Sabtu, 16 September 2017

Mengenal Presiden Joko Widodo

Siapa yang bisa menebak arah nasib? Di tahun 2001, Jokowi hanyalah pengusaha muda yang biasa biasa saja. Nasib telah menempa dia menjadi petarung kehidupan. Jauh sebelum jadi pengusaha mebel, Jokowi bekerja sebagai tukang kayu, pasang lis jendela, atau mengerjakan daun pintu. Duitnya digunakan buat bayar sekolah, beli buku, waktu sekolah di SMAN 6 Solo kesenengannya makan bakso depan gang cengklik itu juga kalok dia punya duit.

Dia kerja di Aceh tahun 1985. Sepulang dari Aceh, Jokowi pernah coba ngadu nasib ke Jakarta, tapi dia melihat kota Jakarta nggak jodoh sama rejekinya, "mungkin belum waktunya". Dia balik lagi ke Solo, naek bus malam yang biasa mangkal di Mampang. Sampai di Solo, dia menyusuri bantaran kali dan di sana ia kepikiran untuk usaha jadi tukang kayu saja, ini ia pernah ceritakan asal mula dia jadi pengusaha kayu.

Jokowi punya nasib baik, saat itu di Solo sedang booming pabrik mebel, permintaan mebel luar biasa besarnya, ia ketiban rejeki dadakan. Jadi pengusaha mebel senengnya Jokowi pameran, ya ke Amerika Serikat, ya ke Eropa.

Pencerahan Jokowi justru terjadi di Eropa, ia melihat sebuah kota berkembang dengan tatanan yang apik dan atur, ia melihat pertumbuhan kota yang baik ada dua hal : "Taman dan Tempat Diskusi Publik", nah budaya diskusi publik adalah tempat makan, mangkanya dia bikin Galabo (Gladag Langen Bogan) tempat kongkow orang Solo sekaligus ruang publik, tanpa sengaja Jokowi melihat teori ruang publik Habermas bekerja. Ketika dia jadi Walikota Solo, dua hal itu ia utamakan dalam politik anggaran.

Kembali, ke soal nasib Jokowi. Dia ke Amerika sebagai bakul kayu di tahun 2001, 14 tahun kemudian dia berfoto dengan Presiden Amerika Serikat sebagai "Presiden Republik Indonesia".

Ini adalah 'jalan Tuhan'. Kenapa kok Jokowi bisa semulia itu hidupnya. Coba anda perhatikan, Jokowi tidak pernah menghina orang, mencaci maki lawan politiknya. Ia menjalankan hidup dengan iklhas, itu kuncinya. Seperti misalnya Amien Rais rajin sekali serang Jokowi, pernah saya tanya ke dia "Mas, itu kok Pak Amien rajin serang ya". Jokowi jawab "Oh, itu karakter". Setelah politik PAN merapat ke PDIP, selesai pula serangan Amien, jawaban singkat Jokowi soal karakter, adalah jawaban orang yang tak pernah terbeban dalam menghadapi serangan, naluri inilah yang ternyata memenangkan Jokowi dalam bertarung dengan kehidupan.

Jadi benar pepatah lama, "Orang yang berhasil bukanlah orang yang cerdas, orang yang jenius, tapi orang berhasil lebih ditentukan karakter, lebih ditentukan sikapnya dalam melihat kehidupan".

Contohnya ya Jokowi, dari tukang mebel dan pemain politik lokal sebentar lagi diperhitungkan jadi tokoh paling berpengaruh di Asia Tenggara. Karena sikapnya yang santai dihina orang, malah yang menghina kabarnya banyak yang tidak baik hidupnya, rejekinya nggak lancar, ya gimana mau lancar pikirannya ditanam hal hal yang tidak baik. Tiap hari kerjanya bagaimana hina Jokowi, apa nggak capek ya?

-Anton DH Nugrahanto-

Minggu, 03 September 2017

ROHINGYA BUKAN KONFLIK AGAMA


baca nih supaya gak bego.. tragedi Rohingya BUKAN konflik agama.. kalau itu konflik agama apa susahnya buat Allah SWT bikin supaya biksu2 itu disamber geledek? 😁

karena yg terjadi disana ada kepentingan ekonomi tidak beda dengan di Timur Tengah yakni urusan Sumber Daya Alam

Daerah Rakhine kaya minyak dan gas, dan pemerintah Myanmar sudah kasih konsesi kepada konglomerasi minyak dunia

MILITER Myanmar terlibat berkedok Biksu2 untuk mengaburkan motif sebenarnya, tidak beda dengan invasi AS ke irak berdalih "perang lawan terorisme" padahal bisnis Halliburton dikendalikan Dick Cheney wapresnya George Bush

Begitu juga penggulingan Muamar Khadafi di Libya yg dipicu oleh Khadafi batalkan kontrak minyak dengan BP British Petroleum & ingin berikan konsesi kepada Tiongkok

Sama halnya dengan perang Suriah yg merupakan ambisi koalisi Barat Amerika, Saudi, dkk gulingkan rezim Assad sekutu dari blok Timur Rusia, Tiongkok dan Iran, dibungkus cerita perang "sunni vs syiah" agar keledai2 dungu mau berbondong bondong mengantar nyawa ke Suriah DIBOHONGI tipuan "jihad"

Tidak ada konflik di dunia ini tanpa kepentingan ekonomi di belakangnya sahabat.. tapi sayangnya memang butuh kecerdasan ekstra untuk mencerna informasi seperi ini

dan sayangnya Tuhan seperti cinta pada orang dungu.. karena Ia menciptakan mereka begitu banyak di dunia ini yang mudah dibohongi oleh propaganda dikit2 ini urusan agama, dikit2 itu urusan agama

Saya mengutuk tragedi kemanusiaan di Myanmar, mengutuk militer Myanmar yang menggoreng ini jadi "isu agama"

#BoikotHamishDaud

ROHINGYA : AGENDA SURIAH JILID II ?

Ada indikasi konflik Rohingya ini sebenarnya adalah konflik perebutan sumber daya alam dengan memanfaatkan isu SARA sebagaimana yang juga terjadi di Suriah. Jika di Suriah konflik ditengarai bermula saat Presiden Bashar Assad menolak proyek pompa gas menuju Qatar, Arab Saudi, Yordania dan Turki yang dapat disedot oleh Eropa secara langsung. Amerika berkepentingan untuk menjatuhkan Suriah yang pro Iran dan pro Rusia serta menguasai sumber daya minyaknya.

Amerika juga berkepentingan untuk melemahkan Suriah yang konsisten menjadi ancaman bagi sekutunya yaitu Israel di kawasan Teluk. Bersama sekutunya seperti Arab Saudi dan negara-negara lain serta melalui berbagai media mainstream internasional mereka melancarkan propaganda dan penyesatan opini publik yang mengaitkan isu ini sebagai perang sektarian antara Sunni dan Syiah. Jaringan Wahabi Internasionalpun mengekspos kasus ini sehingga berdatanganlah para jihadis dan radikalis Islam dari seluruh dunia untuk terlibat dalam konflik ini. Adapun negara-negara yang terlibat dalam perang Suriah ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Turki, Arab Saudi, Qatar, Rusia dan Iran.

Nah di Rohingya ini agenda yang sama sepertinya juga berusaha diterapkan untuk menguasai sumber daya alam minyak dan gas yang terletak wilayah Arakan - Rakhine yang di huni mayoritas etnis Rohingya. Dengan memanfaatkan isu SARA, etnis Rohingya berusaha diusir atau bahkan dilenyapkan dari wilayah tersebut agar sumber daya alamnya bisa dikuasai oleh Junta Militer Myanmar yang dipimpin oleh Jendral senior Min Aung Hlaing. Dengan menghembuskan isu SARA melalui tokoh agama ekstrimis dan radikal yaitu Ashin Wirathu maka dimulailah pengusiran dan penindasan kepada etnis muslim Rohingya.

Berikut ini adalah copas data dari Dr. Mahmud Syaltout, Wakil Sekjen GP Ansor :

1). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9 % CNPC (China), 25,04% Daewoo International (Korea), 8,35% ONGC (India), 7,37% MOGE (Myanmar), 4,17% GAIL (India) dan 4,17% investor-investor swasta lainnya;

2). Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51% Daewoo International (Korea), 17% ONGC (India), 15% MOGE (Myanmar), 8,5% GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea);

3). Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia). Kemudian, Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi. Wilayah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru, dan beberapa blok lainnya jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini; dan

4). Blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand). Kemudian, MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi, di mana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini.

Yang patut diwaspadai adalah jangan sampai apa yang terjadi di Suriah dan Myanmar juga terjadi di negeri ini. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam tentunya akan menarik banyak negara Adi Daya untuk turut bisa menikmati dan menguasainya. Dan dengan memanfaatkan kebodohan massa dan sentimen agama maka strategi adu domba pun bisa dilaksanakan untuk memecah belah negeri ini. Melalui mulut para provokator dan tokoh agama radikal maka akan sangat mudah untuk bisa menerapkan agenda ini.....

Salam Waras

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1657277217617325&id=100000051895419

KISAH MASYARAKAT UNIK SAMIN

Komunitas orang-orang Samin atau biasa disebut Kaum Samin menggenggam tata nilai dan cara berpikir khas yang kerap dianggap aneh oleh khalayak luas. Dalam interaksinya, orang Samin atau Wong Samin kerap membuat lawan bicaranya kaget atau sejenak bingung.

Orang-orang Samin banyak ditemui di Jawa Tengah, persisnya di daerah-daerah Blora, Pati, Rembang, Purwodadi, dan sekitarnya. Kisah berinteraksi atau berdialog dengan orang Samin kerap jadi pembicaraan orang.

Dewi, karyawan swasta, tak bisa melupakan potongan-potongan dialognya dengan orang Samin. Hingga kini dia mengaku masih takjub dengan jawaban-jawaban 'ajaib' ala Samin, saat penelitian tentang Kaum Samin pada 2014.

Saat itu alumnus Institut Pertanian Bogor itu melakukan penelitian tentang penolakan komunitas Samin atas rencana proyek semen. Jawaban-jawaban dari wawancara sempat membuatnya pusing.

Percakapan menyangkut usia misalnya.

"Berapa umurmu?" tanya Dewi kepada salah satu narasumbernya yang Wong Samin,

Jawabannya membuat Dewi tertegun. "Umurku hanya satu, dipakai selamanya," kata si Samin dengan mimik serius.

Ada lagi soal anak. "Anaknya berapa?" tanya Dewi kepada seorang pria Samin. Jawabannya tak kalah mengejutkan. "Aku ora nduwe anak, nduweku turun. Sing manak bojoku (Aku tidak punya anak, hanya punya keturunan. Yang punya anak istriku yang beranak)."

Dewi pun sempat diprotes atas istilah 'demonstrasi' yang digunakannya saat menggali-gali data soal penolakan proyek semen. Istilah "demonstrasi" ternyata tidak sesuai dengan kamus hidup Kaum Samin. Lantas, istilah apa yang benar?

"Bagi Samin yang benar adalah unjuk rasa karena hakikatnya itu aksi mengunjukkan rasanya, bukan demonstrasi," ujar Dewi yang selanjutnya tak berani lagi menggunakan istilah "demonstrasi".

Rina, warga Yogyakarta, juga mencatat perilaku unik orang Samin. Satu saat dia naik bus rute Yogyakarta-Solo, kondisinya penuh penumpang.

Saat bus sudah relatif kosong, penumpang bisa duduk. Namun, ada dua penumpang yang tetap berdiri meski sudah banyak kursi kosong.

Keduanya menolak keras imbauan untuk duduk. "Tadi naik bus berdiri, kok mau duduk. Berdiri ya berdiri," katanya.

Mencegah debat kusir yang tidak perlu, kernet memberi kode bahwa dua penumpang itu orang Samin, dengan pola pikir dan perilaku yang khas. Para penumpang lain pun jadi mafhum dan tak lagi memaksa mereka duduk.

Beberapa tahun terakhir nama Kaum Samin mencuat sebagai kelompok yang militan penentang rencana pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Mereka menilai proyek itu akan merusak alam.

Sumber : Liputan6.com

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213583538963481&id=1253103433

HITLER OF MYANMAR, PENJAHAT KEMANUSIAAN ABAD 21

Ternyata selain biksu koplak dan provokator Ashin Wirathu serta penerima Nobel Perdamaian kelas abal-abal Aung San Suu Kyi,yang diam seribu bahasa menyaksikan pembantaian massal di depan mata, masih ada satu lagi penjahat kemanusiaan yang menjadi otak genosida / pemusnahan etnis Rohingya. Dialah Min Aung Hlaing, jendral senior sekaligus Komandan Junta Militer Myanmar. Setelah Abu Bakar Al Baghdadi pemimpin ISIS dialah orang kedua yang layak disebut iblis penjahat kemanusiaan abad 21 ini. Berikut ini adalah artikelnya yang saya copas dari kumparan.com

Min Aung Hlaing, Jenderal di Balik Pembantaian Rohingya
Hanya satu orang yang dapat memerintahkan tentara untuk berhenti membunuhi orang-orang Rohingya dan membakari desa-desa mereka: Jenderal Senior Min Aung Hlaing, Komandan Militer Myanmar. Masalahnya, jenderal nomor satu Myanmar itu tak mengakui keberadaan Rohingya. Baginya, Rohingya adalah imigran ilegal. Dan demikianlah status Rohingya di Myanmar: orang-orang buangan tanpa kewarganegaraan, pun meski telah tinggal turun-temurun di negeri itu.

“Jenderal Min Aung Hlaing adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Rohingya. Aung San Suu Kyi mungkin ‘monster’, tapi tak ada apa-apanya dibanding dia,” kata Kyaw Win, Direktur Burma Human Rights Network, dalam percakapan dengan kumparan, Kamis (31/8). Secara de facto, Suu Kyi memang pemimpin Myanmar. Meski Undang-Undang Myanmar tak memperbolehkan dia menjabat sebagai presiden karena suaminya berkewarganegaraan asing--Inggris, ia memegang sederet posisi strategis: Menteri Luar Negeri, Menteri Kantor Presiden, Menteri Tenaga Listrik dan Energi, serta Menteri Pendidikan.

Suu Kyi ialah Penasihat Negara Myanmar, yang sesungguhnya mengendalikan presiden negeri itu, Htin Kyaw--yang naik ke tampuk pimpinan atas restu dia dan partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy; NLD) yang memenangi pemilu.Namun dengan berbagai jabatan “mentereng” itu, bukan berarti Suu Kyi bisa menggenggam seisi negeri, sebab parlemen dikuasai oleh militer, di bawah Komandan Militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing. Kamis kemarin, (31/8), pegiat kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk memfokuskan tekanan pada sang Jenderal--sosok di balik pembantaian Rohingya.

“Hanya dia yang dapat menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Rohingya, dan sejak tentaranya memulai serangan baru akhir bulan ini, ia bahkan tidak menghadapi kritik atau tekanan langsung dari komunitas internasional,” kata Mark Farmaner, Direktur Burma Campaign Inggris, seperti dilansir situs resmi lembaganya, Burma Campaign UK. Farmaner tak berlebihan. Militer Myanmar yang mengawali operasi perburuan militan Rohingya sebagai respons atas penyerangan kelompok pemberontak ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army)--yang disebut pemerintah Myanmar teroris--terhadap 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer di Rakhine, negara bagian Myanmar yang menjadi tempat tinggal Rohingya, nyatanya menarget rakyat sipil Rohingya tak pandang bulu.

Lelaki-perempuan, tua-muda, sepuh-bayi, semua jadi korban kebrutalan tentara Myanmar. Mereka ditembaki tanpa ampun, menjadikan operasi perburuan pemberontak menjelma genosida--pembunuhan besar-besaran secara terencana terhadap suatu bangsa atau ras. Meski jumlah korban sulit diperkirakan akibat penutupan akses media dan pengawas internasional menuju Rakhine, namun berdasarkan data berbagai sumber terpercaya yang dikumpulkan dari lapangan, Burma Campaign UK meyakini korban tewas mencapai ratusan orang, bahkan mungkin seribu lebih.

Sementara lebih dari 10.000 rumah ditaksir telah hancur bahkan rata dengan tanah. Kini, laporan-laporan baru yang masuk juga mulai menyebut munculnya aksi pemerkosaan, penyiksaan, dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia lainnya. Serangan militer Myanmar terhadap Rohingya kali ini dinilai serupa dengan yang pernah mereka lakukan pada Oktober 2016, namun dengan skala lebih besar dan koordinasi lebih terpadu untuk menghancurkan semua struktur masyarakat Rohingya.

Aksi militer Myanmar pada Oktober 2016 itu mengusik Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang kemudian menyimpulkan kejahatan terhadap kemanusiaan telah berpotensi terjadi, sehingga Dewan HAM PBB membentuk Misi Pencari Fakta untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di Rakhine, juga Shan dan Kachin di mana militer juga menjadikan etnis sipil sebagai target. Setelah Misi Pencari Fakta PBB melakukan penyelidikan, sebuah laporan PBB awal tahun ini membeberkan rinci pelanggaran HAM oleh balatentara Jenderal Min Aung Hlaing terhadap Rohingya.

Pelanggaran-pelanggaran itu antara lain: tentara Min Aung Hlaing memberi stempel pada bayi saat bayi itu baru lahir, membunuh bayi yang menangis karena haus ketika mereka memerkosa ibu si bayi, dan menembak anak-anak dari belakang saat bocah-bocah itu lari dari desa mereka yang terbakar. Tak pelak, Jenderal Min Aung Hlaing dianggap sebagai hambatan terbesar bagi Myanmar. Mimpi memperbaiki HAM, melakukan reformasi demokratis, dan mewujudkan kedamaian, seolah terbang terbawa angin.

“Revolusi demokrasi Myanmar gagal total. Kini kami malah memiliki ‘Neo-Nazisme’,” kata Kyaw Win. Pegawai negeri di bawah kendali Min Aung Hlaing, menurut Farmaner dalam tulisannya di Hufftington Post, menjegal reformasi dan kebijakan buatan pemerintah (baca: Suu Kyi). Sang jenderal pula yang menyandera dana kesehatan dan pendidikan negara dengan berkeras memperoleh alokasi anggaran besar untuk militer. Maka, modernisasi negeri, peningkatan pendidikan bagi rakyat, dan pelayanan kesehatan layak, masih mimpi belaka bagi Myanmar.

Bukan itu saja, Min Aung Hlaing juga mengancam keseluruhan proses perdamaian dengan menekankan pada sikap garis keras yang tak dapat diterima oleh banyak organisasi etnis. Namun, entah bagaimana, ia kerap lolos dari sorotan internasional dan kritik langsung dunia. Pada krisis Rohingya tahun lalu, juga tahun ini tentunya, adalah Suu Kyi yang paling banyak disorot dan dicaci, bukan Jenderal Min Aung Hlaing yang punya tongkat komando atas tentaranya yang kalap membasmi Rohingya.#

#SaveRohingya

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1656675174344196&id=100000051895419

Sabtu, 02 September 2017

SKANDAL SARACEN BISA MENGUBAH SEJARAH

By : Herry Tjahjono, rakyat NKRI.

Skandal Watergate yang menggemparkan dunia itu terjadi pada tahun 1972-1974.  Sebuah skandal politik di Amerika Serikat yang mengakibatkan pengunduran diri Presiden Richard Nixon dan mengakibatkan krisis konstitusi yang menghebohkan pada tahun 1970-an.

Peristiwa tersebut dimulai dengan penangkapan lima laki-laki yang berusaha membobol masuk ke kompleks perkantoran Komite Nasional Demokrat untuk memasang alat penyadap. Insiden yang terjadi pada masa kampanye tersebut, setelah diselidiki dan ternyata dilakukan oleh kelompok pendukung Nixon, Komite untuk Pemilihan Kembali Presiden.
......................................
Singkat kisah,  Mahkamah Agung akhirnya memerintahkan presiden Nixon untuk menyerahkan semua rekaman penyadapan. Setelah itu, komite yang dibentuk oleh kongres mengeluarkan impeachment atau tuntutan untuk berhenti terhadap presiden.

Ujungnya menyedihkan, pada 8 Agustus 1974 Presiden Nixon akhirnya mengundurkan diri.

Pesannya adalah soal cacat moral dan cacat hukum pada sebuah kepemimpinan. Dalam skala, versi dan nuansa yang tentunya berbeda - pesan kisah itu mengingatkan saya pada 'skandal Saracen'. Saya lebih suka menyebut Saracen sebagai  'skandal' daripada kasus, sebab skandal mengandung implikasi sebuah tali-temali, saling kait, konspirasi, yang tidak berdiri sendiri.

Jika, ya, jika skandal Saracen ini diungkap habis oleh polisi dan ternyata benar membuka tabir konspirasi jahat yang menyebabkan seorang manusia baik dan gubernur terbaik bernama Ahok jadi terjungkal dan masuk penjara - maka 'hati' Jakarta boleh bergetar kembali.

Jika, ya, jika skandal Saracen ini menghasilkan kesimpulan bahwa ada ' cacat moral dan cacat hukum'  - maka kepemimpinan yang terpilih  harus mundur (siapapun dan di manapun) - itupun kalau masih punya malu. Tapi kalaupun tidak - maka kepemimpinan itu bisa dianulir.

Sebuah puncak kebodohan massal jika kita membiarkan kepemimpinan yang cacat moral dan cacat hukum memimpin kita.

Pada saat itu mungkin ibu pertiwi akan membuka tangannya dan memeluk anaknya kembali, lelaki yang secara luarbiasa menempatkan keutuhan bangsanya di atas dirinya. Lelaki yang menahan semua kesakitan dirinya demi senyum kota yang dicintainya.

Semoga. Kebenaran punya jalannya sendiri. Ingatlah, semua 'jika' yang saya sebutkan di atas bisa saja menjadi kepastian - yaitu tatkala skandal Saracen terbuka telanjang.

Pada saat itulah bangsa ini akan belajar : manusia yang baik, pemimpin yang melayani rakyatnya dengan air mata dan mewakafkan dirinya demi bangsa - adalah berlian kehidupan yang semestinya dijaga dengan baik.

Pada saat itulah bahkan Presiden Jokowi akan tersenyum dan berbisik lirih pada sahabatnya yang setia : ' kesetiaan akan berbuah pada waktunya.'

DIBALIK ROHINGYA

Krisis di Rohingya itu mirip-mirip DOM atau Daerah Operasi Militer dulu di Papua dan Aceh saat Orde Baru..

Penindasan yang dilakukan rezim Myanmar terhadap warga Rohingya yang mereka juluki Bengala - karena asalnya dari Bangladesh - memicu kemarahan dari para pemuda yang melawan.

Mereka akhirnya juga membunuhi para polisi, tentara dan warga yang pro pada rezim. Dan serangan mereka dibalas..

Jika disana ada faktor "agama", tidak lebih dari karena mayoritas yang pro rezim beragama Budha dan warga Rohingya beragama muslim. Jadi faktor utamanya bukan karena permusuhan antar umat beragama..

Dipeliharanya konsep "perang agama" untuk melancarkan pertikaian disana. Dibalik semuanya ada faktor penguasaan wilayah yang kaya akan sda.

Jadi ga usah sangkut pautkan dengan umat agama Budha di Indonesia ya. Konflik mereka bukan konflik kita. Kutuklah atas rasa kemanusiaan, bukan karena agama seseorang.

Ngarti ora, son ? Seruput dulu ah..