusiawi. Semisal kuli angkut pelabuhan yang kini diganti crane dan forklift.

Tak hanya di pelabuhan, di supermarket pun anak-anak muda beralih dari tukang panggul menjadi penjaga di control room. Itu sebabnya negara perlu melatih ulang SDMnya secara besar-besaran dan menyediakan pekerjaan alternatif seperti pertanian atau jasa-jasa lain yang masih sangat dibutuhkan.

Tetapi teknologi tak hanya mengganti otot. Manusia juga menggunakan teknologi untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya.

Di sini kita sudah melihat robot dipakai untuk memasuki rumah yang dikuasai teroris dan memadamkan api.

Sekarang kita mendengar tenaga-tenaga kerja yang bertugas di pintu tol akan diganti dengan mesin. Pekerjaan di pintu-pintu tol semakin hari memang semakin berbahaya, baik bagi kesehatan (asap karbon kendaraan), keamanan maupun kenyamanan (tak dilengkapi toilet).

Sehingga, memindahkan mereka ke control room atau pekerjaan lain tentu lebih manusiawi.

Tetapi, teknologi juga menggantikan jarak sehingga pusat-pusat belanja yang ramai dan macet tiba-tiba sepi karena konsumen memilih belanja dari genggaman tangannya dan barangnya datang sendiri.

Maka sejak itu kita menyaksikan pekerjaan-pekerjaan yang eksis 20 tahun lalu pun perlahan-lahan akan pudar. Setelah petugas pengantar pos, diramalkan penerjemah dan pustakawan akan menyusul.

Bahkan diramalkan profesi dosen pun akan hilang karena kampus akan berubah menjadi semacam EO yang mengorganisir kuliah dari ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Kasir di supermarket, sopir taksi, loper koran, agen-agen asuransi, dan sejumlah besar akuntan juga diramalkan akan berkurang.

Kita tentu perlu memikir ulang pekerjaan-pekerjaan yang kita tekuni hari ini.

Pekerjaan-pekerjaan Baru

Sebulan yang lalu, di Cambridge – UK, saya menerima kunjungan dari mentee-mentee saya yang sedang melanjutkan study S2. Salah satunya, Icha yang sedang duduk di program S2 bidang perfilman.

Saya pun menggali apa saja yang ia pelajari dan  rencana-rencana ke depan yang bisa dijembatani yayasan yang saya pimpin.

Icha bercerita tentang ilmu yang didapatnya.

“Kami disiapkan untuk hidup mandiri,” ujarnya.

“Masa depan industri perfilman bukan lagi seperti yang kita kenal. Semua orang kini bisa membuat film tanpa produser dan middlemanseperti yang kita kenal. Kami diajarkan menjadi produser indies, tanpa aktor terkenal dengan kamera sederhana, dan pasarkan sendiri via Netflix.

Ucapan Icha sejalan dengan Adam, putera saya yang sedang mengambil studi fotografi di School of Visual Arts, New York. Ia tentu tidak sedang mempersiapkan diri menjadi juru potret seperti yang kita kenal selama ini, melainkan mempersiapkan keahlian baru di era digital yang serba kamera.

Adam bercerita tentang arahan dosennya yang mirip dengan Icha di UK. “Sepuluh tahun pertama, jangan berpikir mendapatkan gaji seperti para pegawai. Hidup mandiri, membangun keahlian dan persiapkan diri untuk 20 tahun ke depan. Tak mau susah, tak ada masa depan,” ucapnya menirukan advis para dosen yang rata-rata karyanya banyak bisa kita lihat di berbagai galeri internasional.

Adam dilatih hidup mandiri, berjuang sedari dini dari satu galeri ke galeri besar lainnya. Dari satu karya ke karya besar lainnya.

Memang, pekerjaan-pekerjaan lama akan banyak memudar walau tidak hilang sama sekali. Seperti yang saya ceritakan dalam buku baru saya, Disruption, pada pergantian abad 19 ke abad 20, saat mobil menggantikan kereta-kereta kuda. Ribuan peternak dan pekerja yang menunggu pesanan di bengkel-bengkel kereta kuda pun menganggur. Namun pekerjaan-pekerjaan baru seperti montir, pegawai konstruksi jalanan, pengatur lalu lintas, petugas asuransi, dan sebagainya pun tumbuh.

Kereta-kereta kuda tentu masih bisa kita lihat hingga hari ini, mulai dari jalan Malioboro di Yogyakarta sampai di kota New York, Paris, atau London melayani turis. Tetap ada, namun tak sebanyak pada eranya.

Namun pada saat ini kitapun menyaksikan munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang tak pernah kita kenal 10-20 tahun lalu: Barista, blogger, web developer, apps creator/developer, smart chief listener, smart ketle manager, big data analyst, cyber troops, cyber psichologyst, cyber patrol, forensic cyber crime specialist, smart animator, game developer, smart control room operator, medical sonographer, prosthodontist, crowd funding specialist, social entrepreneur, fashionista and ambassador, BUMN v Developer, Cloud computing services, cloud service specialist, Dog Whisperer, Drone operator dan sebagainya.

Kita membaca postingan dari para bankir yang mulai beredar, sehubungan dengan tawaran-tawaran untuk pensiun dini bagi sebagian besar karyawannya mulai dari teller, sampai officer kredit.

Kelak, bila Blockchain Revolusion seperti yang ditulis ayah-anak Don-Alex Tapscott menjadi kenyataan, maka bukan hanya mesin ATM yang menjadi besi tua, melainkan juga mesin-mesin EDC. Ini tentu akan merambah panjang daftar pekerjaan-pekerjaan lama yang akan hilang.

Jangan Tangisi Masa Lalu

Di beberapa situs kita pasti membaca kelompok yang menangisi hilangnya ribuan atau bahkan jutaan pekerjaan-pekerjaan lama. Ada juga yang menyalahkan pemimpinnya sebagai masalah ekonomi.  Tentu juga muncul kelompok-kelompok penekan yang seakan-akan sanggup menjadi “juru selamat” PHK.

Namun perlu disadari gerakan-gerakan itu akan berujung pada kesia-siaan. Kita misalnya menyaksikan sikap yang dibentuk oleh tekanan-tekanan publik seperti itu dari para gubernur yang sangat anti bisnis-bisnis online.

Mungkin mereka lupa, dunia online telah menjadi penyedia kesempatan kerja baru yang begitu luas. Larangan ojek online misalnya, bisa mematikan industri kuliner dan olahan rumah tangga yang menggunakan armada go-food dan go-send.

Berapa banyak tukang martabak yang kini tumbuh seperti jamur di musim hujan, rumah makan ayam penyet dan pembuat sabun herbal yang juga diantar melalui gojek.

Sama halnya dengan menghambat pembayaran noncash di pintu-pintu tol, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memberikan pelayanan-pelayanan baru yang lebih manusiawi dan lebih aman.

Satu hal yang pasti, kita harus mulai melatih anak-anak kita menjadi pekerja mandiri menjelajahi profesi-profesi baru. Ketika mesin dibuat menjadi lebih pandai dari manusia, maka pintar saja tidak cukup.

Anak- anak kita perlu dilatih hidup mandiri dengan mental self-driving, self-power, kreatifitas dan inovasi, serta perilaku baik dalam melayani dan menjaga tutur katanya di dunia maya (yang sekalipun memberi ruang kebebasan dan kepalsuan).

Kamis, 17 Agustus 2017

UNGKAPAN HATI JHON KOGOYA, ORANG ASLI PAPUA (OAP)


Saya tidak bisa memaksa siapapun harus sependapat dengan saya, maka silahkan masing-masing berjalan sesuai dengan pendapat dan pikirannya.

Tapi saya hanya mau menyampaikan alasan kenapa saya sebagai Orang Asli Papua (OAP) memilih setia kepada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), terserah sebagian kecil OAP menganggap saya penghianat. Tapi ini beberapa alasan saya yang sangat mendasar:

1. Sejak Saya dilahirkan ke Bumi tidak pernah merasa terjajah oleh siapapun, kebetulan saya lahir bukan masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Saya bebas kemana saja di seluruh pelosok Indonesia tanpa gangguan apapun.

2. Saya tidak pernah diperlakukan Diskriminasi Oleh Sodara-sodara saya suku manapun. Bahkan Saya melihat banyak Saudara OAP yang menikah dengan Suku lain selain Papua.

3. Tidak ada satupun Hak yang dimiliki Oleh WNI lain selain Papua yang tidak dimiliki oleh OAP dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya banyak hak khusus yangg dimiliki OAP yang tidak dimiliki oleh WNI lain. Saya sudah jalan ke hampir seluruh Wilayah NKRI. Di sana Orang Papua tidak disebut pendatang, tapi di Papua ada istilah pendatang dan Pribumi.

4. Di Papua saya melihat jarang sekali OAP yang punya kios, jarang yang bisa bertani secara moderen atau jadi Nelayan besar, jadi tukang seperti Sodara-sodara Saya WNI yang lain. Artinya Kalau Papua pisah dari NKRI maka Papua akan mundur 2 abad ke belakang. Kelas papua hanya kelas jual Pinang. Karena itu Saya mau mendorong Sodara-sodara Saya Papua agar mau belajar yang baik, bekerja keras sehingga seluruh OAP dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik.

5. Saya sudah pernah jalan-jalan ke berapa Negara Tetangga Wilayah Malenesia, Saya belum pernah menemukan Negara manapun di Wilayah Malenesia yang lebih maju dan lebih sejahtera dari pada Papua. Bahkan Hampir seluruh kebutuhan dasar Warga PNG dipasok dari Papua. Karena Sodara kita di Malenesia sana dikuasai oleh orang Asing.

6. Demikian pula Hampir hampir seluruh kebutuhan dasar Papua di kirim dari Provinsi lain. Sehingga kalau Papua pisah dari NKRI maka seluruh kebutuhan pokok Papua akan diekspor dari luar, betapa menderitanya Papua kalo itu terjadi apalagi kalau kita di Embargo.

7. Fakta sejarah membuktikan bahwa Papua tidak pernah berdiri sendiri dalam suatu pemerintahan sendiri. Tidak pernah ada kerajaan Papua. Tapi hanya kelicikan penjajah Belanda-lah yang membayar sekelompok pengkhianat diberikan Bendera Bintang Kejora dan lagu Hai Tanahku Papua yang dianggap sebagai lagu kebangsaan. Semua simbol-simbol Negara boneka tersebut murni buatan dan Ciptaan Belanda, bukan karya, buatan atau ciptaan anak Papua sendiri. Jadi dimana kebanggan dan kehormatan Papua?

8. NKRI selalu dituduh melakukan pelanggaran HAM dan Genocide terhadap Orang Papua, tapi kenyataannya sejak dahulu Nenek moyang kita OAP hingga jaman modern sekarang selalu perang suku, hanya karena persoalan kecil kita saling bunuh dan saling makan sesama Saudara, entah sudah berapa ribu jatuh korban karena perang suku. Justru NKRI lah melalui aparat keamanannya berusaha mendamaikan kita dan mengajarkan peradaban.

9. Di dalam hukum dan pemerintahan Orang Papua tidak dibedakan dengan suku lain. Banyak OAP yg jadi menteri, banyak yang jadi Jenderal, bahkan seluruh Gubernur dan Bupati/walikota semuanya OAP. Saya Optimis bahwa suatu saatPresiden RI adalah OAP apabila kita mau belajar keras mengisi kemampuan dan Wawasan kita.

10. Saya sangat cinta dan bangga kepada Papua, tetapi saya lebih Bangga sebagai bagian dari NKRI. Karena apabila Saya hanya menjadi Papua maka Saya sangat kerdil. Tetapi apabila saya NKRI saya kaya. Saya bisa memiliki Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Sumatera dan lain-lain. Dan Saya punya Saudara ribuan Suku serta bemacam-macam Agama di Indonesia. Karena NKRI dibentuk bukan atas dasar Ras, agama, Suku bangsa dll. Tapi NKRI dibentuk atas dasar Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu).

SALAM PERSATUAN DARI JHON KOGOYA

Senin, 14 Agustus 2017

Nasihatnya Makoto Kondo

LAYAK DIRENUNGKAN.

Makoto Kondo, ahli kanker terkenal di Jepang. Dia dosen radiologi di Keio University, dg pngalaman lbh dari 40 thn praktek kedokteran, dia berani menyatakan pandangan medis yang tidak berani diungkapkan dokter2 lain.

Ia lulusan Fakultas Kedokteran dari Universitas Keio, Jepang, kemudian melanjutkan studi di Amerika Serikat dan meraih gelar doktor.

Prestasinya mndapatkan penghargaan "Kikuchi Kan ke-60” pd thn 2012 (pemenang adalah tokoh yg berkontribusi besar thdap budaya Jepang).

Berikut bbrpa nasihatnya:
1. Yang menakutkan itu bukan kanker, tetapi “pengobatannya”. Mengapa ada orang yang semula energik, lantas menjadi lemah setelah terserang kanker ? Hal ini dikarenakan mereka tlh menjalani proses “pengobatan kanker”.

Selama “tidak mengobati kanker”, maka penderita bisa menjaga pikirannya secara jelas & sadar, sampai pada detik2 terakhir hidupnya. Jika ditangani secara tepat, maka tubuh dapat bergerak bebas leluasa.

Banyak kanker yang tidak memicu rasa sakit, tapi jika benar2 sakit atau  nyeri, itu bisa dikontrol.

Jika Anda tidak ada gejala sakit, nyaman2 aja, tetap berselera (makan), tapi dlm pemeriksaan medis terdeteksi kanker, maka “kanker” ini dipastikan adalah “pseudo kanker (kanker palsu/semu)”.

Dg hanya mengandalkan pencitraan Sinar X utk mendeteksi kanker payudara, 99%-nya juga berupa pseudo kanker, tp sebagian besar penderita tetap saja akan menjalani mastektomi (operasi pengangkatan payudara), disarankan sebaiknya berhati-hati.

2. Lebih dini menemukan kanker juga percuma. Karena sejak lahirnya sel-sel induk kanker, masa kanker merenggut nyawa seseorang itu telah pasti. Bila ditemukan lebih awal, mk “waktu bertahan hidup” jadi lebih lama.

Jadi, kita harus melihat “tingkat kelangsungan hidup dlm 10 thn”, baru bisa menntukn penderita bs disembuhkn ato tidak.

3. Operasi adalah cedera serius buatan (manusia). Setelah operasi, fisik kita akan menurun drastis, amat rentan terinfeksi, bahkan bs meninggalkan sequela yang sulit disembuhkan. Meninggal di meja operasi juga biasa terjadi. Jika dokter menganjurkan Anda untuk operasi, maka  diprtimbangkan dg rinci, efek seusai operasi.

Komunitas medis mengatakan : “Begitu operasi dilakukan, maka sel-sel kanker akan murka”. Karena operasi akan meninggalkan bekas luka, dan bekas luka itu merusak sel-sel normal, shg sel-sel kanker dalam darah akan meresap ke dalam, mempercepat pembiakan & mnyebar kmana-mana.

4. Kemoterapi itu sangat beracun. Kanker yg bisa disembuhkan secara kemoterapi hanya ada 4 macam: leukemia akut, limfoma ganas, kanker testis, kanker koriokarsinoma. Bbrpa jenis kanker ini hanya sktar 10% dari semua jenis kanker.

Apakah kemoterapi dapat memperpanjang hidup penderita, masih harus dibuktikan lebih lanjut. Racun obat itu sangat keras, dapat berefek samping yg serius. Semakin tinggi usia, dan semakin lama waktu merokok, maka toksisitas kemoterapi akan tampak lebih jelas.

5. Sebesar 90% dari penyakit kanker, terlepas diobati tidak, masa bertahan hidupnya sama.

Bgaimnapun mutahirnya perkembangan medis, kanker yg sebenarnya itu mustahil bs dismbuhkan dg hanya mengandalkan tenaga manusia.

Ttg kesaksian2 tentang “sembuh secara ajaib”, “kanker lenyap tak berbekas”, sebgn besar berhubungan dgn pseudo kanker ato kanker semu.

“Pseudo kanker” sama seperti jerawat, abaikan saja, karena secara alami akan hilang sendiri. Namun, para dokter justru mempropagandakan  melalui media cetak atau eletronik dg kata-kata promosi “kami tlh brhasil menyembuhkan kanker"

6. Meskipun dokter telah memastikan bahwa Anda terserang kanker, jika Anda tidak menderita krna penyakit itu, maka lebih baik menunggu sambil mengamati. Tapi, jika memang Anda benar2 ingin mengobatinya, maka coba Anda prtimbangkan dulu apakah diagnosis dokter itu benar.

7. Operasi berjalan sukses ≠ kanker berhasil disembuhkan. Sekalipun operasi brjalan smpurna, namun kanker padat yg sesungguhnya itu juga pasti akan kambuh.

8. Makin “canggih” proses terapi, semakin harus Anda waspadai. Banyak teknologi yg masih dalam tahap percobaan, tapi begitu dibilang “canggih”, penderita akan patuh saja ibarat kerbau dicocok hidungnya. Intinya, lebih baik Anda berhati-hati dengan terapi yang disertai kata “canggih” itu.

9. Metode pemeriksaan melalui pancaran sinar-X 360 ° secara keseluruhan, mengambil gambar cross-sectional (potong –lintang) bagian dalam tubuh (pasien). Dosis radiasi sekali periksa CT Scan itu setara dengan 200 – 300 kalinya sinar X atau radiography normal! Dan dosis radiasi sekali periksa CT Scan itu bs memicu trjadinya kanker.

10. Memperkuat sistem kekebalan tubuh tidak bermanfaat utk pencegahan & pengobatan kanker, bahkan sama sekali tidak efektif. Mengapa? Karena tugas sel kekebalan tubuh adalah menyerang benda asing dari luar, sementara sel2 kanker itu terbentuk karena mutasi sel kanker dari dalam tubuh itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh manusia tidak akan menganggap sel kanker sebagai musuh. Mengapa kanker dapat tumbuh hingga 1 cm diameternya, karena sel-sel kekebalan tidak menganggap sel kanker sbg musuh. Inilah bukti tak terbantahkan  mengapa sistem kekebalan tubuh tdk dpt membunuh sel kanker.

Apa yg sebaiknya kita lakukan ?

Lupakan kanker, tidak perlu operasi, jangan  menjalani proses radioterapi atau terapi radiasi, apalagi kemoterapi, jangan pernah lakukan!

Saat badan mulai tidak nyaman, baru pikirkan cara meringankan rasa sakit itu. Dengan begitu, bisa nyaman & rileks memperpanjang usia hidup. Jika dokter tidak menjelaskan, maka sebaiknya jangan tanya lebih lanjut, karena tak seorang pun yg tahu Anda bs hidup brpa lama.

Tidak peduli apakah itu kanker atau penyakit lain, semua perlu ditangani oleh dokter terkait. Namun, pasien tidak perlu menyerahkan sepenuhnya kepada dokter terkait keputusan menentukan pengobatan, dan dokter jg tdk berhak memberi perintah seenaknya thdap pasien.

Kita bisa belajar dari batu-batu yg terus bergulir. Asal tahu saja, batu yang terus bergulir tidak akan ditumbuhi lumut. Selama kita banyak menggerakkan anggota tubuh, selalu mengaktifkan otak (berpikir), maka tubuh kita tidak akan berkarat.

Selain itu, selama kita bisa membuat rasa (emosi) menjadi lebih berisi setiap hari melewati suka-duka, sedih-ceria, maka kelima indera kita (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, peraba) tidak akan menjadi diam/lamban (pikiran atau tindakan/respon)

Jauhi hal-hal yang tidak menyenangkan, hargai dan syukuri nikmat dari kehidupan kita.

Banyak berjalan, darah akan mengalir ke segenap anggota tubuh, tidak akan tinggal/diam di bagian bawah anggota tubuh, mk tekanan darah akan relatif stabil.

Tertawa lepas bs mmbantu menggerakkan otot wajah & sekat rongga badan, sehingga pernapasan akan menjadi lebih dalam, sirkulasi darah juga akan lebih baik, shg tubuh juga akan terasa hangat.

Perbanyak nikmati makanan lezat, selalu melakukan hal-hal yang kita sukai, dengan begitu bisa membuat suasana hati menjadi ceria, tak perlu stress, membuat tubuh mengeluarkan lebih banyak serotonin, dopamin, endorfin, meningkatkan keinginan dan suasana hati ceria, shg hidup mnjd lbih ceria.

Dari pengalaman,  selama bisa menjaga suasana hati tetap ceria, niscaya akan lupa rasa tdk nyaman/sakit & kanker pun tidak akan  menjadi lbh parah.

Dewasa ini, banyak yang meninggal karena kanker. Hari ini, nasib malang tampaknya menimpa orang lain, tapi besok bisa saja terjadi pada kita, siapa tahu? Setiap orang hanya bisa menjaga kesehatan masing-masing.

Berbagilah dg kerabat dan  teman-teman. Mulailah lakukan gaya hidup sehat, hadapi hari-hari dengan  ceria, inilah resep terbaik utk pencegahan kanker !!!

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1558458910841076&id=100000309475736

Sabtu, 24 Juni 2017

DEFINISI KAFIR

Penjelasan Prof. DR. Quraish Shihab tentang makna "kafir" saat ditanya anaknya Najwa Shihab di acara Mata Najwa.

Najwa : Belakangan ini kata kafir itu ringan sekali diucapkan, orang gampang sekali mengkafirkan, siapa sebenarnya orang "kafir" itu?

Quraish : Kafir bisa berarti yang mengingkari agama, kafir juga bisa berarti munafik, kafir itu pada dasarnya bisa berarti menutup, kalau anda menutup kebenaran berarti anda kafir.

Tetapi karena secara umum orang memahami kafir itu keluar dari Islam, maka datang larangan Nabi "Jangan mengkafirkan orang!"

Najwa : Nabi melarang?

Quraish : Nabi melarang, "Siapa yg mengkafirkan orang, padahal orang itu tidak kafir maka tuduhan itu kembali kepadanya", dia dinilai Tuhan kafir

Beberapa waktu lalu beliau juga pernah menegaskan bahwa "kafir" itu tak hanya untuk non-muslim.

Menurut beliau, siapa saja yang melakukan sesuatu yang jauh dari kebenaran, kalau dia itu seorang muslim, dia juga bisa disebut kafir. Lebih lanjut beliau mengatakan siapapun bila berada di jalan yang benar, berani melawan kemungkaran, ikutilah dia dan bantu dia.

“Jangan bertanya apa agamanya, apa sukunya, siapa bapaknya atau sampai menuding seseorang kafir. Sesungguhnya Tuhan berhak mengutus siapa pun untuk kebaikan di bumi ini,”

#Nahdlatululama

https://m.facebook.com/groups/1610216669215200?view=permalink&id=2030468730523323

Selasa, 23 Mei 2017

KENAPA AHOK MENOLAK BANDING ?

"Kenapa Ahok menolak banding ??"

Tanya beberapa teman mampir ditempatku. Aku tidak tahu, tidak bisa menjawab bahkan tidak mau memperkirakannya. Biarlah itu menjadi rahasia pribadinya dan keluarganya.

Ada hal yang sedang berubah terjadi di diri Ahok yang biasa tampil percaya diri dan cenderung arogan. Ia kini bertransformasi menjadi seorang flamboyan.

Ahok mungkin sedang bertapa dari hiruk pikuknya dunia. Ia mungkin malah sudah menikmati kesunyian di dalam sel yang mengurung dirinya. Ia sedang bertarung bahkan mengupas semua kulit nafsunya.

Mungkin juga ia ingin menahan diri untuk tidak menimbulkan kembali hiruk pikuk di negeri ini. Ia tahu sekarang banyak orang sedang menaruh moncong senapan di dahinya.

Dan jika ia banding, maka depan pengadilan akan terjadi adu kekuatan massa yang bisa saja menjadi musibah untuk negeri yang ia cinta.

Mungkin juga ia sedang memberi jalan Jokowi untuk menuntaskan kerjanya. Ia tidak ingin merepotkan sahabatnya yang bisa saja melakukan langkah salah hanya untuk sekedar menyelamatkan dirinya.

Dan ia tahu - kesalahan sekecil apapun akan menjadi senjata baru bagi musuh-musuhnya.

Jadi, biarlah...

Biarkan Ahok menemukan dirinya. Tidak usah menangisinya karena apa yang terjadi, tetapi tangisilah hukum yang mati di negeri ini. Ahok tidak ingin penegak hukum mendapat dosa yang lebih besar lagi hanya karena menjatuhkan putusan berdasarkan ketidak-sukaan pribadi semata.

Apapun keputusannya, hanya dia, istrinya dan Tuhannya yang tahu. Mereka bukan pasrah, hanya melawan dalam diam. Waktu yang akan berbicara bahwa keadilan tidak didapat dari riuhnya seruan dijalan, tetapi juga dari kusamnya dinding penjara yang menghormati segala gerik langkahnya..

Semua orang mempunyai cara untuk menemukan Tuhannya. Ada yang melalui habisnya harta, ada yang dengan sakit parah dan menderita, ada yang kehilangan sanak saudara.

Dan Ahok menikmati dengan duduk menyendiri di dalam penjara, membaca kembali kitab suci yang ia yakini dan menemukan permata diri.

Pada akhirnya, ia akan jauh lebih kaya. Materi sudah tidak menguasainya lagi. Jabatan sudah tidak mempengaruhinya lagi. Dunia sudah tidak menemukannya lagi. Biarlah sejarah yang mencatat perjuangannya dan Tuhan yang mencatat amalnya..

Begitu banyak faktor kenapa Ahok mencabut permohonan bandingnya. Dan kita harus menghormati apapun keputusannya..

Ahok seperti secangkir kopi. Pahitnya apa yang ia alami sesungguhnya adalah kenikmatan sejati bagi mereka yang sudah berada pada taraf mengerti..

Seperti pahitnya peristiwa para Nabi. Seperti pahitnya hidup para Imam. Seperti pahitnya cerita-cerita orang besar dahulu yang namanya terus harum dan dikenang..

Hingga sekarang..

"Terkadang Allah mengambil segalanya dari seorang manusia hanya supaya ia dapat mengenal Tuhannya.." Imam Ali as.

www.dennysiregar.com

Senin, 22 Mei 2017

CARA AGAR HIDUPMU DAMAI DI NEGERI INI


Teruntuk adik-adikku di SMP dan SMA, jangan pernah bersuara. Jangan pernah percaya diri untuk tampil berbeda. Jangan bersikap kritis. Jangan berpendapat. Jangan suarakan keresahan kalian. Jangan berpikir macam-macam, apalagi sampai berani mempertanyakan sebuah keadaan yang telah lama tertata.
Kalian tahu, para orang dewasa itu kadang-kadang membingungkan. Mereka ingin negara mereka maju, tapi suara yang menyeru kemajuan ramai-ramai dibungkam hanya karena mereka tidak ingin ego mereka sebagai pihak-lebih-tua-yang-selalu-benar akan terusik.  Hanya karena mereka tidak mau posisi mereka sebagai orang yang lebih superior tercabik.
Mereka tidak mau dibangunkan dari tidur panjang, tak seorangpun ingin kehilangan kenyamanan.
.
Wahai adik-adikku yang akan memimpin para orang dewasa itu di negeri ini beberapa tahun lagi,
Sekolah ya sekolah saja. Datang, duduk, kerjakan tugas, ujian, pulang. Jangan berani mengkritik sistem pendidikan, guru, atau peristiwa di sekitarmu. Kau hanyalah bocah yang tak tahu apa-apa, lalu apa hakmu untuk bersuara?
Simpanlah rasa keprihatinanmu untuk diri sendiri, jangan sampai mereka melumatmu bertubi-tubi. Kalau bisa jadilah anak yang datar, yang biasa-biasa saja. Tak banyak menarik perhatian, kujamin kau aman. Jadilah seperti umumnya anak-anak lain yang memenuhi hapenya dengan foto selfie, menghabiskan waktu nongkrong di kafe, eksis di mana-mana. Jangan sampai kalah penampilan sama teman-temanmu itu. Bersenang-senanglah juga selagi muda, haha hihi chatting sama pacar,  lalu piknik kalau lagi jenuh. Hobi menulis atau membaca itu terlalu sederhana, tidak memberi kebanggaan kalau dipamerkan ke teman. Dan curang atau nyontek saja kalau kesulitan mengerjakan soal ujian, kemudian saat lulus corat-coret baju dan konvoi di jalan raya.
Pada akhirnya, saat kau punya rasa penasaran yang tidak terpuaskan, kau akan merasa wajar ketika mencari obatnya dari lingkungan yang menggiringmu pada seks, narkoba, dan kenakalan khas remaja. Bukankah juga banyak temanmu yang seperti itu?
Jadi adik-adikku,
Jangan mikir yang berat-berat, apalagi belajar untuk jadi bijaksana dan berpemikiran terbuka sejak usia muda. Karena alih-alih diapresiasi, kau mungkin akan dilumat bertubi-tubi.
Tidak usah.
.
Adik-adikku para harapan bangsa,
Belakangan ini seorang anak telah membuktikannya. Entah berapa ribu kali pesan penghakiman telah dilontarkan orang. Entah berapa ribu kali ia dikatakan tidak pernah ngaji atau tidak berpihak pada agama yang ia anut dengan keputusannya sediri.
Ia memaparkan pandangan universal yang dipahami oleh semua agama, sedangkan beberapa orang memberi tanggapan dan tandingan hanya dengan menggunakan perspektif yang berasal dari keyakinannya sendiri. Dimana nyambungnya?
.
Justru itulah yang coba anak itu sampaikan, mengapa beberapa orang memaksakan kebenaran agamanya dan menutup mata bahwa orang lain pun juga meyakini hal yang sama terhadap agamanya.
Apakah kau menyadari bahwa tiap pemeluk di tiap agama itu sama taatnya, sama tulusnya, dan sama yakinnya denganmu?
Apakah kau sadar bahwa masing-masing juga punya kitab yang menurut versi mereka adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan?
Apakah kau sadar bahwa mereka juga bisa membela imannya dengan kegigihan yang sama?
Apa yang coba ia sampaikan hanyalah untuk menjaga kerukunan, hanyalah untuk menghormati klaim kebenaran versi sendiri-sendiri. Tuhan menciptakan kita dengan pikiran yang berbeda, tidak diseragamkan sesuai kehendak orang yang (cuma) merasa jadi wakil-Nya.
.
Ia hanya menyampaikan bahwa bersikap takwa dan setia pada agama tidak harus dengan mendiskreditkan keyakinan yang berbeda.
Betapa susahnya memahami hal sesederhana itu saja, sampai-sampai bullyan tak hentinya datang.
.
Adik-adikku sayang,
Ingatlah yang kakak sampaikan.
Jangan terlalu tinggi harapan! Kau lihat sendiri, di negeri ini,
Korupsi, rusak moral, dan sepi nalar tidak apa-apa, asalkan kau tidak berkata terlampau jujur terhadap realita.
© Afi Nihaya Faradisa

#Gerakan7jutastatus

Sabtu, 20 Mei 2017

WARISAN


Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa
Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.
Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.
Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman".
Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

#Gerakan7JutaStatus

Sabtu, 15 April 2017

JANGAN TAKUT MELAWAN FPI NEGARA ADA DIBELAKANG ANDA

Anda pasti sudah dengar kisah 28 ormas di kota Semarang yang bersatu menolak pengukuhan pengurus FPI kota Semarang. Apakah mereka itu ormas ormasnya orang kafir atau cina atau komunis yang selama ini diposisikan sebagai musuh FPI? Tidak! Mereka adalah warga kota Semarang yang merasa kehidupan mereka sudah cukup aman dan nyaman, sehingga tak butuh kehadiran FPI yang citranya sebagai ormas radikal makin menguat.

Penolakan FPI bukan kali ini saja terjadi. Di Banyumas, Palangkaraya, dan banyak kota lain yang warganya masih setia pada kearifan lokal dan menjunjung tinggi toleransi serta kebhinekaan, mereka terang terangan menolak FPI, sebuah ormas berbaju agama tapi sarat kepentingan ekonomi dan mudah ditunggangi kepentingan politik.

Bagaimana reaksi kepolisian yang merupakan representasi dari negara? Sudah pasti negara berada di belakang rakyatnya yang ingin ketenangan dan ketertiban lingkungan.

Kasus penolakan FPI yang terjadi di kota Semarang ini ayo segera disebar luaskan, supaya masyarakat tahu dan tak perlu ragu lagi mengambil sikap melawan FPI yang sedang berusaha memperkuat jaringannya. Semua orang tahu FPI cuma kuat di DKI Jabar Banten saja, sedangkan di propinsi lainnya mereka kurang begitu kuat.

Belajar dari kasus penolakan FPI di Semarang ini, kita yakin masyarakat di kota lain yang belum terlanjur ada FPI bakal lebih yakin untuk menunjukan sikap tegasnya yang resisten kepada FPI. Mereka bisa menggalang koordinasi dengan ormas ormas lokal yang moderat dan pro kebhinekaan, untuk menghadang berdirinya FPI.

Tentu saja bukan dengan cara kekerasan, melainkan mengajak FPI berdialog dan menyampaikan sikap resistensinya secara formal. Seandainya pihak FPI mengaku bakal taat hukum, humanis dan anti kekerasan, dengan mudah bisa dimentahkan dengan puluhan bukti yang ada bagaimana track record dan kelakuan FPI lainnya selama ini.

Terima kasih kepada Kapolrestabes Semarang yang dengan tegas melarang FPI berdiri di Semarang. Sungguh ini merupakan bukti keberpihakan negara kepada warganya yang cinta damai dan anti kekerasan. Ini bakal jadi teladan bagi Kapolres lainnya di kota kota lain yang mungkin warganya resisten terhadap FPI. Tak perlu lagi ragu dan hadir sebagai representasi negara kepada rakyatnya.

Tak perlu lagi takut melawan FPI, karena negara berada dibelakang kita. Tulisan ini pasti akan disikapi oleh pendukung FPI seolah "tidak takut" ini dalam konteks mengajak adu kekerasan. Maaf, kami bukan seperti itu. Jika kami menolak ormas radikal juga dengan cara kekerasan, lalu apa bedanya kami dengan kalian?

Negara yang akan melindungi kami semua sebagai warganya. Tolong kalian instropeksi. Jika ada begitu banyak warga di republik ini yang tidak simpatik dan resisten dengan FPI, pasti ada yang tak beres pada kelakuan kalian.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1361337610620967&id=100002342243472

Jumat, 31 Maret 2017

Fidelis Ari, seseorang yang sesungguh-sungguhnya suami.

Pagi tadi, saya membaca kabar tentang Fidelis Ari, seseorang yang sesungguh-sungguhnya suami.

Ia rela menanam ganja, melanggar hukum di republik ini untuk menolong istrinya yang dilanda penyakit langka. Ejaannya pun susah kita lafalkan: Syringomyelia.

Wikipedia menjelaskan bahwa penyakit ini merujuk pada tumbuhnya kista dalam sumsum tulang belakang. Kista ini bisa bertambah luas dan memanjang.

Pada tingkatan tertinggi, dampaknya pada kelumpuhan dan nyeri yang hebat. Penderita pula akan kehilangan kemampuan merasai panas dan dingin. Peluang sembuhnya sangat tipis.

Sejak istrinya didera penyakit, Fidelis telah menempuh banyak cara, menghalau rasa sakit dengan beribu upaya.

Ia telah ke sejumlah rumah sakit di tempat ia tinggal, di Sanggau, Kalimantan Barat. Dia juga ke terapis, hingga ke pengobatan alternatif, tapi hasilnya nihil. Pun ada keinginan untuk membawa istrinya berobat ke Pulau Jawa, tapi tak diizinkan dokter karena jantung istrinya, Yeni Riawati yang lemah.

Hingga suatu waktu, ia mendapati artikel di Google, tentang ekstrak daun Cannabis Sativa alias ganja yang bisa meringankan sakit kekasihnya. Mengembalikan senyum yang menahun hilang di wajah Yeni.

Dan benar, setelah rutin memberi ekstrak itu ada dampaknya. "Dari susah tidur, jadi nyenyak tidurnya. Dari susah makan, jadi lahap makannya. Dari tidak bisa bicara, jadi bisa bicara. Jadi sudah ada tanda-tanda kesembuhan," ujar Yohana, kakak Fidelis.

Fidelis lalu berangan-angan akan membawa istrinya untuk operasi ke rumah sakit jika kendala fisik Yeni telah terobati oleh ekstrak ganja.

Namun nasib punya jalannya sendiri, ia ditangkap BNN dengan barang bukti 39 batang ganja yang ia tanam. Fidelis tak berkutik. Padahal dari hasil pemeriksaan, ia tak sekalipun ikut mengkonsumsinya apalagi menjualnya.

Begitulah hukum, betapa hitam putih. Sedangkan hidup, sedemikian peliknya.

32 Hari setelah Fidelis ditahan sepanjang itu pula istrinya tak mendapat pengobatan. Ajalnya tiba di kala suaminya masih di bui.

Di hari pemakaman, Fidelis diijinkan untuk menjenguk jasad istrinya. Di teras rumahnya, ia dekati putra bungsunya yang duduk sendiri. Ia nampak memegang kedua pundak anaknya.

Melihat fotonya, saya seolah membayangkan Fidelis mengutip kata-kata Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia. "Kita telah melawan nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Gunawan Mashar

Rabu, 29 Maret 2017

STOP ANTAR BARANG ANAK KE SEKOLAH

Sebuah sekolah dasar di Singapura melarang orangtua mengantarkan barang anak yang ketinggalan, ini dilakukan untuk mengajari anak bertanggung jawab sejak dini.

Setiap orangtua pasti akan memastikan anaknya melewati hari yang baik di sekolah, sehingga bila ada barang yang tertinggal pasti akan diantarkan ke sekolah. Tapi di sekolah Kuo Chuan Presbyterian Primary School (KCPPS), mereka melarang orangtua mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan di mobil atau di rumah.

Seperti diberitakan oleh TNP, KCPPS bahkan menaruh tanda larangan di depan pintu masuk sekolah sebagai peringatan bagi orangtua.

KCPPS percaya bahwa orangtua harus membiarkan anaknya belajar mandiri, dan bertanggungjawab pada semua tindakannya, termasuk melupakan barang yang diperlukan untuk ke sekolah.

Tanda larangan tersebut berbunyi:

    Bila Anda mengantarkan kotak makan yang tertinggal, buku, PR, sepatu, alat, dll. TOLONG BERBALIK DAN PERGILAH. Biarkan anak Anda tumbuh dewasa. Anakmu akan belajar untuk menyelesaikan masalah dan menerima tanggung jawab dari konsekuensi ketidakhadiran Anda. Terimakasih.

Setiap harinya, dari jam 8 hingga jam 9 pagi, akan ada setidaknya 3-4 orangtua atau asisten rumah tangga yang mengantarkan barang keperluan sekolah anak yang ketinggalan. Seperti botol minum, buku catatan, dan uang saku ke sekolah.

Mereka semua diarahkan ke kantor guru, dimana mereka akan disuruh pulang ke rumah. Demikian keterangan dari penjaga sekolah yang berlokasi di Bishan Street 13 Singapura ini.

Kepala Sekolah KCPPS Teo Ching Ling mengatakan, “Belajar sendiri untuk bertanggung jawab pada barang milik mereka adalah kemampuan yang penting dalam hidup. Kami membutuhkan para siswa kami mempelajarinya sebagai bagian dari nilai pendidikan dan sejajar dengan salah satu nilai dari sekolah kami, kedisiplinan diri.”

“Keterlibatan orangtua sangatlah kritis dalam usaha keras kami ini, pihak sekolah telah mencari kerjasama dari para orangtua untuk menahan diri agar tidak mengantarkan PR atau barang lain milik anak yang ketinggalan. Hal ini dilakukan pada anak mereka sebagai proses dari pembelajaran.” Kepala Sekolah Ching Ling menjelaskan.

“Tanda larangan ditaruh di sana sebagai pengingat visual bagi para orangtua untuk menjadi rekan sekolah dalam usaha ini,” tambahnya.

Para orangtua murid di KCPPS memberitahu TNP bahwa pihak sekolah selalu menekankan hal ini dalam pertemuan orangtua murid dan guru. Serta pada surel yang dikirim ke mereka, agar anak-anak dibiarkan mengambil tanggung jawab atas kesalahan mereka dan belajar menjadi orang yang bertanggung jawab.

Tapi kelihatannya pesan itu tidak sampai ke beberapa orangtua, sehingga pihak sekolah masih harus memasang tanda larangan di depan pintu masuk. Puluhan orangtua menyatakan bahwa mereka mendukung aksi sekolah untuk mengajari anak menjadi mandiri.
Kata psikolog tentang aturan ini

Seorang ahli psikologi klinis Carol Balhetchet mengatakan, “Sekolah dasar adalah langkah pertama anak memasuki lingkungan pendidikan, dan naluri orangtua secara alami ingin melindungi. Setelah setahun pertama, orangtua tidak perlu terlalu waspada karena anak perlu melindungi dirinya sendiri. Untuk bertanggung jawab dan mengandalkan dirinya sendiri.”

Seorang psikolog lain bernama Daniel juga juga mengamini. Ia mengatakan, apabila orangtua secara terus menerus menyelesaikan masalah yang dialami anak mereka, maka hal tersebut akan memengaruhi kemampuan anak untuk menjadi waspada agar tak menimbulkan masalah.

“Kemungkinannya, anak tidak akan memiliki kesadaran untuk memecahkan masalahnya sendiri, membuat rencana atau menyiapkan diri. Kurangnya kebebasan dan kemampuan yang dibutuhkan bisa menyebabkan keragu-raguan saat anak harus berurusan dengan masalahnya sendiri. Dan dia tidak bisa menumbuhkan cara berpikir dewasa.” Daniel Koh menambahkan.

Carol Balhetchet memberikan 5 tips untuk membuat anak menjadi pribadi yang independen.

Cinta yang tegas. Menjadi orangtua yang baik, mengerti kebutuhan anak, dan memastikan bahwa dia merasa aman dan nyaman di lingkungan sosialnya. Tapi tetap menegaskan bahwa anak butuh kebebasan untuk menjadi independen. Contohnya, biarkan ia membawa tasnya sendiri, dan menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri.
   
Selalu ada untuk anak Anda. Orangtua tidak perlu hadir setiap saat di sisi anak, tapi pastikan bahwa Anda memberikan dukungan moril dan emosional yang dibutuhkan anak. Jika dia merasa tidak aman, diskusikan masalah tersebut untuk menemukan solusinya.
   
Beri anak Anda perhatian penuh. Contohnya, luangkan waktu untuk mendengarkan cerita kesehariannya di sekolah setelah makan malam.
   
Bantu anak menjadi lebih independen. Karena suatu hari, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya sendiri. Jadi berikan bantuan tersebut selagi Anda masih ada di sisinya.

Mungkin di Indonesia belum ada sekolah yang menerapkan kebijakan seperti KCPPS, namun tidak ada salahnya Anda mencontoh metode yang diterapkan sekolah tersebut.

Mulai sekarang, jangan lagi mengantarkan buku PR atau kotak makan anak yang ketinggalan saat ia pergi sekolah. Tak mengapa bila anak marah-marah, dengan begitu dia tidak akan lagi melupakan hal penting yang harus ia bawa ke sekolah.

Sumber: https://id.theasianparent.com/stop-mengantarkan-barang-anak-yang-ketinggalan/

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208838166497832&id=1424034458

Rabu, 15 Maret 2017

SURIAH KECIL ITU BERNAMA INDONESIA

Perhatikan..

"Akan datang suatu masa yang menimpa manusia; tidak ada Islam kecuali tinggal namanya saja, tidak ada Al Qur’an kecuali tinggal tulisannya saja. Masjid-masjid mewah tetapi kosong dari petunjuk, serta ulama-ulamanya adalah orang yang paling jahat yang berada di bawah langit …” (HR. Al Baihaqi)

Melihat Indonesia sekarang, saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi pada Suriah ketika awal-awal perang.

Suriah - negeri plural tempat tinggal berbagai macam agama dan kepercayaan hidup berdampingan dengan damai - akhirnya runtuh karena masyarakatnya terpengaruh isu sektarian.

Suriah yang persenjataan dan keamanannya begitu kuat - karena itu warga Palestina sering minta perlindungan kepada mereka - dihancurkan dari dalam. Warga Suriah ternyata rentan dengan isu provokasi yang mengangkat agama sebagai senjata penghancur massal.

Situasi awal hancurnya Suriah, persis seperti yang digambarkan hadis akhir zaman diatas. Masjid-masjid di Suriah tumbuh dengan pesat. Provokasi melalui masjid, menjadikan masjid bukan lagi menjadi tempat yang meneduhkan, melainkan sumber angkara murka.

Islam yang pada awalnya diturunkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam, dibelokkan menjadi agama yang menakutkan. Itulah yang dimaksudkan "Islam hanya tinggal namanya saja".

Teriakan Allah Maha Besar dimana-mana, tetapi bukan dalam rangka takjub akan kebesaran Tuhan. Nama Tuhan menjadi identik dengan bahasa perang. Yang terjadi akhirnya pelecehan terhadap kata "AllahuAkbar" menjadi Ahmad Albar dan segala macam. Islam tinggal nama, tetapi kosong dengan keilmuan.

Para pembaca Alquran banyak. Mereka dilahirkan dan dididik sebagai penghafal. Bacaan mereka bagus dengan suara merdu mendayu.Tapi sedikitpun mereka tidak paham makna dan tujuan dari ayat-ayatnya. Akhirnya tafsir kalimat dalam Alquran dipelintir habis demi kepentingan satu golongan. Dibelokkan sesuai keinginan pemesan.

Itulah yang dimaksud "Alquran tinggal tulisannya saja". Kering akan pesan yang bermanfaat.

Masjid kosong akan petunjuk, karena di dalamnya sudah sulit menemukan penunjuk arah yang benar. Masjid-masjid dipenuhi nafsu yang jauh dari petunjuk Alquran, malah berfungsi sebagai basecamp perang yang hanya melindungi golongan mereka saja.

Dan dari "Islam yang tinggal namanya saja", juga "Alquran yang tinggal tulisannya saja", lalu "Masjid yang kosong dari petunjuk", maka lahirlah "ulama-ulama jahat" bahkan paling jahat di kaki langit.

Kenapa disebut paling jahat ? Karena dari merekalah lahir pemikiran-pemikiran radikal yang diamini oleh banyak pengikutnya.

Ulama-ulama yang berpihak pada penguasa. Yang dimaksud penguasa disini bukan hanya pemerintahan, karena pada masa Islam ada pemerintahan yang benar. Tetapi penguasa yang punya tujuan sangat jahat, untuk memporak-porandakan satu wilayah demi nafsu berkuasanya.

Dan seharusnya mata kita terbuka akibat dari kejadian itu semua melalui contoh di Suriah. Tuhan masih sayang pada negeri kita, karena peristiwa Suriah-lah yang menjadi guru kita, bukan kita yang menjadi contoh dari banyak negara.

Saya selalu memohon perlindungan kepada Tuhan supaya Indonesia dijauhkan dari semua hal tentang kekejian yang terjadi di Suriah.

Tapi yang saya takutkan, demi bisa memisahkan mana benar dan mana salah, Tuhan bisa saja memberi kita pelajaran dalam bentuk kejadian yang sama supaya kita paham. Hanya supaya kita paham saja..

Setiap kali ditanya, "apa ada kemungkinan kita bentrok fisik seperti apa yang terjadi di Suriah..", selalu kopi saya mendadak begitu pahit untuk di seruput.

Kemungkinan itu ada... dan sangat besar.

www.dennysiregar.com

Minggu, 05 Maret 2017

PAHIT & MANIS KEHIDUPAN (Tausiyah Sore)


*Petuah Sinto Gendeng kepada Wiro sableng*

Suatu sore hujan turun di padepokan sinto gendeng. Sang Guru meminta si Murid, Wiro sableng untuk membuat minuman kopi.

*Guru :* Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

*Murid :* Ya Guru.

Tidak berapa lama, si murid sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya  beserta sendok kecil.

*Guru :* Cobalah kamu rasakan kopimu , bagaimana rasa kopimu?

*Murid :* Guru, rasanya sangat pahit sekali.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahitnya sudah mulai berkurang guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahitnya sudah berkurang banyak guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* sangat manis sekali guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Terlalu manis, malah tidak enak guru.

*Guru :* Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

*Murid :* Aduh guru, rasa wedang kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa guru.

*Guru :* Ketahuilah muridku, jika rasa pahit kopi ibarat kefakiran hidup kita dan rasa manis gula ibarat harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa muridku.

Sejenak sang murid termenung, lalu menjawab.

*Murid :* Ya Guru, sekarang saya tahu, kenikmatan hidup dapat aku rasakan jika aku dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terimakasih  atas pelajaran ini guru.

*Guru :* Ayo muridku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Si murid lalu mengerjakan perintah gurunya.

*Guru :* Bagaimana rasanya muridku?

*Murid :* rasanya nikmat guru...

*Guru :* Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya denga yang fakir.

*Murid :* Terima kasih atas petuah guru.

*Selamat menikmati indahnya hari ini,....*

HAKIM CIUM TANGAN TERDAKWA

(Sebuah Pelajaran Berharga untuk orang tua / walil murid)

Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Beliau membebaskan terdakwa kemudian meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.

Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah balasan yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.”

Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.

Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tsb mengerti benar, pukulan dr guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai. *Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin.* Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.

*Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah "memukul" kita. Saat kita mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orangtua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani. Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua.*

Lalu saat kita menjadi orangtua di zaman sekarang… tak sedikit berita orangtua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Hingga menjadi sebuah fenomena, seperti dirilis di Kabar Sumatera, guru-guru terkesan membiarkan siswanya. Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai. Bukan mendidik...... Fungsi pendidikan sudah hilang krn tdk adanya kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat.

Jangan salahkan guru jika murid sekarang kurang mengerti ahlak dan hasil pendidikanya tidak seperti yg diharapkan orang tua.
Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya.
*Sudah beberapa guru di Sumatera Selatan dilaporkan wali murid hingga harus berurusan dengan polisi*.
*Di bantaeng guru disel....di jawa tengah guru sd mencubit siswanya dipidanakan...semuanya atas nama HAM...undang2 perlindungan Anak....tapi ketika moralitas hancur akhlak generasi bobrok pernahkan HAM dan dedengkotnya membuat aksi nyata menuntut perbaikan moral & akhlak anak bangsa ???.*
Semoga tulisan ini, bagi kita para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru. Kita bersinergi untuk menyiapkan sebuah generasi masa depan. Bukan hubungan atas dasar transaksi yang rentan lapor-melaporkan.

Sabtu, 25 Februari 2017

WAHABI, VIRUS DALAM ISLAM

- cerita seram malam minggu -

Kalau kalian melihat model Islam dengan cara-cara yang tidak Islami seperti tidak mensholatkan jenazah pendukung Ahok, itulah yang dinamakan virus Wahabi.

Wahabi atau Wahabisme adalah aliran dalam Islam yang puritan. Diambil dari nama tokohnya Muhammad bin abdul Wahab. Paham Wahabi adalah paham yang dianut kerajaan Saudi Arabia dan disebarkan ke seluruh dunia.

Jadi jangan kaget jika mereka yang terkena virus itu menjadi sumbu pendek dan gagal paham akut. Mereka menjadi zombie yang tidak mampu menggunakan logika berfikir dengan benar dan pada tingkat yang lebih parah menjadi tidak manusiawi.

Triliunan rupiah dana disebarkan ke seluruh dunia untuk menyebarkan paham ini. Tujuannya membentuk kelompok beragama yang bodoh sehingga mudah dicucuk hidungnya. Dengan begitu mereka akan mudah disetir untuk merusak negara dari dalam.

Tafsir ayat dan hadis diselewengkan, buku-buku dipalsukan. Mereka adalah senjata penghancur massal yang dibiayai oleh Amerika, Israel dan koalisinya dari negara Timur Tengah.

Tidak perlu senjata nuklir untuk menguasai Libya, Suriah, Irak, Afghanistan dan Nigeria. Cukup bentuk organisasi bernama Alqaeda, ISIS, Front al Nusra, Boko Haram dan mereka akan merusak tatanan negara yang ingin dikuasai. Di dalam negeri mereka punya nama lain yaitu HTI, FPI, FUI, MMI dan lain sebagainya.

Ketika satu negara dikuasai, maka sumber daya alam negara itu akan dikeruk habis dan dijual melalui makelar2 internasional.

Ada dua keuntungan memelihara Wahabi ini sebagai mesin perang yang murah meriah. Satu, penjualan senjata akan meningkat. Dan dua, harta jarahan yang bisa dijual berlipat.

Indonesia mungkin belum separah negara2 di Timur Tengah dan Afrika yang luluh lantak, tapi tanda-tanda menuju kesana sudah terlihat jelas. Salah satunya dengan kebodohan berdasarkan fanatisme dengan tidak menshalatkan jenazah yang terindikasi pendukung Ahok.

Tanda2 lain adalah pemujaan yang tinggi kepada ulama mereka, kebanggaan terhadap golongan, mudah tersinggung, mimpi indah tentang surga dan banyak lagi yang menandakan akal mereka yang lemah. Pengetahuan agama mereka instan dan didapat dari guru mereka yang juga instan.

Ada satu hal yang tampak jelas menandakan kelemahan logika berfikir mereka. Mereka selalu menggaungkan konsep khilafah, tapi memuja negara pendana mereka yang monarkhi. Cacat logika, kan ?

Panjang kalipun kalau bahas ini. Kalau mau pengen lengkap googling aja "sekte berdarah wahabi" dan pelajari bagaimana mereka menguasai banyak negara di dunia.

Saya tinggal minum kopi dulu ya, sambil nunggu yang marah2..

www.dennysiregar.com

ANCAMAN SPESIES DENGKUL, MENOLAK SHOLAT JENAZAH

Di Jakarta beredar spanduk yang ditempel di mesjid atau juga berupa selebaran yang isinya bernada ancaman. Jika ada pendukung Ahok yang meninggal, maka mereka tidak akan disholatkan.

Yang lebih seru ada ancaman begini : jika Ahok menang di wilayah ini, maka habaib dan ulama akan menolak undangan ceramah agama di kampung ini.

Perut saya mendadak mules ketika membacanya. Sebelum saya teruskan menulis, saya harus ke toilet dulu. Entah kenapa, setiap menyaksikan pameran ketololan perut saya yang selalu paling sensitif bereaksi.

Setelah menunaikan urusan perut, baru saya teruskan menulis.

Begini. Apakah Allah pernah mewajibkan sebuah ibadah kepada orang yang sudah meninggal? Saya rasa tidak. Kewajiban agama hanya diperuntukan kepada mereka yang masih hidup. Artinya setelah manusia meninggal, maka segala kewajibannya otomatis gugur.

Jadi kalau Allah memerintahkan manusia untuk melakukan sholat jenazah, sebetulnya itu kewajiban kepada mereka yang masih hidup. Jika saya meninggal, mau disholatkan kek, mau enggak kek, tidak ada lagi pengaruhnya buat saya. Yang terkena hukum wajib sholat jenazah itu adalah mereka yang saat itu masih hidup.

Jadi kalau ada ustad atau ulama yang mengancam jika keinginanya tidak dipenuhi dia menolak sholat jenazah, itu ancaman paling gokil dari seorang tokoh agama. Wong, itu kewajiban orang yang masih hidup kok, kenapa jadi mengancam jenazah? Jadi mau melaksanakan kewajiban kek, mau kagak kek. Itu kan urusan ente sama Tuhan.

Itu sama saja dengan ancaman, kalau ente milih Ahok, gue bakal nenggak Chivas nih? Haram, haram, deh...

Tapi terbersit pertanyaan. Kok bisa gara-gara Pilkada orang jadi begitu gampang menggadaikan agamanya? Sampai kewajibannya mau digugurkan sendiri hanya untuk menghalangi orang memilih Ahok.

Lagi pula, bagi seorang muslim, seahoker-ahokernya, gak mungkin juga dia dikafankan dengan bahan kota-kotak. Jadi, siapa yang tahu waktu Pilkada dia milih Ahok?

Soal ancam-mengancam begini, saya jadi ingat ketika diundang acara tahlilan. Seperti biasa, jamaah duduk meriung membacakan doa. Sehabis baca doa, kami dipersilakan makan berbagai hidangan oleh tuan rumah.

Rupanya ada seorang jamaah sedang menderita diare. Tapi karena duduknya di pokokan dan posisinya terhalang ustad, dia jadi susah keluar. Sepanjang acara dia hanya menahan perutnya yang sakit. Sayangnya, jemaah ini gak mau rugi. Sudah tahu perutnya gak beres, tapi semua hidangan yang tersedia tidak mau dilewatkan.

Selesai acara, kami semua pulang. Hanya dia yang tetap duduk di atas tikar. Tuan rumah menegurnya. "Gak pulang, pak..."

"Gak. Masih betah. Ngomong-ngomong tiker ini bagus. Ente mau jual, gak?"

"Wah, bapak ini becanda. Masa saya menjual tiker bekas, sih..."

"Atau ane pinjem sebentar, ye. Ane suka sama motifnya..."

"Janganlah pak. Itu tiker orang. Saya juga boleh minjem."

"Kalau gak dikasih pinjem, ntar ane bikin kotor nih, tiker," dia mulai mengancam.

"Hahahaha... bapak ada-ada aja. Ya, gak apa-apa kotor. Nanti kita bersihin, pak."

Lalu si jemaah bangkit. Ancamannya terbukti. Dia benar-benar meninggalkan kotoroan ampas diare di atas tiker, "Tuh, kan. Ente sih, gak mau jual tikernye. Ane bikin kotor, deh tuh...."

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212106324276841&id=1337245036

HENTIKAN AKSI BELA AGAMA, SAATNYA BELA NEGARA

Kanvas politik Jokowi, sejak awal dilukis dengan hati-hati. Tapi kali ini berbeda! Ada aroma pengembangan sumber kekuatan Indonesia yang berusaha dipulihkan oleh Jokowi yang secara konsisten ditentang oleh US.

Sekedar mengingatkan, persis 14 Mei tahun 2013 --- 28 orang pekerja tewas tanpa pengawasan di Lubang Tambang Big Gossan, Papua (milik PT Freeport)

Pertanda, bahwa Freeport bukan hanya urusan ekonomi dan pengikisan SDA, melainkan gelanggang paranoid yang menyimpan banyak kepentingan. Sehingga hak asasi manusia pun jadi bancakan. Ini tidak ditangani SBY.

Nasib Jokowi hampir mirip Ahok, terkait segala macam tuduhan yang diarahkan ke mereka, padahal itu semua warisan kebejatan despotik di era pemimpin sebelumnya. Ahok diserang dengan isu stigmatik tentang kekejaman "reklamasi" padahal Perpres no 51 tahun 2014 yang menjadi dasar legal reklamasi dikeluarkan SBY beberapa bulan sebelum ia selesai masa jabatan.

Jokowi juga menerima hujatan karena tak mengembalikan freeport pada pangkuan ibu pertiwi, sementara kerumitan itu muncul karena Perpres no 77 tahun 2014 yang dikeluarkan oleh SBY seminggu menjelang penyerahan tambuk kepemimpinannya kepada Jokowi.

Saat ini Jokowi terpaksa main otot. Divisi otot yang dikerahkannya orang keras kepala, Mentri Jonan. Siapa dia? Dia orang yang pertama kali menyeret liku-liku rumit pada kasus freeport agar kembali pada asas konstitusi (bukan teks kitab suci). Hal ini dilakukan melalui jalur arbitrase (alternatif penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum).

Sedari awal hal ini jadi pertanyaan, apakah para pendemo sudah puas dengan sikap Jokowi? Atau segala tuduhan mereka ke Jokowi masih akan berlanjut sampai maut memisahkan kita? Atau mereka malah menjadi-jadi karena kebijakan Jokowi justru membuka semua kebobrokan junjungan mereka?

Seharusnya yang memahami konteks bersitegang antara Jokowi dengan Amerika segera menghentikan semua aksi bela agama dan mengambil posisi lebih serius di belakang Jokowi untuk membela negara. Karena pada akhirnya pun agama yang mereka agung-agungkan juga akan mereka jalani di atas tanah yang agung.

Bukan malah mensejajarkan kepentingan agama dengan kepentingan politik setan besar (US). Kecuali memang agama itu (yang sedang dibela) hanya aparatus politik Amerika yang dibungkus dengan panduan yang serupa dengan kitab suci mereka.

Saya jadi ingat jaman kepemimpinan SBY, di mana Barack Obama selalu tampak bahagia bila berurusan dengan Indonesia. Sekarang SBY aktif menggaungkan kata "Islam" sebagai harga yang harus segera kita tebus. Beruntungnya dia, seruannya pun direspon serius oleh berbagai ormas Islam dan elit politik oportunis.

- SALAM TOLERANSI -

- https://twitter.com/perangdingin

*Ilustrasi yang menggambarkan kebahagiaan Presiden Barack Obama di era SBY. Ilustrasi itu juga mengingatkan kita pada kelakukan Setya Novanto dan Mantan Mentri, Sudirman Said

Rabu, 01 Februari 2017

SEPULUH SIKAP HIDUP BAHAGIA Oleh : Mahatma Gandhi

1. Lepaskanlah rasa kuatir dan ketakutan
Ketakutan dan kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Kebanyakan hal-hal yang kamu kuatirkan dan takutkan tak pernah terjadi!  It's all only in your mind.

2. Buanglah dendam
Dendam dan amarah yang disimpan hanya akan menyedot energi diri kamu dan hanya mendatangkan KELELAHAN JIWA. BUANGLAH!!

3. Berhentilah mengeluh
Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yang ada saat ini. Secara tak sadar kamu membawa-bawa beban negatif.

4. Bila ada masalah, selesaikan satu per satu
Hanya inilah cara menangani setiap : Satu demi satu.

5. Tidurlah dengan nyenyak
Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk dan tidak sehat. Biasakanlah tidur dengan nyaman.

6. Jauhi urusan orang lain
Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setiap masalahnya.

7. Hiduplah pada saat ini, bukan masa lalu
Nikmati masa lalu sebagai kenangan, jangan tergantung pada nya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yang kamu miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok.
BE TOTALLY PRESENT...

8. Jadilah pendengar yang baik
Saat menjadi pendengar, kamu belajar dan mendapatkan ide-ide baru yang berbeda dari orang lain.

9. Berpikirlah positif
Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif.
Bertemanlah dengan orang-orang yang berpikiran positif dan terlibatlah dengan kegiatan-kegiatan positif.

10. Bersyukurlah atas hal-hal kecil yang akan membawa kamu pada hal-hal besar
Sekecil apapun karunia yang kamu terima,
akan menghasilkan hal-hal besar dan selalu membawa Kebahagian saat kita pandai Bersyukur.

Rabu, 25 Januari 2017

PURWAKARTA, DESA GALIA DI JAWA BARAT..

Ketika saya bicara tentang sosok Dedi Mulyadi, banyak yang mengira saya sedang kampanye..

Tuduhan yang wajar karena Jawa barat sebentar lagi akan menghadapi momen pilkada.

Tapi, ya dari dulu saya emang selalu jadi tertuduh. Dukung Ahok, dituduh buzzer. Dukung Jokowi, dituduh penjilat. Seolah saya gak boleh dukung siapapun, tapi mereka boleh..

Boleh dong saya kagum ma Kang Dedi. Bayangkan, daerah pimpinannya Purwakarta, ada di provinsi Jawa Barat - yang menurut banyak survey adalah provinsi paling tinggi kejadian intoleransi di Indonesia.

Purwakarta itu anomali di Jawa barat, kata saya kepada seorang teman. Ia seperti daerah yang kesepian, karena berbeda dengan kota dan kabupaten di sana. Mirip desa Galia di komik Asterix & Obelix.

Di Purwakarta kebhinekaan diperjuangkan, diajarkan dan dikembalikan fungsinya. Tidak seperti banyak pemimpin lainnya, Kang Dedi benar2 melawan sikap intoleransi dengan membenahi pondasinya.

Kalau pemimpin lain, ketika ada kejadian intoleran baru muncul bak pahlawan kesiangan sekedar mencari nama. Kang Dedi tidak. Ia benar2 masuk pada akar masalah dan membenahinya. "Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau mengobati berarti pernah terluka.."

Seperti salah satu program yang saya baca di page resminya..

Ia meluncurkan kendaraan untuk menjemput anak sekolah, supaya mereka yang tinggal di sudut kampung tidak perlu berjalan kaki jauh ke sekolahnya.

Kalau hanya program mobil jemputan sekolah, itu biasa. Banyak pemimpin daerah yang sudah melakukannya..

Tapi ide Kang Dedi ini unik. Ia bekerjasama dengan Kodim - dengan tentara - yang menjadi supir angkutan sekolah gratis itu. Dan apa yang dilakukan anggota Kodim ? Mereka sambil menyupir mengajarkan Pancasila, cinta dan bela negara, toleransi, kecintaan pada sesama dan banyak hal yang sudah mulai hilang di Jawa barat.

Ia menerapkan konsep "bela negara" langsung pada pusat masalahnya, pada anak2 yang sedang berkembang akalnya, generasi masa depan kita.

Doktrin tentang kecintaan pada negara ini sangat penting - terutama pada generasi muda - karena di banyak tempat di Jawa barat, mereka juga sedang di doktrin dengan kebencian terhadap sesama dan negara dengan memakai baju agama.

Ini ide yang patut dicontoh di banyak daerah. Purwakarta bisa dijadikan pusat percontohan bagaimana melawan intoleranisme yang mewabah di negara kita...

Perlawanan Kang Dedi tentu bukan tanpa resiko. Ia sering di fitnah musrik, syirik, kirik dan banyak rik lainnya. Siapa yang menuding begitu ? Ya, siapa lagi kalo bukan FPI Purwakarta yang kemaren bikin bàliho besar yang viral, "Sehelai rambut Habib Rizieq jatuh.."

Dengan program2nya yang orisinil seperti ini, wajar dong saya mendukung dia. Karena pemimpin itu bukan dilihat dari seberapa ganteng dan gagahnya dia, tetapi dari apa yang dia kerjakan..

Dedi Mulyadi seperti memberontak terhadap kesalahan yang selama ini sering dibiarkan. Dan sebagai pemberontak, saya mendukung pemberontak juga...

Mendukung Dedi buat saya adalah perlawanan terhadap sistem salah yang selama puluhan tahun dipelihara, bahwa agama dijadikan alat politik untuk kepentingan golongan..

Seperti ruginya warga Jakarta kalau Ahok tidak terpilih, warga Jawa Barat akan sangat rugi jika Dedi Mulyadi hanya ada di Purwakarta. Ia adalah "antivirus" yang harus dikembangkan sebanyak2nya secara nasional, jika ingin kebhinekaan kita tetap terjaga..

Mungkin Kang Dedi seperti Asterix, yang kalau melawan kaum bumi datarix, harus meminum ramuan ajaib dukun Panoramix..

Saya angkat secangkir ramuan ajaib untuk Kang Dedi Mulyadix dan warga Purwakartarix..

Seruputt.. Demi Toutatis !!

www.dennysiregar.com

MENOLAK GELAR HABIB


Quraish Shihab, akademisi, mufasir, dan menteri agama era Soeharto itu sesungguhnya mempunyai semua persyaratan untuk menjadi seorang habib.
Quraish merupakan cucu dari Habib Ali bin Abdurrahman, habib asli asal Hadhramaut, Yaman.

Tak hanya dari segi silsilah, Quraish juga teruji secara keilmuan. Ia dihormati berbagai kalangan karena kemampuan akademik dan agama yang jempolan.
Namun, Quraish Shihab menolak menggunakan gelar habib. Kenapa?

Dalam buku biografinya, Cahaya, Cinta, dan Canda, Quraish mengatakan bahwa ia keberatan menyandang gelar tersebut karena pengertian dan kesan tentang habib di Indonesia telah berkembang jauh.

Quraish sadar ada pergeseran persepsi terkait habib di Indonesia. Di Indonesia, habib berkembang menjadi sebuah kesan. Yakni, kesan menjadi orang yang berilmu wahid dan dekat dengan Rasul.

Quraish juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan asosiasi Rasul dengan dirinya. Singkatnya, gelar habib di Indonesia menurut Quraish terkesan “mengandung unsur pujian.” Maka, ia berkukuh menolak memakai gelar habib, meski berhak.

Quraish berpandangan, mereka yang pantas memanggul gelar habib, selain karena faktor keilmuan dan silsilah, harus pula dilihat akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil Habib,” ujar Quraish halus.

http://redaksiindonesia.com/read/quraish-shihab-sekeluarga-memilih-melepas-gelar-habib.html

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208301542282562&id=1424034458

Selasa, 10 Januari 2017

Mobilisasi Kebencian Salman Taseer

Mobilisasi Kebencian: Salman Taseer adalah bekas gubenur propinsi Punjab di Pakistan. Dia diangkat menjadi gubernur tahun 2008. Dia dibunuh tahun 2011. Penyebabnya adalah karena dia menentang hukum penistaan agama yang amat keras di Pakistan. Penentangan itu dia ucapkan dalam satu talk-show di TV lokal.

Kasus penistaan agama ini bermula dari hal yang sangat sehari-hari. Adalah sekelompok perempuan desa sedang memanen bersama. Salah satu dari perempuan itu adalah Aasiya Noreen atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Asia Bibi. Kebetulan pula, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan suaminya buruh pembuat batu bata ini, beragama Kristen (Katolik). Sebagaimana umumnya kaum Kristen di Pakistan dan Asia Selatan, mereka berasal dari kelas dan kasta terendah.

Kejadiannya berawal dari sesuatu yang sangat sepele. Bibi minum dari gelas yang sama dengan perempuan-perempuan lain yang Muslim. Terjadilah percekcokan karena mereka yang Muslim menganggap Bibi yang bukan Muslim itu kotor, sehingga tidak boleh minum dari gelas yang sama dengan mereka. Hingga disinilah muncul percekcokan, dan itu berubah menjadi soal agama. Dalam adu mulut Bibi dituduh mengatakan sesuatu yang menghina Nabi. Otomatis, ini adalah soal penghinaan dan penistaan  agama. Di Pakistan, hal yang demikian ini juga berarti surat kematian yang sudah ditandatangani.

Kasus ini memancing kemarahan yang meluas di masyarakat Pakistan. Provokasi terjadi dimana-mana. Mereka yang merasa saleh merasa terhina kesalehannya. Mereka yang taat pada Tuhan, yang sesungguhnya menganjurkan untuk tidak boleh membunuh, justru merasa perlu untuk membunuh. Demi membela Tuhan!

Bibi pun diadili. Seperti kehendak masyarakat luas, pengadilan pun menghukum mati dirinya karena melakukan penistaan terhadap agama.

Kekerasan pun meledak dimana-mana. Seorang menteri untuk urusan minoritas yang kebetulah beragama Kristen, Shahbaz Bhatti, dibunuh. Demikian juga Salman Taseer. Gubernur Punjab ini mengajukan petisi agar Asia Bibi dibebaskan.

Taseer dibunuh ketika dalam perjalanan keluar makan siang bersama temannya. Pembunuhnya adalah pengawalnya sendiri, Malik Mumtaz Qadri, yang menghujani dia dengan 27 kali tembakan memakai AK-47.

Proses pengadilan Malik Mumtaz Qadri pun berbelit. Dia lama tidak ditahan. Namun akhirnya pengadian memutuskan dia dihukum mati. Pada tanggal 29 Pebruari kemarin, Malik Mumtaz Qadri akhirnya menjalani hukuman mati.

Reaksi publik Pakistan sangat mengejutkan. Ratusan ribu orang turun ke jalan untuk mengiringi pemakaman Malik Mumtaz Qadri.

Aatish Taseer, putra salman Taseer, kemudian menulis sebuah esei di New York Times tentang pemakaman pembunuh ayahnya itu. Ini adalah salah satu prosesi kematian paling besar di Pakistan setelah Benazir Bhutto dan si Bapak Pakistan, Muhammad Ali Jinah.

Sekaligus ini mungkin adalah prosesi kematian terbesar untuk seorang pembunuh. Orang-orang ini, demikian keluh Aatish Taseer, "terdorong bukan oleh cinta mereka kepada yang mati namun kebencian mereka kepada yang dibunuh."

Disini kita melihat sebuah kasus dimana negara berusaha tegak dengan akal sehatnya, yakni menghukum mati dia yang membunuh. Namun, sebagina masyarakat Pakistan memiliki kehendak lain. Untuk mereka, hukum haruslah mendukung kebencian mereka. Inilah yang mereka pertunjukkan dengan mobilisasi kebencian besar-besaran.

Haruskah kita bersyukur bahwa hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia? Hei, siapa bilang tidak terjadi? Seperti di Pakistan, di sini pun kita melihat para politisi -- termasuk politisi yang berjubah agamawan -- sibuk memobilisasi kebencian. Kita terluka ketika kita diberitahu oleh para politisi itu bahwa agama kita dinistakan. Kita marah dan menumpahkan amarah itu menjadi kebencian yang teramat sangat.

Namun kita lupa bahwa ada yang berpesta pora dengan kemarahan dan kebencian kita itu!

http://www.nytimes.com/2016/03/13/opinion/sunday/my-fathers-killers-funeral.html?action=click&pgtype=Homepage&clickSource=story-heading&module=opinion-c-col-right-region&region=opinion-c-col-right-region&WT.nav=opinion-c-col-right-region

Tulisan ini telah diposting sebelumnya pada 12 Maret 2016. Dimuat kembali dengan editing seperlunya untuk menyesuaikan dengan konteks kekinian.

Photo: Reuters